Hampir Pasrah Jika Musim Ini Tak Punya Klub

JOGJA – Malang-melintang bermain di berbagai klub sudah dilakoni Ismail Haris, 27. Dari klub kasta tertinggi hingga kasta kedua pernah dijajalnya. Kali ini perjalananya berlabuh di PSIM Jogja. Meskipun jauh dari daerah asalnya Sulawesi, namun ternyata banyak temannya yang berada di Kota Gudeg ini.
Sebut saja bek PSIM Fandy Edy yang pernah bersama di PSM Makassar serta gelandang Fachry Muslim yang juga berasal dari kota yang sama. Jika bergeser ke utara, ada Arie Sandy dan Ahmad Hisyam Tolle yang juga pernah bersama memperkuat PSM Makassar. Bahkan di awal puasa lalu, kapten PSS itu bertandang ke mess PSIM.

Ya, di tim barunya, Mail sapaanya, mengaku tak menemui kendala dalam proses adaptasi. Terbukti meski belum lama bergabung, dia sudah mendapat tempat utama dan juga mencetak gol pada laga debutnya. Sayang satu golnya gagal mengantar timnya meraih kemenangan lantaran kalah 1-3 dari Madura FC. Kepercayaan yang diberikan pelatih lalu ditebusnya ketika menyumbangkan satu gol untuk kemenangan 3-2 dari Persegres Gresik di pekan keempat.

Mail lahir di Sungguminasa, 27 Juni 1990, dari pasangan Abdul Haris dan Hasiah. Sedari kecil, dia memang sudah tertarik bermain sepak bola. Pemain yang bisa ditempatkan di posisi winger dan striker itu memulai karier di klub Gaspa Palopo (2009). Setahun kemudian dia dilirik PSM Makassar U-21 dan dipromosikan ke tim senior setahun kemudian. Selama dua musim dia memperkuat Juku Eja sebelum merantau ke Jawa Timur untuk bermain untuk Deltar Sidoarjo.

Sayang, ketika itu kompetisi terhenti karena federasi dibekukan. Ketika kompetisi kembali bergulir di 2016, dia lalu direkrut tim Liga Nusantara Mamuju Utama. Karier sepakbola alumni SMA 1 Bajeng, Gowa itu memang seperti yoyo. Setelah dari Liga Nusantara (sekarang Liga 3), musim berikutnya dia direkrut tim Liga 1 Persiba Balikpapan.

Namun hanya satu putaran, dia memilih hengkang dari Beruang Madu, julukan Persiba karena sedikit mendapat menit bermain. Di putaran kedua musim lalu, dia mencoba peruntungan di PSBL Langsa. Tiga gol dicetak di klub tersebut, kendati tak mampu menyelamatkannya dari degradasi ke Liga 3.

Di awal musim 2018 ini, pemain bernomor punggung 90 itu sebenarnya tidak kepikiran akan merapat ke PSIM. Sebelumnya dia mengirim CV ke dua klub lain namun tidak mendapatkan sambutan. Lalu dia mendapat kontak dari Fachry Muslim. “Lalu nekat aja, dapat kabar dari Fachri langsung kirim CV (curriculum vitae) ke menajemen. Setelah itu pasrah dan tunggu panggilan,” ungkapnya.

Gayung bersambut, ketika seleksi dia membetot hati tim pelatih untuk merekrutnya. Dia juga semakin betah, lantaran suasana di dalam tim sudah terjalin keakraban. “Suasananya tenang dan kekeluargaan dengan sesama pemain, pelatih dan official baik semua. Itu bikin saya nyaman,” bebernya.

Mail mengaku, jika dipercaya tampil dia akan bermain sebaik mungkin. Sebab jika dia bermain baik tentu menjadi modal positif bagi dia dan juga tim. Bermain dengan dukungan luar biasa suporter juga menjadi suntikan moral untuk terus bisa meraih kemenangan.

“Kalau masalah cetak gol, mungkin rezeki. Semuanya hasil kerja keras semua tim, saya berterimakasih jika diberi kepercayaan main. Asalkan berusaha maksimal tidak ada bedanya tim bertabur bintang atau tidak,” tuturnya. (riz/din/fn)