SLEMAN – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memastikan tradisi balon udara berlangsung tertib. Adanya pembinaan membuat penerbangan balon udara tidak melebihi batas ketinggian udara. Meski ada beberapa balon udara yang masih mengudara hingga wilayah udara Bandara Adisutjipto Jogjakarta.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengungkapkan, jajarannya melalui AirNav telah mengeluarkan panduan. Seluruh balon udara diterbangkan dalam sebuah festival. Selanjutnya balon tidak dilepas, namun ditambatkan dengan sebuah tali panjang.

“Terbang secara terkontrol, balon ditambatkan sehingga masih bisa dinikmati. Kalau terbang bebas dan menghilang kan justru tidak bisa dinikmati. Seperti festival balon udara di luar negeri itu, terlihat indah,” ujarnya saat berkunjung ke Bandara Adisutjipto Jogjakarta, Rabu (20/6).

Upaya pembinaan telah dilakukan sejak tahun lalu. Hanya saja penerbangan tertib baru terwujud pada Ramadan tahun ini. Tahun ini penyelenggaraan festival balon udara berlangsung di Wonosobo, Jawa Tengah, Selasa (19/6).
Agus menuturkan kawasan Wonosobo terkenal dengan festival balon udaranya. Hanya saja awalnya penerbangan kurang terjadwal secara rapi. Alhasil warga inisiatif menerbangkan secara mandiri tanpa konsultasi kepada AirNav Indonesia.

“Pembinaan awal fokusnya di Wonosobo, ke depan di wilayah Temanggung hingga Pekalongan. Kemudian baru-baru ini juga ada di Ponorogo,” katanya.
Meski bagian dari tradisi, Agus meminta warga bijak dalam bertindak. Diakui, risiko kecelakaan transportasi udara meningkat dengan adanya balon udara. Hal ini berbeda pada zaman dulu, karena jadwal penerbangan tidak seramai sekarang.

Balon udara, lanjutnya, terbang memasuki rute penerbangan pesawat. Dibuktikan adanya laporan pandangan mata pilot pada ketinggian 33 ribu feet. Jarak jni jika dikonversikan dalam angka mencapai ketinggian 10 kilometer di atas permukaan tanah.

“Nah dalam festival ini, balon udara hanya boleh terbang setinggi 150 meter dari tanah. Diikat dengan tali agar tidak terbang secara liar. Kalau seperti ini masih bisa dinikmati dan tidak menganggu penerbangan,” ujarnya.

General Manager (GM) AirNav Cabang Jogjakarta Nono Sunaryadi mengakui ada laporan pandangan mata pilot maskapai. Beberapa di antaranya bahkan terbang hingga di atas batas ketinggian pesawat terbang. Setidaknya dari 14 hingga 19 Juni AirNav Jogjakarta menerima sekitar 100 laporan.

Bahaya dari balon udara beragam, mulai dari masuk ke mesin hingga mengenai sayap dan ekor pesawat. Jika masuk ke mesin akan menyebabkan mesin tidak berfungsi. Apabila terkena sayap dan ekor akan mengganggu manuver pesawat saat berada di udara.

“Laporan terbanyak 15 Juni lalu, mencapai 74 laporan. Balon udara tercatat sampai 34 ribu feet, sementara ketinggian pesawat rentang 24,5 ribu feet hingga 30 ribu feet. Pesawat itu beda dengan kendaraan, tidak mudah putar haluan kalau ada objek di depannya,” jelasnya. (dwi/laz/fn)