Tercemar Bakteri E-Coli dan Mengandung Mineral

(GRAFIS: ERWAN TRICAHYO/RADAR JOGJA)

BANTUL – Pemkab Bantul terus berupaya memperbaiki kualitas air di wilayahnya. Itu karena kualitas air di Bumi Projotamansari ternyata cukup buruk. Nyaris 70 persen kualitas air dikategorikan tak memenuhi syarat. Hal itu disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya adalah tercemar bakteri E-Coli.

Kepala Seksi Kesehatan Ling kungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas  Kesehatan (Dinkes) Bantul Yanatun Yunadiana mengungkapkan, tercemarnya mayoritas air dengan bakteri E-Coli disebabkan buruknya pengelolaan sanitasi limbah rumah tangga. Terutama, septic tank. Jamak septic tank warga belum menerapkan konsep jamban sehat.

”Sehingga memicu pencemaran biologis,” jelas Yanatun di ruang kerjanya belum lama ini.

Dikatakan, persentase ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Merujuk data Dinkes, pencemaran air semula di atas 70 persen. Menurutnya, standard penilaian kualitas air yang diterapkan Dinkes mengacu Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 492/2010. Dalam regulasi ini disebutkan dalam 100 mililiter air bersih maksimal terdapat kandungan 50 bakteri E-Coli. Sedangkan untuk air minum harus nol. Nah, bakteri E-Coli tidak akan meresap bersama air dari jamban sehat.

”Karena bakteri dari jamban sehat sudah terdegradasi,” ucapnya. Faktor lain buruknya kualitas air disebabkan kandungan mineral tinggi. Yanatun menyebut air di beberapa kecamatan mengandung kandungan mineral seperti zat besi (Fe) dan mangan (Mn).

”Hampir semua wilayah di Bantul ada. Seperti Sewon, Bantul, Pandak, Srandakan, dan Pajangan,” sebut Yanatun mengungkapkan, letak Kabupaten Bantul yang berada di hilir turut menyumbang buruknya kualitas air.

Kendati begitu, Yanatun menuturkan, problem kualitas air ini dapat diatasi. Ter utama, kandungan bakteri E-Coli. Salah satunya dengan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal. Keberadaan instalasi ini dapat meminimalisasi bakteri E- Coli yang teresap di dalam tanah. Dengan begitu, kualitas air tanah steril.

”Total sudah ada 128 IPAL komunal yang dibangun,” kata Yanatun mengungkapkan bahwa pem bangunan IPAL komunal dimotori Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul.

Cara lain, Yanatun melanjutkan, dengan memanfaatkan saluran pipa milik Balai Pengelolaan Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum (Pisamp) DIJ. Maksudnya seluruh rumah yang dilintasi pipa Balai Pisamp diminta tak membangun jamban. Melainkan wajib membuangnya melalui pipa Balai Pisamp. Dengan cara ini, Yanatun optimistis kualitas air maksimal dalam sepuluh atau lima belas tahun depan bakal memenuhi syarat.

”Intinya, jangan memasukkan lagi bakteri E-Coli di dalam tanah,” ingat Yanatun mengungkapkan, air dengan kandungan E-Coli dapat diminum dengan syarat harus dimasak dengan mendidih selama sepuluh menit. Lalu, bagaimana dengan air yang mengandung mineral? Menurutnya, ada solusi yang dapat dilakukan. Cukup dengan melarutkan zat kimia seperti tawas atau poly alumunium chloride.

”Ini bisa didapatkan gratis di puskesmas atau dinas,” tambahnya. Kasi Air Minum dan Sanitasi Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Erwin Prasmanta tak menyanggah dengan buruknya kualitas air ini. Kendati begitu, Erwin mengklaim, kualitas air berangsur membaik seiring dengan bergulirnya Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (sanimas). Bentuk program ini berupa pembangunan IPAL komunal.

Seringnya, pembiayaan program ini melalui dua pintu. Yaitu, sanimas reguler dan dana alokasi khusus (DAK). ”Biasanya, masing-masing sanimas reguler maupun DAK membangun lima unit per tahun,” sebutnya.

Namun, Erwin menekankan, pemerintah hanya membangun satu unit IPAL komunal tahun ini. Sebab, pos anggaran sanimas reguler dialokasikan untuk beragam kepentingan pembangunan pemerintah pusat. Sedangkan mayoritas anggaran sanimas DAK dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan instalasi pengolahan air.

Kendati begitu, lanjut Erwin, upaya perbaikan sanitasi limbah berhenti. DPUPKP tahun ini membangun sambungan rumah (SR) bagi warga di tiga kecamatan. Yaitu, Banguntapan, Sewon, dan Kasihan. Anggaran pembangunan SR di setiap kecamatan dialokasikan Rp 391 juta. Setiap kecamatan dijatah sekitar 80 SR. ”Nanti pipa sambungan rumah ini dialirkan ke pipa IPAL Balai Pisamp,” tambahnya. (zam/fn)