Perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat paling menyiksa saat memasuki wilayah Myanmar. Selain medanya berat, berupa jalan bebatuan dan makadam. Busnya non AC. Juga penuh sesak. Selain bus berukuran kecil sejenis Kopaja di Jakarta, penumpang dicampur barang. Bayangkan perjalanan belasan jam kaki harus ditekuk, tak bisa diselonjorkan. Dan, itu berlangsung 21 jam. Sungguh melelahkan.

Saat itu, Kamis 1 September 2011, penulis didampingi Aung Soe Moe, staf lokal KBRI Yangon yang bisa berbahasa Indonesia, menuju Termimal Bus Aung Minggala, sekitar 35 Km dari Yangon.

Tujuannya Tamu, kota kecil di Myanmar yang perbatasan dengan India. Pilihannya dari Yangon ke Kota Mandalay lebih dulu berjarak 300 miles dari Yangon , atau Monywa. Dari sana ganti bus lebih kecil menuju Tamu. Akhirnya kami memilih Kota Monywa. Alasannya, lebih dekat Tamu. Atau tiga jam lebih dekat Tamu jika harus ditempuh dari Mandalay.

Pukul 16.00 bus bergerak meninggalkan Aung Minggala. Meski ada jalan tol high way Yangon-Mandalay sejauh 300 miles, bus tidak langsung masuk high way karena mengambil penumpang di agen bus di termimal kota-kota kecil yang dilalui. Hlay Gu, Bago, dan Phayagi.

Sepeda motor yang dilarang di Yangon baru dijumpai di Phayagyi. Dari kota ini bus masuk ke high way, jalan bebas hambatan dua jalur resmi dioperasikan 2010 silam.

Jalannya mulus dari cor beton. Dibagi dua jalur. Masing-masing jalur terdiri dua lajur dan satu median jalan darurat. Meski ada tanda tertulis kecepatan max 100 Km/jam, saya lihat sopir melajukan bus di atas 120 Km/jam. Apalagi, kendaraan yang melintas di high way jarang. Kadang sepuluh menit baru berpapasan mobil di jalur sebelah.

Saya membayangkan betapa sulitnya saat mobil mogok di high way. Sebab, kiri kanan jalan masih hutan, semak belukar. Jauh dari permukiman. Kalau pun harus ke kota terdekat jaraknya juga jauh.

Selama perjalanan melintasi high way ada beberapa kendaraan mogok. Pemiliknya, paling bisa telepon montir, atau sanak saudaranya kalau tak bisa memperbaiki mobil. Tak ada bus atau kendaraan lain menolong. ‘’Kalau sudah begitu hanya bisa pasrah. Mungkin telepon saudara atau kenalan diajak menunggu kendaraan mogok sambil menungu diperbaiki,’’ ujar kondektur bus yang saya tumpangi.

Rest area high way berada di 115 miles. Suasana sangat ramai. Sebab, semua bus, kendaraan pribadi , truk tumplek blek di rest area.

Banyak restoran dengan menu bervariasi. Ada lokal dan internasional. Penumpang tinggal pilih. Banyak penumpang memanfaatkan buang air kecil atau mandi.

Hanya 30 menit bus kembali melaju. Beberapa kali keluar high way mengambil penumpang di kota kecil di dekatnya. Kota sangat sunyi karena tidak ada listrik. Penerangan ala kadarnya jika di hotel, rumah makan, maupun agen bus. Itu pun pakai jenset. Bukan aliran listrik umum.

Beberapa kilometer menjelang Kota Mandalay, bus berbelok arah Amarapura lalu Sagaing, dan berakhir di Monywa pukul 05.30 waktu setempat. Molor setengah jam dari perkiraan karena ban bus meletus saat di high way. Lama perjalanan 13,5 jam.

Rute Maut
Ada beberapa alternatif menuju Tamu, kota perbatasan Myanmar dekat India dari Terminal Monywa. Ada speed boat, tapi sudah berangkat pukul 04.00 sebelum bus yang kami tumpangi sampai di Monywa.

Setelah tanya sana sini akhirnya kami memilih naik bus dari Monywa ke Tamu. Tapi, kata Aung Soe Moe, bus tidak ada AC-nya. Dari Monywa ke Tamu medannya bergunung-gunung dan jalannya rusak parah.

Bus berangkat dari Monywa Jumat (2 September 2011) pukul 16.00. Ada waktu beberapa jam istirahat sebelum bus berangkat. Kami pilih istirahat di lantai dua agen travel bus yang kami tumpangi dari Yangon. Fasilitas seadanya, hanya ada tikar tipis dan kipas angin kecil. Sebab, fasilitas hotel di sini juga seadanya.
Paling penting kami bisa dapatkan banyak informasi dari awak bus. Salah satunya, dari Yetu, kondektur merangkap sopir cadangan bus yang kami tumpangi dari Yangon.

Monywa kota kecil, layaknya kota kecamatan di Indonesia. Pusat kotanya berupa deretan toko. Ada beberapa bank kecil, hotel kelas melati, dan pagodha. Juga bersliweran para biksu. Yang membuat hidup Monywa karena kota ini strategis jadi lintasan bus kota antarkota antarprovinsi.

Hingga pukul 14.00 bus jurusan Tamu belum ada di termimal, meski tiketnya sudah dibayar. Belakangan diketahui bus jurusan Mandalay-Tamu yang transit di Monywa rusak, alias tidak jalan.

Ditemani Yetu dan agen travel lain, Aung Soe Moe mendatangi travel dan minta diberangkatkan bus lain ke Tamu hari itu juga. Tapi, pemilik travel tidak janji ada bangku kosong. Sebab, bus sudah dipesan anak-anak Kalay University yang hari itu akan meninggalkan Monywa, setelah mengikuti petandingan sepak bola.
Setelah negosiasi alot, kami diberi dua bangku paling belakang. ‘’Tidak bisa memilih. Yang penting bisa berangkat hari ini juga,’’ kata Aung Soe Moe. Saya sempat deg-degan andai tak bisa berangkat. Sebab, waktu akan terbuang di Monywa.

Itu pun bus tidak ke Tamu. Hanya sampai Kalay karena rute bus habis sampai di situ. Dari Kalay ke Tamu masih 81 miles atau masih empat jam lagi perjalanan. Daripada tidak berangkat kami iyakan saja. ‘’Nanti kita cari angkutan ke Tamu sesampainya di sana ,’’ kata Aung Soe Moe.

Busnya kalau di Jakarta sejenis Kopaja atau Metromini. Tidak ada AC-nya. Bayangkan belasan jam bertahan di bus tanpa AC dengan tumpukan barang penuh. Tidak ada pilihan, mau tidak mau ya harus berangkat.

Kondisi bus memprihatinkan. Body banyak diisolasi karena cat mengelupas atau berlubang. Saya sempat waswas. Apakah bus tidak mogok dengan rute berat pegunungan. ‘’Tidak Pak. Kondisi bus di sini ya seperti itu. Tapi, ini sudah biasa melewati rute itu,’’ kata Aung Soe Moe mencoba menghibur.

Kondektur dan kernet memasukan muatan dalam bus. Tiga bangku belakang dipreteli, disulap jadi tempat barang. Puluhan karung berisi barang ditumpuk hingga menyundul atap bus.

Karena barang masih banyak, karung-karung berisi barang seperti daun sirih ditumpuk di gang-gang bus. Jadi lah jalan penumpang berisi tumpukan karung.
Pukul 16.30 penumpang masuk. Saya dan Aung Soe Moe duduk di belakang dekat tumpukan barang. Alamak! Baunya campur baur antara cabai, bawang merah, daun sirih, dan bumbu lainnya.

Karena tak juga berangkat saya keluar bus karena kegerahan. Meski kaca bus dibuka, hawa bus tetap panas. Juga Aung Soe Moe. Baru setelah mau berangkat, saya masuk bus lagi.

Karena banyak barang, kaki tidak bisa berselonjor. Dengan penuh peluh, para kernet dan kondektur ikut masuk bus bersiap berangkat. Jadilah seisi bus baunya warna-warni. Ada bau keringat, cabai, dan barang lainnya.
Pukul 17.00 dua bus mulai melaju pelan meninggalkan terminal menuju sebuah asrama di tengah kota. Di sanalah para mahasiswa Kalay University yang baru melakukan pertadingan sepak bola bersiap pulang menumpang bus yang penuh barang.

Ada puluhan mahasiswa. Mereka dibagi beberapa bus. Sebagian mahasiswi bergabung bus kami. Alamak! Barang bawaan tak kalah banyaknya. Selain pakaian bertas-tas, oleh-oleh, juga panci, kompor, dan ember ukuran jumbo. Selama try out mereka masak sendiri. Jadilah bus yang sudah sesak kian sesak dengan barang.

Kondektur dan mahasiswa pria mengatur barang bawaan mahasiswa. Bangku disingkap. Panci, ember ukuran jumbo dan tas bawaan para mahasiswa ditaruh bawah jok penumpang. Selebihnya yang tidak muat dijejal-jejalkan. Yang penting bisa terangkut. Rasanya jadi campur nggak karuan. Tapi, tidak ada pilihan kalau mau berangkat secepatnya ke Tamu ya harus ikut.(yog/bersambung)