Tidak enaknya masuk antarnegara lewat perbatasan darat, umumnya hanya mendapat visa dengan masa berlaku 15 hari. Kalau terbang lewat udara atau visa on arrival rata rata dapat 30 hari. Bagaimana jika masa berlaku visa habis sementara urusan di negara itu belum kelar. Kalau di Thailand bisa mengurus visa kabur. Kok visa kabur?

Mengurus visa beberapa negara Myanmar, Bangladesh, India, dan Pakistan di Bangkok hampir secara bersamaan tak hanya membuat penulis pontang panting. Juga menguras tenaga dan pikiran. Tak terasa tahu-tahu sudah hampir dua minggu tinggal di Bangkok. Tahu-tahu masa berlakunya visa Thailand yang hanya 15 hari hampir habis.

Guna memperpanjang masa berlaku visa Thailand, penulis harus keluar dari negara itu. Baru masuk lagi ke Thailand untuk mendapat visa baru. Pilihannya, bisa menyeberang ke Laos, Malaysia, Kamboja, atau balik Indonesia. Baru masuk ke Thailand lagi.

Balik ke Indonesia selain jauh, biayanya tentu lebih mahal. Pilihannya ke Malaysia, Laos atau Kamboja. Setelah tanya sana sini, pilihan menyeberang ke Kamboja paling dekat. Dari kota Bangkok ke perbatasan Kamboja hanya berjarak 200 kilometer, atau sekitar 4 jam perjalanan naik bus. Ke Malaysia di perbatasan Hat Yai naik bus bisa 24 jam. Ke Laos naik bus dari Bangkok sekitar sembilan jam.

Akhirnya Kamboja menjadi pilihan utama memperpanjang masa berlaku visa Thailand agar tidak kedaluwarsa. Sebab, jaraknya paling dekat dengan Bangkok.
Nah, ini enaknya di Bangkok. Semua masalah bisa diatasi di Khao San Road, surganya turis back packer di Bangkok. Semua kebutuhan turis berkantong pas-pasan tersedia di sini. Termasuk akomodasi ke Kamboja.

Juga banyak travel di Khao San Road menyediakan jasa perpanjangan visa. Tapi, harus booking sehari sebelumnya. Biaya transpornya sekitar 650 bath per orang ke perbatasan Kamboja. Sedangkan biaya pengurusan visa dan seterusnya nanti diurus agen di perbatasan. Pemohon hanya mengikuti petunjuk ini itu.
Penulis dan Mohamad Ali, fotografer JP hari itu melakukan perpanjangan visa dengan menyeberang ke Kamboja. Sebab, visa Thailand habis 27 Agustus 2011. Sedangkan visa India belum bisa dipastikan kelar. Baru malam 25 Agustus 2011 positif kelar.

Karena itu kami berdua mengantisipasinya memperpanjang visa Thailand biar aman. Sebab, kami khawatir kalau masuk perbatasan Myanmar butuh waktu lebih dua hari. Sedangkan visa habis tanggal 27 Agsutus 2011. Terlalu mepet. Makanya, visa diperpanjang biar aman. Kalau kedaluwarsa akan didenda, kena blacklist atau bisa dideportasi.

Pagi pukul 06.00 kami berdua sudah standby di kantor travel di Khao San Road, meski mini bus yang membawa ke Kamboja rencananya baru tiba pukul 07.45. Tak lama datang empat turis remaja dari Belgia. Dan satu dari China. Mereka akan ke pasar terapung di Damnoen Saduak, sekitar 3 jam perjalanan dari Bangkok. Tapi, karena tidak ada petugas di travel, mereka sedikit panik. Takut tidak dijemput.

Turis tadi pun tanya ke sana ke mari di kantor tetangga travel yang kami tongkrongi. Tapi, karena tidak ada yang tahu mereka pasrah. Sekitar pukul 07.30 datang petugas travel. ‘’Ke pasar terapung ikut saya,’’ ujar petugas tadi sambil mengecek kitir atau bon pembayaran turis Belgia tadi.

Tak lama datang empat turis Jepang. Juga masih remaja. Mereka akan ke Kamboja. Sekitar pukul 08.00 baru petugas travel datang. ‘’Pergi ke Kamboja ikuti saya,’’ kata petugas tadi sambil mengecek kitir-kitir.

Saat menuju mobil yang akan membawa ke Kamboja, berjarak satu kilometer dari kantor itu, ikut bergabung empat turis Jepang lainnya. Sampai di agen besar baru para turis disatukan dalam mobil mini bus sesuai tujuan dan keperluannya.

Kami semula ditempatkan di bus yang umumnya berisi para bule. Tapi, setelah naik diturunkan lagi. Ternyata salah masuk bus. Lalu ada turis bule masuk bus tadi.

Kami berdua satu kendaraan dengan turis Jepang yang masih remaja tadi. Satu mini bus diisi 13 penumpang plus barang bawaan cukup banyak.

Belakangan saya tahu, agen atau travel di sekitar kawasan Khao San Road hanya menerima order atau pesanan. Ke mana pun turis berpergian akan dilayani.

Setelah bayar sesuai tempat wisata yang dituju, turis hanya diberi kitir semacam bukti pembayaran. Si agen tinggal melaporkan ke pengepul travel.

Esoknya, saat jam ditentukan turis diminta stanby di kantor agen di mana dia membeli tiket tapi hanya diberi kitir. Di sini tidak ada petugas travel. Nanti ada utusan pengepul travel lalu mengajak turis ke kantor travel besar. Di sana sudah standby kendaraan mini bus untuk diberangkatkan bersama turis dengan tujuan sama.

Sekitar pukul 08.30 mini bus mulai merayap di tengah kemacetan Bangkok. Bus baru bisa kencang setelah masuk tol dalam kota. Jalan menuju Distrik

Aranyapratet, Thailand, yang berbatasan dengan Kamboja mulus dan lebar. Di kiri kanan jalan hanya berupa persawahan.

Kalau jalanan lagi sepi mini bus bisa tancap gas sampai 120 km per jam. Sekitar pukul 12.30 atau empat perjalanan mini bus sampai di kota kecil perbatasan Aranyepratet. Tapi, bus tidak langsung masuk border atau perbatasan.

Tapi mampir ke warung sederhana. Ternyata warung itu merangkap kantor agen yang mengurus visa. Ada tiga orang agen. Dua laki-laki dan satu perempuan.

Layaknya di kantor kedubes, para agen ini langsung mengeluarkan form pengisian formulir pengajuan visa. Setelah dimintai foto dan mengisi form, petugas tadi menyodorkan biaya tarifnya.

Dua orang untuk pengurusan visa 2.400 bath, biaya stempel 700 bath. Total 3.100 bath. Beres. Ternyata tidak. ‘’Fee..fee,’’ kata petugas setengah berbisik. Ali pun menyodori 100 bath. ‘’Thank you,’’ ujarnya seraya menundukkan badannya.
Petugas perempuan travel bernama Kim Sophary Sim kembali mengecek form yang sudah diisi rekannya tadi. Kim senior mereka. Kim tampak uring-uringan karena form pengisian belum lengkap. Setelah pengisian form pengajuan visa tuntas. Dalam artian sebenarnya.

Saat ditanya penulis, sesama anggota ASEAN, warga Indonesia yang akan Kamboja kan bebas visa? Kim mengatakan, kalau Anda naik pesawat ya begitu mendarat langsung dapat visa on arrival. Tapi kalau lewat perbatasan darat tetap menggunakan visa. ‘’Ini negara saya. Ini aturan negara saya. Warga negara lain yang akan masuk negara saya ya pakai visa,’’ ujar Kim dengan nada tidak senang.

Kalau kemudian kami serta dua turis Jepang yang belum memiliki visa Kamboja dibawa Kim ke pintu masuk perbatasan hanya sekadar formalitas belaka. Masuk imigrasi Kamboja, hanya beberapa menit. Lalu berputar keluar Kamboja lewat pintu imigrasi di sebelahnya. Hanya hitungan menit paspor didok imigrasi. Ada stempel dan tulisan tanggal keluar Kamboja.

Wah, benar-benar fantastis. Urusan visa di sebagaian belahan negara lain menjadi urusan penting, sangat resmi, jlimet. Bahkan di negara tertentu super sangat selektif. Tapi, di negara Kamboja bisa dituntaskan di warung. Ya…cukup di warung dan oleh orang travel atau swasta. Bukan oleh pegawai pemerintah Kamboja, aparat imigrasi. Anda bisa membayangkan bagaimana kualitas birokrasi negara macam Kamboja.

Kembali urusan visa. Kami berdua serta dua turis Jepang yang belum memiliki visa Kamboja dibawa Kim ke pintu masuk perbatasan. Dia begitu energik dan lincah. Dia tampak tak sabar kalau ada penumpang klemar-klemer. Tas penumpang pun diangkat. Brok, dimasukkan ke mobil. ”Go..go,’’ ujarnya. Sebelum sampai pintu perbatasan, mobil dibelokkan menuju Consulat General of the Kingdom Camboja, tak jauh dari perbatasan. ‘’Five minutes,’’ kata Kim lalu turun dari mobil. Ia setengah berlari menuju kantor itu.

Benar juga lima menit kemudian Kim sudah keluar kantor konsulat. Visa Kamboja pun sudah dikantongi. Cepat benar prosesnya. Belakangan saya tahu urusan visa dibawa ke Consulat General of the Kingdom Camboja sekadar formalitas belaka. Hanya urusan stempel. Sebab, urusan visa sesunguhnya sudah tuntas di warung tadi.

Kami oleh oleh Kim lalu diserahkan pada asistennya yang khusus di tempatkan mengurus visa di perbatasan. Namanya Ping Song Men. Orangnya sedikit pendek tapi sangat cekatan. Bahasa Inggrisnya cukup baik. ‘’Ikuti saya,’’ akunya.
Dia lalu mengecek form. Ternyata ada yang belum diisi. Setelah beres kami berdua diminta antre di petugas imigrasi Kamboja nomor empat. Tak sampai lima menit stempel visa masuk Kamboja pun beres. Malah dapat tiga bulan lagi.
Di ujung pintu masuk Ping sudah muncul. Dia lalu minta paspor kami berdua. Lalu, kami disuruh menunggu di tempat yang rindang. ‘’Ten minutes;’’ ujarnya serius. Setelah dapat stempel masuk Kamboja, giliran Ping yang mengurus stempel keluar Kamboja. Alamak! Hanya butuh 10 menit.

Suasana perbatasan Kamboja-Thailand mirip pasar sore. Sedikit agak kumuh. Ramai sekali. Selain banyak orang hilir mudik, juga banyak melintas truk di kedua negara.

Juga banyak kuli angkut membawa gerobak dengan sarat muatan dari Thailand ke Kamboja. Ada buah-buahan, pakaian dan bahan makanan. Mirip di pasar. Juga kumuh. Debu-debu beterbangan kalau ada kendaraan berat melintas.
Puluhan para agen atau calo visa banyak bersliweran di sini. Baik yang pakai keplek maupun yang tidak. Mereka umumnya para calo kepengurusan visa dan penyeberangan perbatasan dari warga Kamboja yang ingin masuk atau bekerja ke Thailand.

Tiba-tiba pandangan penulis tertuju pada puluhan gadis yang umumnya berparas menarik, berkulit kuning nongkrong di sebelah penulis yang juga menunggu visa mereka yang diurus agen.

Begitu sang agen membawa tumpukan paspor plus visa, para gadis tadi mengikuti agen bergegas, jalan cepat antre di imigrasi Thailand untuk segera masuk negeri Gajah Putih itu.

Belakangan penulis tahu para gadis Kamboja dan gadis negara tetangga Thailand seperti Myammar, dan Laos banyak mengisi dunia hiburan nan gemerlap di Thailand. Seperti diketahui, Thailand terkenal dengan industri pariwisata dan seksnya. Untuk menopang dunia hiburan dan bisnis esek-esek, para pengelola tempat hiburan banyak mendatangkan para gadis negara tetangga.

Salah satunya, ya para gadis dari Kamboja yang dikenal negara miskin. Salah satu impian para perempuan Kamboja mengubah nasib, ya merantau ke Thailand. Tak peduli harus bekerja di dunia hiburan.

Seorang diplomat KBRI di Myammar membisiki penulis, dulu para gadis Myanmar juga banyak mengisi dunia hiburan di Thailand. Tapi, di kemudian hari banyak masalah. Mulai upah tak dibayar, hak-haknya sebagai pekerja tak dipenuhi sampai dilakukan penyekapan segala. Akhirnya, Pemerintah Myanmar mengawasi ketat warganya yang bekerja di Thailand. Puncaknya, perbatasan kedua negara di Maesot ditutup karena Myanmar merasa lebih banyak dirugikan. Termasuk sebagai protes Myanmar karena pemerintah Thailand kerap melindungi para pemberontak Karen yang menyeberang ke perbatasan. Thailand berdalih mereka bukan pemberontak tapi pengungsi.

Kembali ke soal kepengurusan visa di perbatasan. Sepuluh menit lebih sedikit Ping sudah muncul dengan muka semringah. ‘‘Finish,’’ katanya. Paspor lalu diberikan. Giliran kami masuk dan antre di imgrasi Thailand untuk mendapat visa masuk. ‘’Antre di nomor empat,’’ pinta Ping. Setiap antre di petugas imigrasi Ping selalu memerintahkan nomor empat. Apakah sudah ada kerja sama sama dengan petugas tadi, saya enggan bertanya.

Yang memeriksa petugas perempuan. Ngeceknya sedikit lama dibandingkan sebelahnya yang pria. Beberapa orang juga tak diluluskan masuk ke Thailand.
Karena antre agak lama Ping mengintip di pintu keluar. Saya kasih kode tidak masalah. Masih antre. Giliran Ali maju beres dan saya juga beres. Dengan mengurus visa lewat agen tak lebih satu jam saja. Cukup singkat.

Ping pun tampak senang. Saat ditanya minta fee berapa, Ping mengatakan terserah. Saat diberi 100 bath, Ping tampak puas. Dia bahkan memberi kartu nama segala jika ada temannya butuh bantuan. Dia siap membatu. (laz/bersambung)