JAWA Mosque dan Indonesia Masdjid menjadi tetenger kedatangan penduduk muslim Indonesia di Thailand. Keberadaan dua tempat itu sampai sekarang masih terawat baik dan menjadi ikon umat Islam di Bangkok dan wilayah sekitarnya. Berikut catatan penulis saat singgah di Jawa Mosque dalam perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat 2011.

Tulisan besar-besar huruf kapital Jawa Mosque atau Masjid Jawa tampak melintang di jalan kampung Sathorn II, Soi Rong, Namkaeng, Sathorn, Yannava, Bangkok, Thailand.

Siang itu, ibu-ibu sibuk memasak, menyiapkan buka puasa meski waktunya masih lama. Terlihat beberapa pria membersihkan masjid. Ada yang mengepel, menyapu, dan menggelar karpet dalam masjid yang berbentuk joglo itu.
‘’Saya muslim dari Indonesia. Jawa,’’ kata saya mengenalkan diri pada bapak-bapak jamaah masjid. ‘’Bapak tadi lalu berteriak-teriak memanggil nama seseorang yang lagi telepon. ‘’Jawa..Jawa..,’’ teriaknya sambil menunjuk orang yang sedang telepon.

Yang diteriaki paham lalu buru buru menghampiri penulis seraya memperkenalkan diri. ‘’Saya Pornthep. Saya asli orang Thailand, tapi muslim. Istri saya juga keturunan Jawa, tapi sudah meninggal,’’ ujar Pornthep mengenalkan diri.

‘’Saya dulu bekerja di Embassy Indonesia. Sekarang sudah tidak lagi,’’ tambahnya. ‘’Makanya, saya bisa cakap Melayu meski sedikit,’’ akunya. ‘’Itu orang-orang keturunan Jawa semua tapi sudah tidak bisa berbahasa Melayu apalagi Jawa,’’ tuturnya.

Bapak-bapak yang ditunjuk Pornthep rata rata badanya tinggi besar itu hanya manggut-manggut. Meski tidak memahami apa yang kami bicarakan. Salah satunya, Kasim. Perawakannya tinggi besar dan berkulit kuning. ‘’Dia itu setengah Jawa,’’ tambah Pornthep.

Sesuai prasasti berbahasa Thailand yang ada di masjid menggunakan, Pornthep menerjemahkan, ada lima imam masjid yang tercatat pernah menjadi pengurus atau pengguasa Masjid Jawa. Mereka sudah meninggal semua.

Yakni, Haji bin Tahir, Haji Ismail bin Idris, Haji Sumaen bin Lalwiyah, Muhamad Nuyon Sulemen, dan Haji Abdurahman Haji Abdulah. Masjid dibangun 1326 Hijriah atau 2448 tahun Buddha yang seribu tahun lebih dulu dari tahun Masehi.

Tiba-tiba melintas seorang perempuan tinggi besar, berparas menarik dengan kulit terang sambil meneteng tas jinjing kecil. ‘’Itu juga keturunan Jawa,’’ ujar jamaah saat perempuan tadi melintas dekat Masjid. ‘’My name Jumiati. I am no speak Indonesia,’’ ujar Jumiati , 50 , pada penulis dan Muhammad Ali, fotografer Jawa Pos yang mendampingi penulis hingga Bangkok.

Dia mengaku keturunan Jawa dari generasi ketiga. Bapaknya bernama Haji Samsuri Hasan. Sedangkan kakeknya Haji Kasran, orang Jawa asli. ‘’Tapi, saya tidak tahu di mana Jawanya. Bapak tidak pernah bercerita,’’ tuturnya. Apalagi, mengajak pulang keluarganya ke kampung halamannya. ‘’Jadi kami ini orang Jawa tapi tidak tahu di mana Jawanya,’ ujar Jumiati.

Menurut dia, keturunan orang Jawa sudah beranak pinak, bahkan menikah dengan warga muslim Thailand lainnya. Jumlahnya ada ratusan yang tersebar di sekitar Masjid Jawa. Mereka keturunan Jawa yang bisa berbahasa Indonesia. Tak ada lagi Jawa asli karena mereka sudah meninggal. Kuburan kaum muslim dan orang Jawa pun ada di samping dan belakang masjid.

Di samping Masjid Jawa memang ada area kuburan cukup jembar. Kaum muslim sekitar sini kalau meninggal dikubur di situ. Meski cukup luas kuburannya terawat bersih, bahkan dipagar tembok keliling.

Masjid Jawa berarsitektur mirip rumah joglo. Namun dari luar tak begitu terlihat karena tertutup bangunan sekitarnya yang umumnya tinggi-tinggi. Hanya tulisan besar berhuruf kapital “JAWA MOSQUE” melintang tampak dari kejauhan.

Para ibu dan bapak terus melakukan pekerjaan masing masing. Setelah memasak mereka membereskan, menaruh beberapa alat memasak di sudut masjid yang tidak mengganggu jamaah. Ada kompor, wajan, piring dan peralatan lainya. Sebagaian makanan untuk memenuhi buka puasa yang sudah matang disiapkan jamaah di samping masjid.

‘’Kalau tidak bulan Ramadan masjid ini ramai. Ada sekolah Islam anak-anak di sini,’’ujar Jumiati seraya menunjuk bangku di halaman masjid tempat anak-anak belajar. ‘’Nanti habis buka puasa baru ramai. Anak-anak mengaji sampai waktu Isya disambung salat tarawih,’’ tuturnya.

Jumiati pun menuturkan, Madjid Jawa sering dipakai pertemuan kaum terpelajar dan intelek Islam di wilayah Bangkok dan sekitarnya. Selain sebagai ajang silahturahmi, juga tukar pikiran tentang perkembangan agama Islam di Bangkok dan Thailand. ‘’Jadi, kalau Anda punya waktu datang Sabtu malam. Pasti ramai,’’ ingatnya. ‘’Supaya Anda juga tahu perkembangan Islam di Bangkok,’’ katanya mengulang. ‘’Insya Allah,’’ jawab penulis dan Ali.

Dia pun pamit balik sebentar ke rumah yang tak jauh dari masjid. Saat balik dia menenteng sesuatu. ‘’Ini foto suami saya yang sudah meninggal. Dia juga keturunan Jawa,’’ kata Sumiati yang dikarunia dua putra itu.

Sebelum meningalkan Jawa Pos, Sumiati memberi sebungkus buah korma. ‘’Nanti untuk berbuka puasa. Saya mau besuk saudara yang sakit. Nati keburu ruamh sakitnya tutup,’’ tuturnya ramah seraya pamitan ke penulis.

Tak lama azan Duhur berkumandang. Satu per satu jamaah datang. Hari itu belasan orang ikut salat berjamaah. Raut muka-muka Jawa sangat familiar tampak di antara jamaah. Umumnya perawakan mereka tinggi besar.

Salah satunya, Idrus yang berpakaian rapi layaknya orang kantoran. ‘’Saya juga keturunan Jawa tapi sudah tidak bisa bahasa Indonesia, apalagi Jawa. Juga tidak tahu sejarah kedatangan orang Jawa ke sini,’’ aku Idrus. ‘’Saya harus buru-buru kerja di Company Japan,’’ akunya buru buru pergi seraya menjabat tangan penulis.

Menurut sejarah, kedatangan orang Indonesia ke Thailand secara bergelombang karena hubungan baik antara Kerajaan Sriwijaya yang menguasai Nusantara saat itu dengan Kerajaan Thailand. Terbukti, banyak kesamaan adat dan kebisaan kedua masyarakat itu.

Dari hubungan kedua masyarakat, muncullah jejak-jejak komunitas Indonesia di Thailand tercatat mulai muncul di abad ke-17. Dahulu sekelompok orang dari Makassar sempat tinggal di Bangkok. Wilayah tempat mereka tinggal sekarang dikenal dengan nama Distrik Makasan (bukan Makkasar).

Sejarah juga mencatat kunjungan Raja Chulalongkorn (Rama V) ke Jawa sebanyak tiga kali pada 1871, 1896, dan 1901. Kabarnya Raja Chulalongkorn sangat terkesan dengan keindahan taman di Jawa ( baca Bogor).

Dari kunjungannya tersebut, Raja Chulalongkorn membawa beberapa tukang kebun untuk dipekerjakan di kebun istananya serta membawa tumbuhan eceng gondok (dalam bahasa Thai disebut Phak Tok Chawa).

Para tukang kebun dari tanah Jawa ini kemudian menjadi cikal bakal komunitas orang Jawa di Bangkok. Sementara tanaman eceng gondok hingga sekarang terus berkembang biak di Thailand. Bahkan, Sungai Chao Praya yang membelah Kota Bangkok dipenuhi tanaman eceng gondok.

Gelombang ketiga kedatangan orang Indonesia ke Thailand dengan masuknya para romusha dan heiho dari Indonesia yang dibawa paksa Jepang untuk kepentingan Perang Dunia ke-2. Para keturunan romusha dan heiho inilah yang kemudian semakin memperbesar komunitas orang Jawa di Bangkok sehingga membentuk “Kampung Jawa”. Mereka juga membangun Masjid Jawa seperti sekarang atau penduduk sekitar menyebutnya “Surau Chawa”.(yog/bersambung)