Menelisik sejarah penyebaran agama Islam di Propinsi Jambi tak bisa dilepaskan dari Masjid Seribu Tiang yang menjadi ikon kota Jambi. Dan, pemukiman kampung Olak Kemang Kecamatan Danau Teluk Jambi atau kini lebih dikenal sebutan Seberang Kota Jambi (Sekoja), adalah lokasi kali pertama penyebaran Islam di Jambi hingga meluas ke wilayah sekitarnya.

Laporan Bahari

MALAM itu (10/8/2011) pukul 23.00 menjelang pergantian hari kota Jambi lengang. Warga yang memadati pusat keramaian, pertokoan dan pusat perbelanjaan, atau sekadar menikmati kerlap kerlip lampu di Jembatan Sungai Batanghari yang membelah kota Jambi– usai salat taraweh beringsut sepi saat malam merambat.

Begitu juga suasana Masjid Al Falah atau biasa dikenal Masjid Seribu Tiang tampak sepi. Hanya beberapa satpam berjaga dan jamaah bersiap melaksanakan salat tengah malam.’’Cari siapa?’’ tanya satpam ramah. Setelah dijelaskan tujuannya, satpam tadi memanggil takmir masjid lalu menghampiri penulis. Namanya singkat saja; Zubair.

Semilir angin malam menemani kami ngobrol di beranda masjid yang desainnya dibuat tidak berdinding itu. Hingga angin leluasa masuk ke setiap sudut masjid. Suejuk…

’’Masjid mulai dibangun mulai 1971 dan diresmikan 1980 oleh Presiden Soeharto saat itu,’’ tutur Zubair mengawali ceritanya.

Zubair lalu menyodorkan buku tipis tentang sejarah pembangunan Masjid Agung Al-Falah yang dipakarsai Sekda Propinsi Jambi saat itu H Abdurrahman Sayoeti dan didukung segenap ulama dan tokoh masyarakat Jambi saat itu.
’’Sebenarnya jumlah tiang penyanggah masjid aslinya hanya 232. Tapi, bagitu banyaknya tiang orang pun menyebut Masjid Seribu Tiang,’’ ungkapnya.

Masdjid Seribu Tiang tak hanya menjadi ikon Propinsi Jambi. Tapi, lokasi yang ditempati masjid sekarang sangat bersejarah bagi kota Jambi.

Selain banyak tiang, keunikan masjid ini tidak berdinding. Kecuali bagian mirab dan sisi barat yang diisi ukiran dan ornamen ayat suci Alquran. ‘’Soal bentuk desain masjid itu hasil sayembara. Dan, pemenangnya ya desain masjidnya bentuknya seperti sekarang ini ,’’ tuturnya.

Di lokasi masjid berdiri sekarang ini dulunya tanah milik Kerajaan Melayu Jambi. Tapi, pada tahun 1885 tanah dikuasai Belanda dan dijadikan lokasi benteng.

Setelah Indonesia merdeka lokasi benteng Belanda itu dikuasai kmbali pemerintah RI lali dijadikan Markas Korem.

Pemerintah Jambi lalu mengajukan ijin, dan permintaan pada pemerintah pusat soal rencana pembangunan masjid agung dengan lokasi tanah bekas benteng Belanda itu. Akhirnya permintaan warga Jambi dikabulkan pemerintah Soeharto yang saat itu berkuasa.

Seberang Kota Jambi Sarat Sejarah
Sementara jejak masuk Islam ke Jambi sekitarnya tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya kampung Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk Jambi atau lebih dikenal sekarang dengan sebutan Seberang Kota Jambi (Sekoja). ‘’Dulu di sini pusat kota Jambi. Bahkan kalau mau ke Riau orang melalui kampung ini . Tapi, sekarang jadi kampung pinggiran,’’ kata Haji Anas tokoh masyarakat di kampung itu.

Itu terlihat dari jejak makam Sultan Jambi terakhir yakni, Sultan Sayyid Idrus bin Hasan Al Jufri yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo seperti ditulis As-sayyid Salim Bin Abubakar Al Muhdhor dalam bukunya Perjuangan dan Dakwa Al Habib As-Sayyid Idrus bin Hasan Al Jufri atau dikenal Pengeran Wiro Kusumo.

‘’Beliau (penulis buku) tahu banyak soal itu. Sayang beliau baru meninggal,’’ ujar Said Salim Al Jufri, menantu penulis buku Wiro Kusumo.

Kini, lokasi kuburan Pangeran Wiro Kusumo satu komplek dengan Masjid Ikhsaniyah yang berlokasi di kampung Olak Kemang Jambi.

Tak jauh dari situ ada istana peninggalan Wiro Kusumo yang lokasinya hanya terpaut 50 meter dari kuburanya sekarang.

Sayang bekas istana itu sudah tidak terawat dan rapuh. Dan, kondisinya rusak di sana sini. ‘’Sudah beberapa kali pemerintah berjanji memugar tapi sampai sekarang tinggal janji. Tak pernah diwujudkan,’’ ujar Said.

Pihak keluarga dan turunan Wiro Kusumo menginginkan pemerintah memugar kuburan Wiro Kusumo dan istananya untuk dijadikan ikon penyebaran Islam di Propinsi Jambi.’’ Itu yang kami inginkan,’’ tambah Said.

Bahkan jika nantinya dikelola seperti komplek makam para Wali Songo di Jawa, kampung Olak Kemang kecamatan Danau Teluk akan menjadi jujukan wisatawan religius. ‘’Sekarang peziarah daerah kerap mendatangi makam dan masjid di komplek kampung ini,’’ tambah Said.

Bahkan saat acara haul Wiro Kusumo, para santri, murid dan kerabat dan turunanya berdatangan dari seluruh penjuru termasuk luar negeri. ‘’Itu menujukkan bahwa Pangeran Wiro Kusumo seorang ulama besar.’’

Selain itu dengan direkontrusinya makan dan sejarah di kampung Olak Kemang, akan memberi pemahaman pada generasi muda bahwa lokasi penyebaran agama Islam kali pertama di Jambi ya di kampung ini. ‘’Itu saja keinginan kami,’’ ungkapnya.

Apalagi, kebisaaan dan adat istiadat yang dilakukan Wiro Kusumo semasa hidup masih dilestarikan turun temurun oleh anak cucunya dan para pengikutnya. Seperti menyantap makan dalam tempeh (wadah besar terbuat anyaman bambu) ramai-ramai. ‘’Pokoknya adat istiadat Arab tetap dilestarikan disini. Karena Pangeran Wiro Kusumo turunan Arab,’’ ujarnya.

Wilayah Kampung Olak Kemang Kecamatan Danau Teluk atau biasa dikenal Seberang Kota Jambi (Sekoja) yang berada di persis di tepi Sungai Batanghari yang cukup lebar.

Hanya ada satu pintu masuk melalui jembatan untuk menuju kampung yang rumah rumah lawasnya terbuat dari tembok permanen dan masih terawat baik. Kesannya kokoh dan mapan. ‘’Dulu di sini memang pusat perdagangan. Jadi, wajar kalau penduduknya cukup makmur,’’ ungkap Said.

Tapi, warga di sini sempat menolak saat pemerintah akan membuka jembatan di wilayah kampung ini? ‘’Bukannya menolak tapi, masih ada masalah tanah yang belum kelar. Apalagi, itu harus dirudingkan dengan ahli waris,’’ tambah Haji Anas.

Soal penyebaran Islam di Jambi diawali kedatangan rombomgan kapal dari Kerajaan Turki untuk menyebarkan agama Islam yang dipimpin Ahmad Ilyas. Nahas kapal yang ditumpangi mengalami kerusakan dan terdampar di Pulau Berhalo pada 1120 H.

Oleh rakyat Jambi Ahmad Ilyas diberi gelar Datuk Paduka Berhalo karena berhasil menyebarkan agama Islam di wilayah itu.

Tahun 1138 Ahmad Ilyas mendatangkan ulama dari Hedramaut ketutunan Ahlul Bait Rasulullah yakni, Sayyid Husin bin Ahmad bin Abdurahman.

Kedatangan mereka disambut hangat rakyat Jambi. Dari sanalah lahir Kerajaan Islam di Jambi. Nah, sultan terakhir Jambi adalah Sultan Sayyid Idrus bin Hasan Al-Hufri yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo.

Dimana lokasi makamnya terletak di komplek Masjid Ikhsaniya di Kampung Olak Kemang Kecamatan Danau Teluk Jambi. Juga bekas istananya tak jauh dari makam dengan kondisi memprihatinkan. (Bahari/bersambung)