Kisah HR Purwanto Tekuni Usaha Mebel, Tetap Tegar Diterpa Musibah.

Ibarat roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Begitulah pengalaman pendiri Jati Indah HR Purwanto MM.
Berikut pengalamannya membesarkan perusahaan dan bangkit dari keterpurukan.

HENDRI UTOMO,Kulonprogo

PADA 1997 Purwanto mengalami masa kejayaan. Jati Indah sebagai perusahaan furniture mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Kedua RI Soeharto. Purwanto dianggap mendukung pembangunan dalam bidang kemitraan.

“Upakarti saya terima karena dinilai mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Waktu itu saya memiliki 6.000 orang tenaga kerja, mitra kerja saya mencapai 60 perusahan tersebar dari Klaten, Batang, Jogja hingga Purwokerto,” kenang Purwanto.

Dia merintis usaha pada 1981. Pernah terpuruk, namun dia mampu bangkit menekuni usaha meubel berbahan kayu jati berkualitas tersebut.

“Sejak kecil saya senang berbisnis. Mulai jualan es lilin, tukang ojek hingga jualan nomor judi (waktu itu belum dilarang pemerintah),” kata bapak berputra 13 kelahiran Pedukuhan Papak, Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo.
Kali pertama merintis usaha bermodal uang hasil pinjaman teman. Dia mengambil produk meubel milik temannya di Jepara. Akhirnya mampu memproduksi meubel sendiri. Berburu pengalaman di Wonosobo, Purwanto memutuskan hijrah ke Purworejo untuk mengawali bisnis dengan menyewa rumah.

Sejak saat itu, lama-lama dipercaya bank dan mendapat bantuan Rp 3 juta. Perusahaan terus berkembang dan mampu membeli tanah, lalu ikut lelang proyek pengadaan meubel tingkat kabupaten.

Tidak hanya meubel, dia juga mencoba proyek rehabilitasi gendung. Beberap gedung yang pernah dia bangun SDN Pamrihan, Pituruh, Purworejo pada 1983. Kemudian SDN Pangen Gudang serta Kantor Dinas Peternakan Purworejo.
Purwanto pun mengembangkan sayap menggarap proyek di Wonosobo dan Batang. Total proyek yang dia garap sebanyak 40 kabupaten se-Jawa Tengah.
Perusahaannya berkibar, melayani kebutuhan meubel umum, perkantoran juga hotel. Aset perusahaan naik, kegiatan sosial rutin dilaksanakan, mulai dari mengumpulkan anak yatim piatu, memotong sapi setiap hari raya kurban, hingga meggelar pengajian rutin dengan hadiah umroh dan haji gratis.

“Waktu itu, yang datang pengajian ribuan, tidak hanya mengaji mereka juga tertarik mendapat hadiah umroh dan haji,” kata Purwanto.

Pada 1998 krisis moneter terjadi. “Seboyo mati seboyo mukti, semua karyawan saya anggap keluarga. Saat perusahaan lain melakukan pemutusan hubunga kerja (PHK), saya tidak. Padahal pendapatan nol rupiah, operasional membengkak,” kata Purwanto.

Sejak saat itu, banyak proyeknya bermasalah. Karyawan tetap digaji namun tidak kerja sesuai target. Sampai pada 1999 Purwanto mencoba memaksimalkan proyek.

Tender lelang di Jateng, Jatim dan Jabar dia diikuti. Berharap bisa mengembalikan modal usaha. Namun tidak sesuai target. Target puluhan miliar rupiah hanya terealisasi Rp 8 miliar.

Dia tetap mengandalkan perusahaan binaannya untuk pengadaan meubel sekolah-sekolah. Namun perusahaan binaannya banyak yang berkhianat. Proyek tidak jalan, akhirnya semua dikerjakan sendiri.

“Bahan bagus-bagus yang seharusnya masuk hitungan bisnis kelas atas, ikut masuk proyek sekolah, akhirnya perusahan collapse lagi,” katanya.

Lalu Purwanto membenahi bisnis dengan mengutamakan pelayanan, kualitas dan harga tidak mahal. Mengambil keuntungan sedikit.

Perusahannya, Jati Indah Purworejo yang sempat collapse tidak membuatnya merasa jatuh. Purwanto tidak pernah mundur dan berusaha maksimal.

“Meskipun harus jatuh bangun, saya tetap yakin tidak ada orang yang bisnisnya gagal. Adanya orang gagal karena mundur, menyerah dan tidak mau mengambil pelajaran,” kata Purwanto.

Bersama anak-anaknya, dia kembali membuka toko meubel dan relasi mitranya di Jalan Raya Wates-Purworejo Km 8, Asem Doyong, Demen, Temon Kulonprogo, mulai Desember 2017. Dia membuka pameran menyambut Idul Fitiri 29 Mei 2018 hingga 25 Juni 2018. (iwa/fn)