Harus Pantau Gunung Merapi, Kangen Dimintai Sungkem Anak

Bertugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang menuntut selalu bersiaga selama 24 jam. full dalam seminggu. Tak terkecuali saat Lebaran. Tak jarang petugas PGM seperti Heru Suparwaka harus merayakan Hari Raya Idul Fitri di depan monitor. Jauh dari hangatnya berkumpul dengan keluarga.

Jauh Hari WS, Sleman

Pagi itu udara sejuk langsung merasuk ke dalam pori begitu me­nginjakkan kaki di kawasan Kaliurang. Bersihnya udara khas pegunungan juga seolah menjadi pelepas daha­ga bagi paru­paru yang sering ter­papar polusi di daerah perkotaan.

Suasana pagi yang tenang dan masih menyisakan sedikit kabut itu juga membuat sebagian besar war­ga Kaliurang belum tampak berak­tivitas. Mungkin, mereka masih merasakan kedinginan, walaupun sudah puluhan tahun tinggal.

Baginya, bisa menjadi petugas PGM Kaliurang merupakan se­buah kehormatan. Lantaran tanggung jawabnya menyangkut keselamatan ribuan warga. Meski, hanya duduk dan mengamati layar monitor. Sebab, dari layar monitor itulah Heru dapat menga­barkan kondisi Merapi terkini. Juga memberikan gambaran kepada masyarakat tentang bahaya yang dapat ditimbulkan gunung api teraktif di Indonesia itu.

Menurutnya, keikhlasan dan kecintaannya kepada alam In­donesia menjadi dasar pengab­diannya. Sebab, Heru mengeta­hui persis pekerjaannya sarat dengan risko. Tak jarang dalam sehari dia harus tetap terjaga lantaran aktivitas Merapi me­ningkat. Kendati begitu, Heru masih banyak merasakan suka daripada dukanya.

”Menjadi petugas PGM meru­pakan panggilan jiwa sejak lama,” ucapnya.

Karena perannya begitu vital, Pos PGM tak boleh kosong. Harus ada penjaga yang stand by. Kare­na itu pula Heru tak jarang melewat­kan momen hari libur bahkan Lebaran sekalipun bersama kelu­arganya di Klaten, Jawa Tengah.

”Yang membuat saya sedih sebenarnya ketika Lebaran tapi saya tidak ada di rumah dan anak­anak mencari saya,” tutur Heru meneteskan air mata.

”Sangat manusiawi. Kita tidak usah berbohong bahwa pada saat waktu­waktu khusus teru­tama hari besar itu anak ingin sungkem,” lanjut Heru dengan tatapan menerawang.

Semula, pria dari Bintaran ini menceritakan, istri maupun anaknya seolah keberatan de­ngan tanggung jawab pekerja­annya. Namun, berlahan Heru memberikan pengertian kepada keluarga kecilnya.

Lalu, bagaimana bila kangen dengan keluarga? Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini berbeda dengan beberapa tahun silam. Saat ini, Heru dapat berkomunikasi bahkan melihat istri maupun anaknya melalui video call.

”Beruntung, Mas. Kalau seka­rang saya bisa melihat langsung dan berbicara dengan anak dan istri lewat ponsel,” tuturnya.

Keluarga, Heru bercerita, hanya berharap dirinya selalu dalam keadaan sehat dan dilindungi. Keluarganya tak pernah mem­inta oleh­oleh saat dirinya pulang.

”Oleh­oleh saya kepada keluar­ga ya hanya kesehatan. Kan kalau materi relatif. Anak­anak kalau tahu saya sehat mereka juga sudah sangat senang,” kata pria yang kini berusia 54 tahun itu.

Menjadi petugas yang harus berjaga dan mengorbankan hampir seluruh waktu untuk keluarga memang berat. Namun, dalam hati kecilnya Heru ber­harap suatu saat dirinya dapat merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarganya.

”Saya berharap tahun ini dapat berlebaran bersama keluarga di rumah,” harap Heru. (zam/ong)