Chiang Rai, 700 kilometer di utara Bangkok adalah kota wisata pegunungan di kawasan utara Thailand berhawa sejuk. Letaknya berbatasan dengan Myanmar. Banyak lokasi wisata di kawasan ini. Salah satunya, tempat penampungan suku Karen berleher panjang tau dikenal long neck Karen. Juga ada Golden Triangle, atau segitiga emas antara Thailand, Myanmar dan Laos yang dulu dikenal penghasil opium terbesar di dunia.

Bahari – Chiang Rai

Long Neck Karen adalah areal pemukiman pengungsi suku Karen Myanmar yang kini disulap menjadi obyek wisata oleh pemerintah Thailand. Letaknya sekitar 20 km dari Chiang Rai ke arah kota perbatasan Mae Sei.

Dari jalan raya mini bus menembus jalan kecil sekitar tiga kilometer. Disambung jalan tanah. Hari itu sedikitnya tiga minibus serta bus tingkat rombongan wisata parkir di areal obyek wisata Long Neck Karen.

Untuk masuk obyek wisata ini setiap pengujung ditarik 300 bath, atau sekitar Rp 100 ribu. Untuk ukuran turis back packer itu cukup mahal. Apalagi, pertama masuk areal ini hanya disuguhi bangunan gubuk, rumah pengungsian suku Karen yang lari dari kejaran tentara Myanmar karena dianggap pemberontak..
Ada beberapa stand gubug menjual aneka kerajinan suku Karen mulai gelang, manik-manik, tas, topi, pakaian hasil tenunan mereka. Penjual mengenakan pakaian khas Karen.

Sayang penjual suku Karen kurang menguasai bahasa Inggris maupun Thailand. Mereka hanya menawarkan daganganya dengan memanggil Mister.

‘’Misterr..mister,’’ katanya memanggil turis yang lewat.

Sedangkan lokasi pengungsian Karen yang disulap jadi obyek wisata masih masuk beberapa ratus meter lagi. Untuk menuju wilayah itu ada dua jembatan gantung terbuat dari kayu. Satunya permanen satunya bergoyang-goyang kalau dilewati. Beberapa anak suku Karen tampak mandi, berenang dan bermain air di sungai bawah jembatan.

Anak-anak tak jarang memetik bunga liar untuk diberikan pada turis lalu minta imbalan uang. ‘’Mister..mister,’’ sambil menyorongkan tangannya.

Setelah masuk deretan gubuk yang menjual aneka souvenir khas suku Karen baru pengunjung dikejutkan pemandangan menarik. Hampir semua stand dijaga perempuan. Umumnya para gadis Karen umumnya rupawan. Berkulit kuning bersih, dengan rambut panjang.

Anak-anak, para gadis, perempuan dewasa maupun orangtua semua seakan berlomba berdandan paling cantik mengenakan khas pakaian Karen. Dan, ciri khasnya mengenakan besi tembaga melingkar di leher mereka. Ini lah daya jual obyek wisata Karen atau bisa dikenal Long Neck Karen sesungguhnya.

Tradisi memajangkan leher bagi suku Karen tetap terjaga hingga kini. Kian panjang leher seorang wanita Karen kian menarik di mata pria. Makanya, mereka berlomba lomba memajangkan leher dengan memasang gelang besi di leher.

Para gadis sampai orang dewasa sengaja dandan habis-habisan untuk memyenangkan para turis. Sepintas mereka seperti orang yang hendak ke pelaminan. Selain berdandan menor, mereka cukup ramah dan siap difoto turis tanpa meminta imbalan. Senyuman terus mengembang. Benar-benar menyenangkan para turis.

Selain menjaga stand penjualan souvenir, para gadis dan ibu-ibu juga langsung menenun kain di tempat itu. Tak heran ini jadi bidikan foto para turis. Bbayar Rp 100 ribu rasanya tidak rugi. ‘’Uang tiket masuk nantinya dibagi. Sebagaian untuk pengelola wisata, suku Karen dan untuk dana pembinaan dan pengembangan obyek wisata Karen,’’ kata Kitt, pemandu turis yang diikuti penulis.

Keberadaan lokalisasi suku Karen itu tak lepas dari jasa penyedia pariwisata di Thailand. Suku Karen yang semula masuk Thailand sebagai pengungsi karena dikejar-kejar pemerintah Myanmar karena dianggap memberontak.

Oleh pariwisata setempat para pengungsi disulap menjadi tambang emas. Mereka dilokalisir dan dikembangkan menjadi obyek wisata sangat menjual hingga seperti sekarang. ‘’Bahkan relawan setiap minggu terus mengajari anak-anak Karen bahasa Inggris dan Thailand. Tujuannya, agar mereka bisa menyambut dan berbicara dengan para turis,’’ kata Kitt pemandu wisata.
Lalu kemana para pria Karen? Kabarnya para pria Karen tetap berjuang di hutan-hutan perbatasan Thailand-Myanmar melawan pemerintah Myanmar menuntut kemerdekaan.

Setelah sampai Yangon, belakangan penulis tahu sebenarnya Pemerintah Myanmar protes keras terhadap lokasi penampungan pengungsi Karen di Thailand. Alasannya, sebagaian mereka bukan pengungsi tapi pemberontak yang lari Myanmar. Tapi, pemerintah Thailand bersikukuh mereka pengungsi. Karena tidak ada penyelesaian, Myanmar menutup perbatasanya dengan Thailand di Mae Sot yang pernah dikunjungi penulis.

Perbatasan Maesot yang dikenal Jembatan Persahabatan juga lebih menguntungkan Thailand. Sebab, bisnis lebih didominasi Thailand. Negeri Gajah Putih memasok kebutuhan bahan pokok dan lainya ke Myanmar. Sebaliknya, Myanmar kurang maksimal memanfaatkan hubungan dagang lewat perbatasan darat langsung tersebut. Akhirnya, Myanmar pun menutup perbatasan di Maesot. Dampaknya perekonomian Maesot lesu, tak bergairah. Penghuni hotel turun drastis. Maesot seperti kota mati. Jam 19.00 malam sudah sepi. Itu sangat berbeda dengan kota kota di Thailand yang umunmya hampir hidup 24 jam nonstop.

Opium Masuk Museum, Segitiga Emas Jadi Obyek Wisata
Golden Triangle, atau dikenal segitiga emas yang wilayahnya persis di perbatasan Thailand, Myanmar dan Laos. Tepatnya di perairan Sungai Mekong yang legendaris itu hanya berjarak 50 kilometer dari kota Chiang Rai.
Jalan menuju segitiga emas yang kini jadi ikon wisata baru di Thailand juga Laos itu lagi digarap serius pemerintah. Jalan-jalan menuju wilayah itu diperluas. Alat-alat berat bekerja siang malam melebarkan akses jalan. ‘’Setahun lalu jalan ini belum ada. Sekarang sudah lebar,’’ ujar Kitt seorang pemandu wisata.

Jalanan terus menanjak melewati bukit-bukit hijau dan subur. Sesekali memasuki perkampungan penduduk. ‘’Disana dulu semua ditanami opium. Sekarang diganti tanaman lain,’’ tuturnya.

Pada masa jayanya Khun Sha, raja opium segitiga emas tidak sembarangan orang bisa masuk wilayah ini. Semua wilayah dijaga ketat pasukan bersenjata bayaran Khun Sha. Bahkan tiga negara Thailand, Myanmar, dan Laos kesulitan memberantas perdagangan opium.

Khun Sha punya pasukan sendiri untuk mempertahankan wilayahnya dari gangguan sindikat obat bius lain, pemberontak maupun pasukan pemerintah di wilayah itu. ‘’Itu dulu. Sekarang wilayah kekuasaan Khun Sha disulap menjadi obyek wisata memanfaatkan nama besar ‘’Kerajaan Opium’’ Khun Sha yang legendaris itu. Dari segitiga emas ini Khun memasok opium terbesar ke dunia.
Dari atas bukit tampak Sungai Mae Nam Khong atau dikenal Mekong tampak mengular. Terlihat kapal dan perahu menyusuri sungai. Itu wilayah segitiga emas yang kini disulap menjadi obyek wisata kelas dunia.

Di perbukitan nun jauh disana yang eksotik itu kini banyak berdiri resort, hotel dan vila untuk menginap para turis. Benar-benar pemandangan yang elok.
‘’Selamat datang. Kita sudah sampai di segitiga emas,’’ kata Kitt. Sebagaian turis yang sedari tidur langsung terbangun. ‘’Wah..’’ guman turis Italia terkagum kagum eloknya pemadangan segitiga emas dengan Sungai Mekong yang meliuk liuk.

Jalanan menurun menyusuri Sungai Mekong. Sepanjang tepi sungai berdiri restoran, hotel, toko dan taman tempat bermain untuk para wisatawan. ‘’Kita ke puncak bukit agar bisa lihat segitiga emas yang indah dari atas,’’ tutur Kitt.
Di atas ketinggian bukit terlihat Sungai Mekong mengular dari wilayah Myanmar dan China. Di puncak bukit juga terdapat denah. Tempat bukit yang kami injak masuk wilayah Thailand. Sebelah kiri sungai masuk wilayah Myanmar. Di seberang sungai masuk negara Laos. Sedangkan di hulu sungai adalah negara China.

Semasa masa jayanya Khun Sha, raja opium segitiga emas. Dari sungai ini lah obat terlarang itu menyebar ke seluruh dunia. Masuk Thailand, Malaysia, Indonesia. Juga menyebar ke Amerika, China, Jepang, dan daratan Eropa. ‘’Sekarang nama besar segitiga emas berganti jadi ikon wisata Thailand,’’ kata Kitt.

Kini sepanjang Sungai Mekong berdiri deretan toko souvenir yang seakan tiada habis. Hotel dan resort di perbukitan. Banyak perahu menyediakan jasanya bagi wisatawan untuk menyusuri Sungai Mekong. Bahkan sampai ke hulunya Cina maupun menyeberang ke negara Laos lewat perahu.

Perahu-perahu yang digunakan para turis menyusuri Sungai Mekong juga dihias sedemikian rupa hingga menambah eloknya wisata sungai. Umumnya perahu dihiasi kepala naga dengan warna merah mencolok.

Untuk mengenang kebesaran segitiga emas, pemerintah Thailand mendirikan Museum Opium Golden Triangle. Letaknya di pinggiran jalan tepi Sungai Mekong. Untuk masuk ke museum hanya dipungut karcis 50 bath
Museum dua lantai itu dipenuhi barang-barang, foto dan alat pengkayaan opium jaman keemasannya. Juga patung warga yang ketagian mengisap ganja.
Foto warna warni bunga opium saat mekar sangat indah dan menawan. Begitu juga petani opium saat panen. Semua itu bisa disaksikan di museum ini.
Juga barang bukti opium yang sudah diproses. Alat timbangan opium mulai ukuran gram sampai ratusan kilo juga dipajang di sini. Juga alat-alat yang dipakai memproses opium. Mulai pisau sampai senjata api.

Hanya saja tidak satu pun di museum ini menyingung Khun Sha, raja opium puluhan tahun yang menggerakan bisnis opium di segitiga emas. Juga sekedar fotonya.

Bagaimana nasib petani yang menanam opium? Menurut penjelasan petugas museum kepada penulis, para petani itu sekarang pindah ke pegunungan. Apakah mereka masih menanam opium atau tanaman yang lain, petugas itu tidak tahu. ‘’Yang jelas menanam opium sekarang illegal atau dilarang pemerintah,’’ tuturnya. (Bahari/bersambung)