Saat melakukan haji nekat lewat jalur darat 2011, penulis sempat blusukan ke pelosok negara Myanmar. Mulai Yangon sampai Tamu, kota terlarang bagi warga asing di perbatasan dekat India. Jaraknya seribu kilometer lebih melewati beberapa kota. Lama perjalanan dua hari lebih naik bus. Kualitas jalannya sekelas macadam, bahkan layak untuk off road. Jangan tanya capeknya. Sekujur badan terasa pegal, linu, njarem. Seminggu lebih di Myanmar, penulis bisa mengamati kebiasaan warga Myanmar, baik di perkotaan sampai pedesaan.

Myanmar atau dulu dikenal Burma atau Birma indentik dengan sarung atau lon chi yang banyak digunakan kaum prianya. Di mana-mana pria tua muda, beragam profesi. Mulai penarik becak, pengusaha, bahkan intel sekali pun mengenakan sarung dalam menjalankan pekerjannya.

Jangan heran kalau ada pejabat, pengusaha, orang kaya Myanmar saat berpergian, naik pesawat sekali pun tetap banyak yang mengenakan sarung. Meski atasannya sangat resmi. Pakai jas dan dasi.

Apakah di kantor pemerintah, bandara, rumah makan, bekerja, main sepak takraw. Pokoknya, aktivitas apa saja tetap mengenakan sarung. Bahkan para sopir antar kota antar propinsi juga mengenakan sarung.

Mereka hanya perlu menggulung sarung lalu diikat seperti celana pendek jika melakukan pekerjaan sulit. Seperti menganti ban bocor, memanjat atau masuk kolong mobil. Sangat simple. Meski pakai sarung sama sekali tak mengurangi kegesitan mereka dalam bekerja.

Bahkan dompet yang umumnya sedikit panjang dipakai warga Myanmar tak perlu ditaruh di saku. Tapi, cukup diselipkan di lilitan sarung. Dijamin tidak akan jatuh. ‘’Sarung memang praktis dan jadi ciri khas warga Myanmar,” kata Aung Soe Moe, warga Myanmar staf lokal KBRI Yangon.

Begitu membuminya sarung atau lon chi bagi warga Myanmar, sampai-sampai ketika rakyat Myanmar didukung para biksu Buddha saat protes keras atas penghapusan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah junta militer Myanmar yang represif pun dinamakan revolusi sarung. Meski akhirnya revolusi gagal. Akibatnya banyak rakyat dan biksu jadi korban.

Sarung juga sangat popular di Indonesia dan Malaysia. Hanya untuk Indonesia sarung umumnya dipakai saat salat bagi kaum muslim. Memang ada sebagaian warga yang kesehariannya menggunakan sarung. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Bandingkan dengan Myanmar hampir semua pria di seluruh pelosok negeri pakai sarung atau lon chi.

Kebiasaan lain umumnya pria Myanmar adalah menginang. Seperti banyak dilakukan warga Papua pada umumnya. Tak heran tempat umum sampai hotel biasanya menyediakan tempat buang menginang. Yakni, berupa ember kecil yang dilapisi plastik. Sebab, limbah menginang kalau menempel pada tembok atau benda apa saja sulit dibersihkan.

Seperti halnya merokok, menginang kadang membuat gigi rusak. Padahal, selama ini tahunya orang mereka yang menginang giginya makin kuat. Tapi, seperti saya lihat di Yangon sekitarnya, sebagian penginang giginya rusak atau keropos. ‘’Saya sendiri tidak menginang tapi merokok,’’ aku Ang Soe Moe.

Sedangkan para perempuan Myanmar yang terkenal sederhana mengenakan hta main atau rok panjang. Ke mana-mana mereka mengenakan hta main. Ke sekolah, berjualan, ke pesta, berpergian, di rumah perempuan Myanmar selalu mengenakan hta main. ‘’Ini style perempuan Myanmar,” ujar Syusuk, pemilik hotel Taung Za Lat di Kota Kalay, Myanmar.

Meski seorang pemilik hotel terbaik di Kota Kalay, penampilan sehari-hari Syusuk, 45, sangat sederhana. Hanya mengenakan hta main dan baju lengan panjang. Rambutnya yang sebahu hanya ditekuk lalu dijepit begitu saja.

Wanita paroh baya itu selama menginap di hotelnya saya perhatikan tidak pernah berdandan berlebihan umumnya orang kaya di negara lain. Meski berwajah menarik, bertubuh tinggi semampai Syusuk tetap sederhana layaknya perempuan Myanmar lainnya. ‘’Saya hanya sesekali ke salon. Itu pun kalau ada acara atau sekadar potong rambut. Selebihnya ya seperti ini berpenampilan apa adanya,’’ aku Syusuk.

Syusuk mungkin mewakili perempuan Myanmar umumnya, sedikit malu-malu. Ia hanya berbicara seperlunya pada tamu-tamu hotel. Selebihnya, banyak mengurusi anak buah atau karyawannnya.

Bahkan saat diminta foto bareng, Syusuk menolak. Alasannya, besok saja biar tampak lebih oke. Esoknya, benar saja penampilan Syusuk saya perhatikan sedikit berbeda.

Meski tetap mengenakan hta main dan baju lengan panjang. Tapi, kali ini penampilan Syusuk sedikit berbeda. Hta main dan baju lengan panjang yang dikenakan hari itu cukup bagus dan warnanya maching.

Hta main berwarna sedikit kecoklatan dan baju lengan panjang berwarna putih gading layaknya yang dikenakan calon pengantin. Ada polesan bedak tipis di wajahnya.

Rambut disanggul cukup rapi. Tapi, tetap saja tidak memakai lipstik bibir. Saya bilang sama rekan saya Aung Soe Moe, kalau sedikit berdandan Syusuk, ibu tiga anak itu sebenarnya cukup…cuantik. Aung Soe Moe hanya manggut-manggut saja.

Meski begitu Syusuk tetap sederhana. Meski sudah janjian mau difoto, tapi layaknya perempuan Myanmar umumnya, dia tampak malu-malu. Serta mengajak karyawan dan saudaranya foto bersama. ‘’Kalau sendiri malu,’’ elaknya pada Aung Soe Moe. Sayangnya, saat pamitan akan balik ke Yangon saya lupa memuji dia kalau hari itu sudah tampil cukup cantik.

Penampilan perempuan Myanmar berbeda 180 derajat dengan wanita Thailand. Selama tinggal di Bangkok lebih dari dua minggu, saya perhatikan perempuan Thailand seakan berlomba-lomba ingin tampil paling cantik.

Apakah ke sekolah, kuliah, ke kantor, toko, naik angkot, naik kereta, naik perahu, bahkan ke pasar sekali pun. Mereka berusaha tampil semenarik mungkin. Dan, dandan habis-habisan.

Perempuan Thailand berusaha menonjolkan kelebihan tubuhnya. Mereka berusaha tampil semenarik mungkin. Mengenakan pakaian yang pas dengan tubuhnya. Umumnya mengenakan celana, atau rok pendek. Dipandu kaos ketat. Perempuan kantoran biasanya melapisi dengan span hitam agar tampak lebih sopan. Baik naik bus, kereta maupun perahu. Sambil menunggu masuk kendaraan mereka biasanya melihat dandanan mereka dengan kaca kecil yang dibawanya.

Selama di kendaraan kalau memungkinkan sebagian mereka juga berkaca. Nah, sebelum turun angkutan mereka umumnya berdandan lagi. Kadang memoles dengan bedak tipis atau lipstik. Mereka tidak malu-malu berdandan di keramaian karena sudah jadi kebiasaan para wanita Thailand. Mereka ingin tampil modis di segala situasi.

Kembali ke Myanmar, kebiasaan lainnya perempuan Myanmar lainnya suka mengenakan tha nat khar atau sejenis pupur dari akar pohon nat khar. Pupur dioleskan ke sebagian wajah tebal-tebal. Jadi, terlihat cukup mencolok. Selain berfungsi menghaluskan kulit. Dan paling penting berfungsi menahan sengatan matahari. Sebab, negara Myammar yang beriklim tropis cuaca siang hari cukup terik. Tak ada bedanya dengan di Indonesia.

Tapi, karena sudah jadi budaya, mereka tak hanya mengenakan tha nat khar di rumah. Tapi, juga di jalan, di pasar, bahkan di pertemuan dan pesta-pesta kecil mereka tetap mengenakan bedak tebal itu. ‘’Kami perempuan Myanmar tidak malu mengenakan tha nat khar karena itu sudah gaya hidup orang Myanmar sejak ratusan tahun lalu. Jadi, ini style perempuan Myanmar,’’ ujar Syusuk. ‘’Sampai sekarang, sesekali saya juga pakai,’’ tambahnya.

Tha nat khar tak hanya dipakai kaum perempuan. Sebagian pria terutama yang di pelosok seperti Kota Kalay, Monywa juga banyak yang menggunakan tha nat khar. Terlebih di Tachielik, Kota Myanmar di perbatasan dekat Mae Sai, Thailand. Saat penulis mengunjungi Tachielik, hampir semua warganya yang hidup pas pasan, siang mengenakan tha nat khar. Tak heran wajahnya penuh coreng moreng oleh bubuk putih sejenis bedak dingin. ‘’Banyak pria juga mengenakan tha nat khar. Dan, itu di sini wajar saja,’’ tambah Aung Soe Moe.

Ciri khas lainnya, Yangon, dan kota-kota lainnya di Myanmar sangat bersahabat dengan lingkungan. Banyak pohon besar yang ditanam sejak zaman penjajahan Inggris dibiarkan tumbuh menjadi pohon raksasa. Tak peduli apakah akar-akarnya akan merusak trotoar.

Warga dilarang menebang pohon kecuali seizin pemerintah. Jadilah Yangon, bekas ibu kota Myanmar jadi kota hutan. Di mana-mana banyak ditumbuhi pohon besar. Lingkungan pun jadi asri.

Bahkan saat Anda memasuki bandara internasional Yangon, sudah terdengar suara ribut ribuan burung gagak yang bersarang di pohon-pohon besar dan bangunan sekitar bandara. Benar-benar Yangon jadi surganya.

Sebaliknya, Yangon kurang ramah dengan aktivis demokrasi dan turis back packer. Gerak mereka dibatasi, bahkan untuk memasuki wilayah tertentu seperti daerah perbatasan harus seizin imigrasi dan mendagri setempat yang prosesnya jlimet. Jadi, visa saja tidak cukup. Harus ada izin ini itu.

Kran politik dan demokrasi bagi warga Myanmar pun dibatasi. Dunia hiburan juga sangat terbatas. Karena itu banyak warga dan generasi muda Myanmar menghabiskan waktu menenggak minuman keras di warung atau kedai yang banyak bertebaran di pelosok Yangon.

Bandingkan dengan Thailand sangat terbuka pada orang asing, terlebih para turis. Saakan Thailand surganya para turis. Di mana mana di pelosok negeri Gajah Putih banyak ditemukan para turis. Itu menunjukkan Thailand tergolong negara ramah turis.

Selama melakukan haji nekat lewat jalur darat, penulis bisa mengamati, ramah tidaknya suatu negara terhadap orang asing salah satu indikatornya banyak sedikitnya turis datang ke negara itu.

Semakin banyak turis datang ke negara itu, maka hampir dipastikan negara itu ramah terhadap para turis. Apakah ramah dalam kepengurusan visa, biaya hidup terjangkau, keamanan stabil hingga pelayanan dan banyaknya tempat wisata menarik. Negara- negara yang relatif ramah terhadap turis, di antaranya, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam dan Nepal.

Sebaliknya, makin sedikit turis yang datang ke negara itu mengindikasikan negara itu kurang ramah terhadap turis. Mulai faktor keamanan yang tidak menjamin turis aman, mengurus visa yang sulit. Di antara negara yang kurang ramah terhadap turis, salah satunya ya Myanmar. Pakistan karena faktor keamanan, India juga tidak aman untuk turis wanita karena kerap terjadi kasus perkosaan di negara itu yang menimpa turis perempuan. (laz/bersambung)