KULONPROGO –Anggota MPR RI Siti Hediati Soeharto SE atau biasa disapa Titiek Soeharto kembali mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan dan kemurnian konsensus berbangsa dan bernegara. Itulah kesepakatan para pendiri bangsa dibangun sejak kemerdekaan Indonesia.

Ada empat pengikat yang sekarang dikenal dengan sebutan empat pilar. Yakni: Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Titiek melihat, pengamalan empat pilar kebangsaan belum benar-benar terlaksana maksimal. Hal itulah yang membuatnya prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. “Bagaimana tidak, saat sekitar tujuh juta tenaga kita menganggur dan butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka, negara ini malah dibanjiri tenaga kerja asing yang tak lebih pandai dari kita,” ungkapnya di sela acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lapangan LDII Kulonprogo, Selasa (12/6).

“Alam dan tanah subur yang Allah karuniakan kepada kita seolah-olah tidak ada artinya. Karena kita tidak dapat mengolahnya dengan baik untuk memenuhi kebutuhan pangan sehingga apa-apa masih impor,” sambungnya.

Kekayaan sumber daya alam yang melimpah pun, tegas Titiek, tidak dapat dinikmati maupun dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945.

Sebaliknya, hal ironis yang kian marak justru penyelundupan narkoba yang berton-ton jumlahnya. Yang jelas-jelas menghancurkan bangsa Indonesia. “Itulah sebagian kecil dari hal-hal yang memprihatinkan kita bersama saat ini,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu Titiek juga menjelaskan secara gamblang pentingnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih dia sebagai anggota MPR RI. Menengok amanat UU 17/2017 tentang Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) Titiek merasa punya menyosialisasikan nilai luhur Pancasila kepada masyarakat. “Sebagai anggota MPR saya wajib mengkaji sistem ketatanegaraan dan menyosialisasikannya kepada masyarakat. Membuka dialog dan menyerap aspirasi dari masyarakat berkaitan dengan penerapan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” jelas anggota Komisi IV DPR RI itu.

Titiek menegaskan, Pancasila dalam empat pilar itu merupakan dasar dan ideologi negara. UUD 1945 merupakan landasan bernegara. Sedangkan NKRI merupakan kesepakatan negara berbentuk kesatuan dengan berbagai suku bangsa, etnis, agama, dan golongan. Keberagaman itu menjadi cermin Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Kepada peserta sosialisasi, Titiek berpesan agar kesadaran dan kecintaan terhadap tanah air selalu dijaga. Dalam kesempatan tersebut, Titiek juga membagikan paket sembako bagi masyarakat. Hal ini sebagai wujud syukur dan demi meringankan beban masyarakat, sekaligus menyambut Ramadan dan Lebaran 2018.

Adapun, sosialisasi empat pilar MPR RI dihadiri Lurah Giripeni Priyanti dan Ketua LDII Kulonprogo Pandaya. Keduanya didapuk sebagai pembicara di hadapan ratusan audiens. (*/yog/fn)