BERPUASA di negeri orang yang mayoritas warganya bukan pemeluk Islam harus selektif saat memilih makanan. Kalau tidak hati-hati bisa keliru makanan mengandung babi.

Bahari, BANGKOK

UNTUK memilih makanan halal, pilihannya restoran yang mencantumkan Halal atau warung dekat masjid. Kalau di Bangkok, salah satunya warung, restoran sekitar Masjid Darul Aman. Atau sekalian ikut buka bersama dengan jamaah di masjid. Selain makanan dijamin halal, juga bertemu saudara muslimin dari mancanegara.

Ratusan jamaah mengelilingi hidangan buka puasa bersama di Masjid Darul Aman di kawasan Petchaburi Road, Bangkok, Senin (22/8/2011). Agar buka puasa bersama tertib, jamaah dibagi beberapa kelompok. Setiap empat jamaah mengelilingi satu wadah berukuran besar berisi beragam makanan pembuka. Ada buah kurma, susu, es sirup, martabak, buah pir dan apel yang sudah diiris-iris, dan satu mangkuk kolak. Juga ada kerupuk.

Penulis dan Mohamad Ali (fotografer Jawa Pos) sudah dua hari berturut-turut ikut buka puasa bersama di masjid itu. Menunya selalu berganti-ganti.
Tepat pukul 18.40 waktu Bangkok, begitu azan berkumandang, jamaah pun menyantap hidangan pembuka. Tidak ada yang berebutan. Begitu ada jamaah yang baru datang, langsung dicarikan tempat oleh takmir masjid. Benar-benar tertib dan nyaman.

Sekitar tiga menit kemudian, jamaah bergegas menunaikan salat Magrib berjamaah. Usai salat jamaah bisa menikmati buka bersama yang disediakan takmir masjid.

Setiap empat jamaah mengitari nampan makanan. Ada nasi, daging empal semur, sayuran, ikan, kerupuk, krengsengan daging cincang yang disantan dan sayur-sayur sejenis manisan manisan. Kadang ada nasi kebuli ditambah daging kambing.

Jamaah masjid warga sekitar umumnya penduduk Bangkok asal Pattani, Thailand Selatan. Namun banyak juga warga negara asing seperti Malaysia, Indonesia, Nigeria, Libya, Pakistan yang kebetulan singgah di Bangkok ikut berbuka puasa.

Juga tampak musafir dari negara muslim di Timur Tengah dan negara muslim lainnya seperti Bangladesh dan India. Itu terlihat dari wajah dan pakaian atau jubah yang mereka kenakan menandakan asal negara.

Suasananya benar benar gayeng dan penuh persaudaraan. Meski di antara jamaah berbeda negara dan bangsa kadang terkendala bahasa dalam komunikasi. Tapi, itu tak menghalangi para jamaah bertegur sapa.

Paling tidak melempar senyum dan dibalas senyuman jamah lainnya. Baik saat buka bersama, saat wudu maupun usai salat berjamaah. Benar benar buka puasa yang nikmat bersama musafir dari berbagai belahan dunia.

Dari ratusan jamaah yang buka puasa sore itu, tiga di antaranya tampak mahasiswa asal Indonesia. Dua hari buka bersama di Masjid Darul Aman, penulis selalu ketemu mahasiswa asal Indonesia tadi. Makanya, setelah setelah buka bersama penulis janjian ngobrol di kafe muslim tak jauh dari masjid.
Ketiga mahasiswa itu, Yuni Wahid Asrori, 25, bujangan asal Magelang. Wahid menempuh S2 Korean Studies di University Chulalongkorn, Bangkok.

Yuni yang alumnus Fakultas Ilmu Budaya UGM Jurusan Bahasa Korea mendapat beasiswa dari Asean University Network. Sekarang kuliahnya sudah memasuki tahun kedua. ‘’Ya, hampir rampung,’’ aku Wahid.

Sedangkan Ahmad Romadhani, 30, asal Jogjakarta itu mengambil S2 Development Comunication Fakultas Agriculture, Kasetsart University. Dosen Fakultas Peternakan UGM itu juga memasuki tahun kedua mendapat beasiswa dari Dikti. ‘’Kalau selesai ya balik ke kampus lagi mengajar,’’ aku bapak satu anak itu

Satu lagi Mahmudi Yusbi, 28, yang mengambil master internasional Develompment Studies Aceh di Chulalongkorn University. Alumnus IAIN Aceh itu mendapat beasiswa dari Asean Foundation.

‘’Pertama kuliah di Bangkok, setiap naik bus ke kampus selalu kesasar,’’ kelakarnya.

Bahkan Yusbi kesulitan mencari makanan halal. Sebab, umumnya penjual makanan di Bangkok ada daging babinya. ‘’Tiga kali saya keliru makan. Tapi, karena tidak tahu ya dimakan saja,’’ katanya.

Penulis selama di Bangkok beberapa kali sempat terkecoh dengan penampilan makanan yang begitu menggiurkan. Misalnya, makanan penthol bakso yang tampak begitu lezat. Untuk membeli ragu.

Apalagi, jawaban penjual mengambang saat ditanya apakah bakso berisi daging sapi atau babi. Karena ragu, dan masuk wilayah abu-abu akhirnya penulis batalkan membeli.

‘’Sulit cari penthol bakso berbahan daging sapi. Saya tahu tempatnya yang jual bakso daging sapi. Dijamin halal. Kapan-kapan kalau sampeyan masih punya waktu di Bangkok kita ke sana,’’ ujar Ahmad Romadhani mahasiswa asal Jogjakarta itu. Tapi, karena penulis keburu meninggalkan Bangkok, niat itu tidak pernah terwujud.

Sekarang, kata Yusbi, selain sudah hafal jalan, bisa membedakan makanan halal dan tidak. Juga pernah memboyong istrinya ke Bangkok. ‘’Biar tahu seperti apa kota Bangkok,’’ tuturnya.

Lain lagi dengan Ahmad Romadhani karena terbiasa dengan makanan gudeg yang manis saat di Bangkok kaget. Karena makanan di Bangkok umumnya pedas dan sedikit kecut.

‘’Satu minggu pertama saat tiba di Bangkok saya diare karena tidak cocok makanannya,’’ terangnya.

Sementara soal jalan-jalan di Bangkok, Ahmad tidak banyak mendapat kesulitan. Sebagai kota turis, informasi soal bus, kereta dan jalan-jalan sangat lengkap.

‘’Saya tinggal beli peta. Semua ada petunjuknya di sana. Dua minggu di Bangkok saya sudah hafal rute bus di sini,’’ akunya.

Soal bahasa, Ahmad mengaku semula sempat kesulitan. Terutama saat berkomunikasi dengan warga Thailand. Sebab, tidak semua warga Thai bisa berbahasa Inggris.

Namun itu tidak lama. ‘’Setelah itu ya bisa. Meski hanya untuk survive saja,’’ akunya.

Ahmad sengaja memilih S2 di Bangkok karena bidang pertanian di negara ini maju. ‘’Bidang pertanian mungkin lebih maju 10 sampai 15 tahun dari negara kita,’’ ujarnya.

Itu tak bisa lepas dari Raja Thailand yang dari dulu memang suka bidang pertanian dan peternakan. Tak heran rakyatnya juga menyukai bidang pertanian.

Hasilnya, Thailand kini banyak memiliki bibit unggul di bidang pertanian dan buah-buahan. ‘’Itu membuktikan Thailand sangat konsen di bidang pertanian,’’ ujarnya.

Kelebihan lain di kampus-kampus Thailand internetnya gratis. Apalagi, aksesnya cukup cepat. Itu memudahkan mahasiswa mengerjakan tugas-tugasnya.

Umumnya mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Bangkok tinggal di apartemen. ‘’Ya, kalau di negara kita ya kos-kosan,’’ ujar Wahid.
Minimal untuk bisa tinggal di apartemen eh.. kos-kosan di Bangkok harus bayar sewa enam bulan. Kalau per bulannya sekitar 6.800 bath. ‘’Kalau dirupiahkan ya sekitar Rp 2 jutaan,’’ terangnya.

Fasilitas apartemen juga tidak terlalu wah. Selain dilengkapi AC, ada tempat tidur, lemari, meja belajar dan kamar mandi dalam. ‘’Satu kamar bisa untuk dua orang,’’ aku Wahid.

Saat datang kali pertama ke Bangkok, Wahid membayangkan akan banyak menemui kesulitan. Baik makanan, bahasa maupun lainnya. ‘’Ternyata di Bangkok juga banyak umat muslim. Jadi, cari makanan halal juga tidak sulit khususnya yang dekat-dekat masjid,’’ akunya.

Namun ada satu makanan yang membuat Wahid keki. Yakni, sejenis seledri tapi rasanya kecut dan cengir. ‘’Kalau kejentok makanan itu semingu tak berselera makan,’’ akunya mengenang.

Meski bujangan, Wahid mengaku belum mendapat pasangan yang cocok selama kuliah di Thailand. Meski gadis Thailand terkenal modis, cantik dan seksi. ‘’Ya, belum ada yang mau,’’ aku Wahid tergelak.

Sementara Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permita) Lesnanto Multa mengatakan ada sekitar 200 mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Thailand. ‘’Mereka tersebar di Bangkok dan Hat Yai, Thailand Selatan,’’ kata alumnus UGM itu.

Mahasiswa Indonesia tersebar di University Chulalongkorn, Asian Institute of Technology, Kasetsart University dan beberapa universitas lainnya.

Mahasiswa yang kini menempuh S2 di jurusan elektro arus kuat di University Chulalongkorn, Bangkok menambahkan, kesulitan pertama mahasiswa yang ada di Thailand adalah soal bahasa. Apalagi, umumnya satu kelas banyak diisi mahasiswa Thailand yang umumnya kurang fasih Bahasa Inggris. ‘’Kesulitannya saat ada diskusi,’’ ujar Lesnanto.

Guna mengakrabkan mahasiswa Indonesia di Thailand setiap enam bulan sekali ada pertemuan sehari. Beragam kegiatan termasuk yang bersifat out door. ‘’Dan setahun sekali rapat memilih Ketua Permita,’’ tambahnya.

Bagaimana soal biaya hidup di Thailand khususnya Bangkok? Lesnanto mengatakan mungkin sedikit lebih murah dibandingkan Jakarta. Kalau ngirit, artinya tidak beli apa-apa sebulan habis sekitar 13 ribu bath. ‘’Atau sekitar Rp 4 jutaan,’’ katanya. (bersambung)