Kumpulkan Sembilan Ribu Kantong Darah Selama Setahun

Tak libur saat Lebaran menjadi hal biasa bagi Noor Edy Hidayatullah. Sebaliknya, sebagai petugas Palang Merah Indonesia (PMI) dia justru sibuk saat umat muslim lain hanyut dalam nuansa hari raya.

VITA WAHYU HARYANTIJogja.

PERASAAN senang dan tenteram menjalankan tugas kemanusiaan menjadi alasan Noor Edy Hidayatullah. Tak kurang 29 tahun Noor mengabdikan diri di PMI Kota Jogja. Hal inilah yang membuat pria 47 tahun ini tak pernah berat hati ketika harus bekerja saat Hari Raya Idul Fitri.

“Harusnya kan memang berkumpul dengan keluarga. Tapi saya sudah membulatkan tekad untuk bersungguh-sungguh menjalankan tugas, jadi tetap harus dikerjakan,” ujar warga Bantul ini.

Beruntung, istri dan ketiga anak Noor tidak pernah protes ketika harus ditinggal sewaktu-waktu. Mereka bahkan tetap memberi dukungan. Tanpa mengenal waktu, baik pagi, siang, atau malam harus standby ketika ada panggilan darurat. Lebaran kali ini pun tak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya. Noor harus menjalankan tugas yang sudah terjadwal dengan sistem shift untuk standby di kantor maupun di posko Lebaran PMI.

Noor lantas bercerita awal bergabungnya dalam organisasi kemanusiaan ini. Dia tertarik menjadi relawan PMI bukan tanpa alasan. Ketika itu Noor melihat salah seorang tetangganya dijemput oleh tim PMI untuk mengambil jenazah korban laka laut di Pantai Parangtritis, Bantul.

“Waktu itu masih SMA kelas 2 sekitar 1989. Sejak saat itu saya langsung mendaftar di Palang Merah Remaja (PMR). Dari sana saya semakin yakin untuk membantu sesama dengan segenap hati dan tenaga saya. Lepas kuliah saya bergabung di PMI,” papar lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Bagi Noor, pekerjaan yang dia jalankan selama ini merupakan tugas mulia. Karena tujuan utamanya berkaitan dengan kemanusiaan dan tolong-menolong sesama. Saat ini Noor bertugas di bagian transfusi darah. Dialah yang mengatur sistematika untuk mencari pendonor, merencanakan kegiatan donor darah, penghargaan pendonor, penyimpanan data manajemen, dan segala kegiatan yang berkaitan dengan ketersediaan stok darah PMI. “Stok darah ini harus tersedia terus, tidak boleh kosong,” tegasnya.

“ Tugas saya adalah mencari pendonor agar stok tercukupi. Syukur-syukur lebih, sehingga bisa kami kirim PMI lain yang membutuhkan darah,” lanjut Noor.

Lantas bagaimana suka duka sebagai petugas PMI? Noor mengaku lebih banyak sukanya. Kalau stok darah aman, terlebih menjelang Lebaran, dia merasa lega dan tenang. Dalam rentang setahun ini tak kurang sembilan ribu kantong darah berhasil dikumpulkan tim PMI Kota Jogja. Menurutnya, stok darah di wilayah Jogjakarta cenderung aman dan tercukupi selama empat tahun terakhir ini.

“Kalau dukanya saya kira tidak ada. Kami bekerja tanpa bayaran karena memang demi kemanusiaan. Bukan masalah bagi saya,” ungkap Noor yang kesehariannya bekerja sebagai petani.(yog/ong)