PARA turis berkantong pas pasan atau back packer punya jujukan favorit mencari penginapan, makanan, dan mengurus segala keperluan yang murah di setiap negara yang mereka singgahi. Di Bangkok ada kawasan namanya Khao San Road, di Hanoi ada Old Quarter, di Khatmandu, Nepal ada Thamel. Di Jakarta ada di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, yang menyediakan penginapan murah bagi turis asing.

Ada atusan objek wisata menarik di Bangkok dan sekitarnya. Salah satunya, lokasi favorit yang menjadi jujukan utama para pelancong dunia, khususnya para turis back packer, adalah kawasan Khao San Road.

Para sopir thuk-thuk, tukang ojek, maupun sopir taksi begitu familiar dengan nama itu. Begitu Anda menyebut nama Khao San Road, mereka langsung paham.

Cara termudah lainnya, Anda tinggal minta tolong orang hotel, petugas, atau siapa saja untuk menulis nama Khao San Road pakai huruf Thailand. Lalu sodorkan ke sopir thuk thuk, tukang ojek, atau sopir taksi lainya. Dijamin ces pleng. Paham. Maksudnya.

Seperti saat naik thuk-thuk. Disebut thuk-thuk karena angkutan mirip Bajaj di Jakarta itu suaranya sangat keras, memekakan telinga. Begitu distarter langsung bunyi thuk..thuk..thuk.. sangat keras, Makanya, dinamakan Thuk.. Thuk

Begitu penulis sebut Khao San Road, sopir thuk-thuk tadi langsung manggut manggut. ‘’150 bath,’’ katanya. Setelah ditawar akhirnya kena 100 bath. Lokasinya pun berada di pusat kota Bangkok hingga mudah dijangkau para turis dari segala arah.

Cuaca Bangkok siang itu (25/8/2011) begitu menyengat. Stasiun TV setempat melaporkan suhu udara berfluktuasi antara 35 derajat sampai 37 derajat Celsius. Maklum Bangkok dalam sepekan tidak turun hujan.

Para turis yang mondar-mandir di Khao San Road sebagian membasahi wajah dan kepalanya dengan air mineral untuk mengusir hawa panas.

Tapi, hawa panas tak menyurutkan para turis menikmati Kho San Road di kala siang. Tak kalah agresifnya para tukang pijat. ‘’Message Sir, message Sir,’’ sambil memperlihatkan foto. Juga sopir thuk-thuk tak mau kalah menawarkan jasanya setiap ada turis yang lewat di depanya.’’Jalan-jalan,’’’ katanya

Jangan bayangkan kawasan Khao San layaknya Jalan Jaksa, Jakarta, yang hanya dipenuhi hotel kelas melati. Di kawasan Khao San selain lebih tertata bagus. Akses jalannya juga lebar, sekitar 8 meter. Itu belum termasuk trotoar yang dipenuhi pada pedagang suvenir. Taksi, thuk-thuk dan ojek bisa bersliweran di tengah banyaknya turis yang mondar-mandir.

Kalau hotel di Jalan Jaksa bertarif sangat “miring”. Bahkan ada yang hanya Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu semalam. Tapi, tidak di Khao San Road. Hotel melati tarifnya lebih mahal. Antara 750 bath sampai 1.200 bath. Atau Rp 250 ribu sampai Rp 400 ribu. Itu pun tidak ada makan pagi. Sedangkan internet juga harus bayar. Atau bayar jam-jaman di bilik-bilik warung internet.

Sedangkan untuk soal makan turis tidak akan kesulitan. Banyak makanan siap saji yang buka nonstop 24 jam. Begitu juga warung-warung yang dibuka warga setempat sudah menjamur. Harganya tentu lebih murah dibandingkan restoran siap saji tadi. ‘’(Di sini (Bangkok, Red) yang hebat promosinya. Misalnya, pasar terapung di Damnoen Saduak dibandingkan Pasar Terapung di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur tidak ada tandinganya. Di Indonesia lebih hebat, lebih besar dan alami. Thailand memang hebat dalam berpromosi,’’ tutur Donni, mahasiswa asal Jogjakarta yang menempuh S2 di Bangkok.

Namun, Khao San Road sudah terlanjur jadi salah satu ikon pariwisata Bangkok, khususnya turis back packer. Apalagi, semua kebutuhan turis tersedia di sini.

Mulai deretan toko suvenir, bank, money changer, travel, jasa tato badan, hotel, warung internet sampai pijat. Maksudnya benar-benar pijat karena di lokasinya di tempat terbuka. Tarifnya setengah jam 100 bath, satu jam 200 bath. Kursi tertata rapi di trotoar. Paling banyak toko jualan baju dan aksesori.

Bahkan kartu pers. Ya.. kartu pers wartawan pun diperjualbelikan di sini. Anda tinggal menyebut nama media internasional mana yang ada inginkan. Apakah Reuters, atau kantor berita top dunia lainnya. Semua kartu pers media asing ada contohnya. Begitu harga disepakati kartu pers langsung tercetak lengkap dengan nama pemesannya plus foto Anda. Benar-benar edan.

Tujuan pembuatan kartu pers tadi oleh turis asing bukan untuk memeras atau menakut-nakuti narasumber berita. Tapi, para turis asing umumnya menggunakan kartu pers untuk mencari diskon hotel. Kabarnya, dengan memiliki “kartu sakti” pers tadi bisa dapat diskon 50 persen atau separo harga dari hotel yang diinapi.

Penulis beberapa kali ke kawasan ini sambil blusukan mengitari kawasan Khao San Road. Hampir semua restoran yang rindang siang itu dipenuhi para turis untuk melepas lelah sambil minum-minum. Sedangkan turis perempuan umumnya banyak mengitari stan toko suvenir.

Kalau jeli sebenarna banyak dagangan khas Jogjakarta maupun Bali yang dipajang di tempat ini. Seperti aneka mainan dan kaus panjang khas Bali. Hanya tidak ada gambar leaknya. Harga kaus antara 200 bath sampai 250 bath atau sekitar Rp 70 ribuan. Harga itu lebih mahal sedikit dibandingkan kaus serupa yang dijual di kawasan Petchaburi, Bangkok.

Namun, karena begitu lengkapnya fasilitas untuk kebutuhan para pelancong, tak heran Khao San Road sangat digandrungi turis. Sebab, semua yang mereka butuhkan ada di sini. Informasi wisata Negeri Gajah Putih termasuk negara-negara tetangga bisa diperoleh disini.

Semua objek wisata di Thailand ditawarkan mulai tracking di Chiang Mai, Golden Triangle (perbatasan antara Thailand, Burma dan Laos) di Chiang Rai, sendratari Siam di Rose Garden, penangkaran buaya di Samut Prakan, atau menyusur Ancient City Ayuthaya sambil makan siang di kapal pesiar, pasar terapung di Damnoen Saduak, pusat batu permata di Kanchaburi, serta snorkeling di beberapa pulau seperti Koh Samet, Koh Samui, Phi Phi Island, dan Pantai Pattaya. Biasanya ditawarkan dalam bentuk paket lengkap dengan akomodasi, tiket masuk lokasi wisata, dan makan.

Tak heran banyak agen travel membuka usaha di sepanjang Jalan Khao San Road. Dimana-mana tertulis informasi turis. Seolah-olah tempat ini tidak pernah “tidur”.

Untuk bisa mengikuti tur di seantero Thailand, bahkan negara tetangga, cukup mudah. Caranya, tinggal pilih tujuan wisata lalu bayar sesuai harga yang tertera dalam brosur. Semua bisa dilakukan di semua travel besar atau kecil yang tersebar di Khao San Road.

Setelah itu turis mendapat semacam tanda bayar. Saat jam berangkat turis diminta datang ke kantor travel tempat memesan awal tadi. Oleh agen travel, turis dibawa ke pengepul travel untuk dikelompokkan dengan turis dari berbagai negara dengan tujuan yang sama. Setelah lengkap bus baru berangkat.
Setelah mengunjungi tempat wisata, bus akan balik mengantar kembali rombongan ke Khao San Road. Jadi, sangat simpel.

Hebatnya travel di Khao San Road tak hanya melayani paket wisata dalam negeri Thailand. Tapi, bisa menembus ke negara tetangga. Seperti, Laos, Kamboja, sampai Vietnam. Semua bisa di handle dari Khao San Road. Semua pelayanan sangat profesional dan memuaskan. Itu sudah penulis buktikan saat dari Bangkok menuju Vietnam lewat Laos. Juga saat mencari visa kabur ke Kamboja. Semua itu cukup diurus lewat agen travel di Khao San Road.

Bahkan, agen travel di Khao San Road juga mengurus visa bagi turis yang akan berpergian ke negara tetangga Thailand. Dulu sebelum Myanmar atau Burma bebas visa bagi negara ASEAN, para turis atau warga Thailand juga memmercayakan kepengurusan visa ke agen travel di Khao San Road jika hendak ke Myanmar.

Pengelolaan turis secara profesional di Khao San Road mungkin patut ditiru para pelaku bisnis pariwisata di Indonesia. Khususnya di Bali, Jawa Timur, dan Jogjakarta, yang merupakan satu paket atau satu lintasan. Sebab, turis yang datang ke Bali biasanya juga akan ke Jogjakarta. Atau sebaliknya, turis yang datang ke Jogjakarta juga akan meneruskan perjalanan ke Bali . Mereka, para turis asing itu, biasanya singgah di Gunung Bromo, Jawa Timur.

Nah, para turis tidak perlu repot-repot mengurus tetek bengek-nya. Pemesanan tempat, hotel, maupun akomodasi di daerah yang akan dikunjungi cukup pesan lawat agen travel. Jaringan travel lah yang akan mengurus semua itu secara terintegrasi untuk mengunjungi objek wisata di Bali, Jawa Timur, maupun Jogjakarta. Lokasi kunjungan turis bisa diperluas ke seluruh objek wisata penjuru Nusantara. Tentu saja penanganannya harus memuaskan dan profesional.

Jumat (26/8/2011) pagi sekitar pukul 06.00 penulis dan Mohamad Ali, fotografer Jawa Pos, sudah sampai di Khao San karena akan pergi ke perbatasan Kamboja untuk mencari visa kabur. Sebab, masa berlaku visa Thailand kami hampir habis. Dinamakan visa kabur karena memperpanjang visa Thailand harus kabur ke Kamboja lebih dulu. Di Bangkok dikenal visa kabur.

Sepagi itu banyak turis dengan ransel-ransel besar mulai berdatangan ke Khao San Road. Ada yang baru datang, ada yang akan berpergian secara kelompok. Makanya, mereka datang pagi sekali.

Di sudut lain, banyak turis mancanegara ditemani gadis-gadis lokal Thailand bersendau gurau sambil menenggak minuman di kafe-kafe yang buka 24 jam. Karena masih pagi, terlihat satu dua waria mejeng. Tapi, tak lama mereka menghilang karena matahari berangsur naik.

Sementara siang harinya jalan tersebut penuh lalu lalang turis ke toko suvenir, agen perjalanan, restoran, hotel, pijat, layanan internet, dan money changer di kawasan ini.

Pada malam hari layaknya kota turis seperti di Indonesia, khususnya Kuta, Bali, jalanan Khao San berubah menjadi kafe-kafe, tempat berjojing, minum, dan bersenang-senang. Itulah Khao San Road, sisi lain Kota Bangkok yang sehari-harinya macet. Tidak di jalan umum maupun tol. (yog/bersambung)