Yatim Piatu, Tak Pantang Menyerah Jalani Hidup

TAK ada yang menyangka gadis berparas manis ini akan menjadi yatim piatu. Meski begitu, Nazwa tak pantang menyerah untuk menyelesaikan sekolahnya. Dia pun bercita-cita menjadi seorang Pramugari.

Saat ditanya mengenai ibunya, Nazwa hanya bungkam tak mau menjawab sedikitpun. Bahkan untuk saat ini, dia tidak tahu harus berbuat apa. Namun demikian Nazwa kini menjadi tanggung jawab warga dusun Semali Gedhe, RT 24/RW 7, Jogja.

Ya, Nazwa kini seorang diri setelah ibunya, Marmilah, meninggal dunia akibat gagal ginjal pada awal Juni lalu. Sedangkan sang ayah, Edi Tewo, meninggal dunia enam tahun lalu.

Saat ini Nazwa tinggal bersama budhe-nya, Hartati, 62. Dijumpai Radar Jogja belum lama ini, Nazwa masih tampak sedih. Sosok sang ibu bagi Nazwa adalah sahabat untuk cerita. ”Dengan orang lain dia jarang cerita, bahkan sama saya. Anaknya pendiam. Yang paling dekat ya dengan ibunya,” ungkap Hartati.
Nazwa menuturkan, setelah kehilangan sang ibu, dia merasa syok dan kehilangan rasa percaya diri. Namun, berkat dukungan dari keluarga budhe-nya, dia dapat terus bersekolah. Hal inilah yang kemudian menjadi penyemangatnya.

”Berkat dukungan orang-orang di sekitar, saya harus mengejar impiannya menjadi seorang pramugari,” ujarnya.

Saat ini, Nazwa tinggal bersama tiga keluarga dalam satu rumah. Dulu, saat masih bersama ibunya, mereka mendapatkan penghasilan dari penyewaan lahan parkir di Jalan Kusumanegara. Namun saat ini lahan itu sudah dikelola oleh orang lain. Kini, Nazwa pun menjadi tanggung jawab warga di dusun tempat tinggalnya.

Menurut sang budhe, dirinya bersama kepala dusun dan warga RW 7 sepakat untuk bertanggung jawab pada masa depan Nazwa. Pihak RW 07 akan bertanggung jawab penuh pada kehidupan Nazwa dan tidak menutup kemungkin akan diangkat anak.

”Tapi jika persyaratannya bisa dipertanggungjawabkan, kami pihak keluarga besar mengizinkan Nazwa untuk diadopsi orang lain. Tetapi juga Nazwa sendiri yang berhak memutuskan hal itu,” tutup Hartati. (ila/fn)