Pattani dan kawasan Thailand Selatan identik wilayah bergolak berbau separatis. Saling serang kelompok muslim dan tentara Thailand silih berganti. Tak jarang diselingi ledakan bom. Tapi, kehidupan kaum muslim Pattani di Bangkok cukup damai. Jauh dari kekerasan. Mereka bisa hidup berdampingan dengan pemeluk Buddha, mayoritas agama warga Thailand. Nah, Masjid Darul Aman di kawasan Pectbhuri Road, menjadi ‘’denyut nadi’’ kaum muslim Pattani dan Thailand Selatan di Bangkok.

SENIN malam (15/8/2011) dibawa guyuran hujan rintik rintik, penulis mengunjungi Masjid Darul Aman. Yakni, sebuah masjid yang dibangun 130 tahun lalu oleh masyarakat muslim dari Pattani, Thailand Selatan, yang bermukim di Bangkok. Jarak Pattani dan Thailand Selatan dengan Bangkok sekitar 900 kilometer- sampai 1.000 kilometer.

Kini, masjid Darul Aman menjadi pusat kegiatan dan berkumpulnya warga Thailand Selatan yang berada di Bangkok dan sekitarnya.

Seiring banyaknya kaum muslim Thailand Selatan yang memilih hijrah, menghindari konflik bersenjata. Lama kelamaan mereka akhirnya memilih menetap dan bekerja di Bangkok. Pilihan utama mereka tinggal ya di sekitar Masjid Darul Aman.

Kini, sekitar masjid berkembang menjadi pemukiman kaum muslim terbesar di Kota Bangkok. Bahkan menjadi pusat kuliner halal terbesar di Bangkok. Karena itu di sekitar masjid muncul beragam toko, restoran, warung berlebel halal.

Saat sampai di masjid penulis bergabung dengan jamaah melaksanakan salat tarawih yang dimulai pukul 20.00 dan berakhir satu setengah jam kemudian. ‘’Di sini salat tarawihnya 23 rokaat,’’ ujar Imam Masjid Darul Aman Farouk bin Haji Kosim kepada penulis..

Lokasi masjid tergolong cukup luas. Berada di kawasan strategis Kota Bangkok. Tepatnya di Pectbhuri Road, tak jauh dari KBRI Indonesia. Dilengkapi perpustakaan, pusat pengkajian Islam dan lainnya. ‘’Banyak musafir dari negara lain kalau ke Bangkok pasti mampir di masjid ini. Ada dari Libya, Pakistan, Nigeria, Saudi Arabia, dan negara berpenduduk Islam lainnya,’’ tutur Farouk yang nama aslinya Manit Hong Seng. ‘’Saya asli Thailand tapi banyak menuntut ilmu di Malaysia. Makanya, bisa cakap Melayu,’’ akunya

Klaim Farouk tidak mengada-ada. Selama dua minggu lebih tinggal di Bangkok, penulis wara-wiri dari Hotel ke Masjid Darul Aman untuk salat berjamaah maupun mencari makan dan minum di warung halal yang banyak bertebaran di sekitar Masjid Darul Aman.

Penulis beberapa kali bertemu warga Indonesia maupun warga negara Timur Tengah yang kebetulan bekerja di Bangkok. Apakah saat salat di masjid atau lagi makan di warung sekitar masjid. Saat ngobrol dengan mereka, berkunjung ke Masjid Darul Aman selain untuk melaksanakan salat juga mencari makanan halal di warung atau restoran yang banyak bertebaran di sekitar masjid.

Penulis juga beberapa kali bertemu warga Malaysia yang juga salat dan makan di warung dekat Masjid Darul Aman. Alasannya sama, selain salat juga mencari makanan yang halal. Jadi, Masjid Darul Aman dan warung sekitarnya memang menjadi jujukan kaum muslim seluruh dunia. Baik untuk melaksanakan salat atau mencari makanan halal.

Kondisi Masjid Darul Aman sendiri dikepung permukiman padat, restoran dan warung yang umumnya dimiliki pemeluk muslim dari Thailand Selatan, atau Pattani sekitarnya.

Dari jauh tidak tampak kubah Masjid sebagaimana masjid umumnya di Indonesia. Orang luar tahu ada masjid di situ karena ada tulisan besar masjid di mulut jalan kampung. Begitu masuk puluhan meter jalan kampung baru bangunan masjid terdiri dua lantai itu terlihat.

Seperti masjid umumnya di negara yang bukan mayoritas muslim. Lantai pertama untuk kegiatan administrasi, restoran, kegiatan masak- memasak, dan lainnya. Baru lantai dua yang benar-benar difungsikan sebagai tempat salat. Untuk jamaah pria berada di depan. Sedangkan jamaah perempuan di belakang. Bangunan cukup luas bisa menampung ratusan jamaah.

Farouk pun mengajak koran ini masuk ke lantai dua melihat mimbar yang terbuat dari kayu dan tiang dari kuningan, serta diberi semacam kain. ‘’Sejak masjid ini didirikan mimbar ini tak pernah diganti. Tetap berfungsi sampai sekarang,’’ tuturnya.

Kegiataan masjid saat bulan puasa, lanjut Farouk, sangat padat. Dengan hasil swadaya para jamaah, pengurus masjid selalu menyediakan takjil, makanan buka puasa bersama bagi para jamaah.

Karena jumlah jamaahnya cukup banyak, maka remaja masjid digilir piket untuk tugas memasak secara bergantian. Makan dan minum bersama dilakukan setelah salat Magrib dan usai tarawih.

Tak heran di lantai pertama selalu disediakan nampan besar berisi aneka makanan dan lauk yang umumnya dari daging sapi dan kambing untuk dimakan sekitar 4-5 orang secara bersamaan. Sedangkan lantai dua masjid digunakan salat berjamaah.

Penulis melihat, usai tarawih jamaah terbagai dalam beberapa kelompok makan bersama mengelilingi nampan besar sambil bercakap-cakap. ‘’Setiap hari pemandangannya ya seperti ini,’’ ujar Farouk.

Selain salat tarawih, juga ada kataman Alquran, juga kegiatan ibadah lainnya untuk meramaikan bulan suci Ramadan, sekaligus meningkatkan dan memperbanyak amal ibadah. Menjelang berakhirnya puasa disambung kegiatan zakat fitrah dan potong hewan kurban. ‘’Semua itu kami lakukan secara bersama-sama antara jamaah,’’ ujarnya.

Sedangkan soal menentukan masuknya bulan puasa, jatuhnya hari raya itu menjadi urusan Majelis Ugama Wilayah Thailand. ‘’ Semacam MUI kalau di Indonesia. Saya tahu karena banyak bergaul dan bertemu muslim dari Indonesia. Juga orang-orang kedutaan (RI),’’ aku Farouk yang juga Pengawas Majelis Ugama Bangkok.

Meski sebagai kelompok minoritas, umat Islam di Bangkok juga mendapat perlindungan yang sama dari negara Thailand layaknya pemeluk agama lainya. ‘’Jadi, tidak ada bedanya. Semua pemeluk agama diperlakukan sama,’’ ungkapnya.

Umat Islam di sini juga sudah terbiasa dengan kehidupan bebas warga Bangkok yang banyak didatangi turis mancanegara. Juga kehadiran dunia gemerlap hiburan malam Bangkok. ‘’Tidak masalah, kami umat Islam Bangkok sudah terbiasa hidup berdampingan dengan orang pemeluk agama lainnya,’’ ujarnya.
Bahkan warga yang bermukim di sekitar masjid pun mayoritas bukan Islam. Tapi, beragama Buddha dan lainnya. ‘’Kami bisa hidup rukun-rukun saja,’’ akunya.

Sekitar masjid pun banyak bermunculan restoran dan warung makan halal Islam yang umumnyam pemiliknya dari Pattani, Thailand Selatan.
Setiap sore menjelang buka puasa hingga waktu sahur, restoran dan warung sekitar Masjid banyak dipenuhi orang. Tak hanya umat muslim, tapi juga warga Thailand dan para turis manca negara.

Semua makanan ada di sini mulai sejenis bakso, kebab, roti cenai dengan kuah kare yang terbuat dari rempah-rempah, teh tarik seperti banyak dijumpai Malaysia dan Aceh. Juga aneka nasi goreng, sop dan tom yam dengan sambal belacan dan cah kangkung.

Harganya pun terjangkau bahkan cukup murah untuk ukuran kota turis seperti Bangkok. Nasi goreng daging misalnya, rata-rata satu piring harganya sekitar 40 bath sampai 50 bath. 1 US sekitar 29 bath. Atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

Tak heran setiap malam, kawasan warung sekitar masjid dan jalan besar banyak dipenuhi pengujung. Selain harganya terjangkau, para pelayan di sini tergolong ramah. Tak heran kawasan ini juga jadi tempat kongkow warga Bangkok di malam hari. ‘’Sudah sepuluh tahun warung atau restoran buka di sini,’’ ujar seorang penjual di situ.

Setiap buka puasa, penulis selalu mampir di warung-warung itu karena jarak hotel tempat menginap hanya cukup dekat. Hanya jalan beberapa menit. Pulangnya baru bungkus makanan untuk sahur. Selain murah juga halal. Sebab, warung makanan di Bangkok umumnya juga menjual daging babi. Kecuali restoran atau warung yang mencantumkan halal. (yog/bersambung)