DARI Kudus, Jawa Tengah, perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat berlanjut ke Jawa Barat. Penulis ziarah makam Sunan Gunung Jati yang berada di pinggiran Kota Cirebon. Dari terminal ke arah Kabupaten Indramayu yang berjarak sekitar 8 kilometer.

Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Wali Sanga yang berasal dari Jawa Barat.

Seperti kompleks makam Wali Sanga umumnya, area makam Sunan Gunung Jati dipenuhi kios penjual aneka pernik-pernik khas Cirebon. Kompleks makam berada di Desa Astana Gunung Jati, Cirebon, itu dikelola abdi dalem.

Jumlahnya, 123 orang. Mereka terbagi dalam 9 shift tugas. Angka sembilan merujuk pada sembilan golongan latar belakang abdi dalem. ’’Kami ini keturunan para laskar Kanjeng Sunan,’’ tutur Surgi, salah seorang abdi dalem kepada penulis Sabtu (6/8/2011). ‘’Saya menggantikan bapak, kalau nanti saya meninggal giliran anak saya menggantikan,’’ lanjutnya.

Ada sembilan pintu undak-undakan menuju makam Sunan Gunung Jati yang harus dilalui peziarah. Tapi, yang dibuka hanya sampai pintu kelima. Disebut pintu pasujudan. Itulah batas pengujung. ‘’Perlu izin kalau ingin masuk ke makam Kanjeng Sunan,’’ ujar Masyuri, abdi dalem lainnya.

Menariknya, banyak guci, piring, dan ornamen Cina lainnya bertebaran di area kompleks makam. Ada pula gentong Cina yang difungsikan sebagai tempat wudu, pajangan, bahkan lukisan dinding.

Ini peninggalan Hong Tin atau dikenal Nyak Mas Rara, salah seorang istri Sunan Gunung Jati yang merupakan anak Kaisar Cina dari Dinasti Ming yang memeluk Islam.

’’Hong Tin dikenal karena meninggalkan guci-guci Cina yang dibawa saat ke Cirebon,’’ jelas Masyuri.

Istri Kanjeng Sunan lainnya ada yang dari Cirebon, Banten, bahkan Kerajaan Mataram. ‘’Kalau di Jawa Timur ada lima wali, di Provinsi Jawa Barat dan Banten hanya satu wali. Yakni, Sunan Gunung Jati. Makanya, ini jadi kebanggaan masyarakat kedua provinsi,’’ ujarnya.

Di kompleks makam kerap digelar ritual besar-besaran, seperti garebeg sejenis Mauludan dan Syuroan. ‘’Pesertanya bisa puluhan ribu orang,’’ ujar Masyuri.
Sunan Gunung Jati atau dikenal dengan nama lain Syarif Hidayatullah sangat berjasa menyiarkan Islam di Jawa Barat dan Banten. Beberapa laskar Kerajaan Padjadjaran yang menolak ajaran Islam menyingkir ke daerah yang dikenal dengan sebutan Badui di Cibeo, Banten, yang sampai sekarang tetap keukeuh menganut kepercayaan Sunda Wiwitan.

Siapa sosok Sunan Gunung Jati? Dari berbagai sumber dirangkum penulis dikisahkan, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran bernama Pangeran Walangsungsang dan adik perempuannya, Rara Santang, mendapat mimpi sama pada suatu malam. Mimpi berulang sampai tiga kali. Mereka bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan agama Islam.

Wajah Nabi Muhammad SAW yang agung dan cara menjelaskan Islam sangat memesona, sehingga membuat keduanya merasa rindu Islam. Kebetulan mereka mendengar keberadaan Syekh Kahfi, atau biasa disebut Syekh Datuk Kahfi, membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan maksud ke Prabu Silliwangi berguru ke Syekh Kahfi. Kakak beradik itu ingin memperdalam agama Islam seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Tapi keinginan mereka ditolak Prabu Siliwangi.

Pangeran Walangsungsang dan adiknya nekat. Keduanya kabur dari istana dan pergi berguru ke Syekh Kahfi di Gunung Jati. Setelah berguru beberapa lama, Pangeran Walangsungsang diperintahkan Syekh Kahfi membuka hutan di selatan Gunung Jati. Sesungguhnya, dia seorang pemuda sakti. Maka, tugas itu diselesaikannya dalam beberapa hari.

Daerah baru dijadikan padukuhan. Makin hari banyak orang berdatangan menetap dan menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah daerah itu ramai, dia diangkat sebagai kepala dukuh dengan gelar Cakrabuana. Lalu, daerah tersebut dinamakan Tegal Alang-Alang.

Banyak pedagang asing menjadi penduduk setempat, sehingga terjadilah pembauran berbagai ras dan percampuran dalam bahasa Sunda. Akibatnya, Tegal Alang-Alang disebut Caruban.

Sebagai besar rakyat Caruban bermata pencarian pencari udang, lalu dibuat petis. Dalam bahasa Sunda, petis udang disebut “cai rebon”. Kemudian, daerah Caruban lebih dikenal sebagai Cirebon hingga sekarang. Setelah dianggap memenuhi syarat, Pangeran Cakrabuana dan adiknya diperintah Syekh Kahfi melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Mereka berdua berangkat ke Makkah. Sesampainya di kota suci Makkah, kedua kakak beradik tinggal di rumah ulama besar bernama Syaikh Bayanillah sambil menambah pengetahuan agama. Saat thawaf mengelilingi Kakbah, keduanya bertemu Raja Mesir Sultan Syatif Abdullah yang juga sedang menjalani ibadah haji. Raja Mesir itu tertarik wajah Rara Santang yang mirip almarhumah istrinya.

Sesudah ibadah haji, raja Mesir itu melamar Rara Santang pada Syekh Bayanillah. Rara Santang dan kakaknya tidak keberatan. Maka pernikahan dilangsungkan sesuai Mazhab Syafi’i. Nama Rara Santang lantas diganti menjadi Syarifah Mudaim. Dari perkawinan tersebut, lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.

Pangeran Cakrabuana berkesempatan tinggal di Mesir selama tiga tahun. Dia kemudian pulang ke Jawa dan mendirikan Negeri Caruban Larang. Negeri itu perluasan dari daerah Cirebon. Pola pemerintahannya menggunakan azas Islam. Dalam waktu singkat, negeri tersebut terkenal seluruh Tanah Jawa, bahkan terdengar oleh Prabu Siliwangi, selaku penguasa Jawa Barat. Setelah mengetahui negeri baru dipimpin putranya sendiri, maka sang raja tidak keberatan, meski hatinya kurang berkenan. Akhirnya, sang Prabu merestui tampuk pemerintahan putranya, bahkan dia memberinya gelar Sri Manggana.

Dalam usia muda, Syarif Hidayatullah ditinggal mati ayahnya. Dia ditunjuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Mesir. Tapi, Syarif yang saat itu berusia 20 tahun menolak. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke Jawa, untuk berdakwah di Jawa Barat. Kedudukannya lantas diberikan kepada adiknya, Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulama besar Timur Tengah.

Dalam usia sangat muda, ilmunya sudah sangat mumpuni. Makanya, dia tidak kesulitan melakukan dakwah ketika pulang ke Tanah leluhurnya, yaitu Jawa Barat.

Syarif Hidayatullah dan ibunya datang ke Negeri Caruban Larang pada 1475. Sebelumnya sempat singah di Gujarat dan Pasai untuk memperdalam agama Islam. Keduanya disambut gembira Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Mudaim itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat makam gurunya. Syarifah Mudaim pun minta diizinkan tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati.

Syarifah Mudaim dan putranya, Syarif Hidayatullah, lantas meneruskan kiprah Syekh Datuk Kahfi. Hingga kemudian hari Syarif Hidayatullah terkenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Pangeran Cakrabuana menikahkan putrinya, Nyi Pakungwati, dengan Syarif Hidayatullah. Karena usianya telah lanjut, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan Negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah pada 1479 dengan gelar Susuhan, yaitu orang dijunjung tinggi.

Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Kerajaan Padjadjaran. Mengunjungi kakeknya, Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam tetapi tidak mau. Meski Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah Padjadjaran.

Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanannya ke Serang, Banten. Penduduk Serang sudah masuk Islam dikarenakan banyaknya saudagar dari Arab dan Gujarat sering singgah di tempat itu. Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik Adipati Banten. Bahkan, Syarif Hidayatullah dijodohkan dengan Nyi Kawungten, putri adipati Banten.

Dari perkawinan itu Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang putra, yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama Islam di Jawa, Syarif Hidayatullah tidak bekerja sendirian. Beliau sering bermusyawarah dengan anggota para wali lainnya di Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu pendirian Masjid Demak.

Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para wali lainnya, Syarif Hidayatullah lantas mendirikan Kasultanan Pakungwati dan memploklamasikan diri sebagai raja pertama bergelar Sultan. Dengan berdirinya Kesultanan tersebut, Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Kerajaan Padjadjaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh.

Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon, maka makin bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti Surakanta, Japura, Wanagiri, dan Telaga menyatakan diri menjadi wilayah Kasultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besarlah Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Di antaranya, Cina.

Bahkan, salah seorang keluarga Istana Cirebon menikah dengan pembesar dari Cina yang berkunjung ke Cirebon, yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan Negeri Cina makin erat.

Bahkan, Sunan Gunung Jati pernah diundang ke Cina dan menikah dengan putri Kaisar Cina bernama puteri Ong Tien. Kaisar Cina dari Dinasti Ming saat itu juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan Negeri Cina, hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.

Sesudah menikah dengan Sunan Gunung Jati, Putri Ong Tien diganti namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Putri Ong Tien dibelaki ayahnya dengan harta benda yang tidak sedikit. Sebagian besar barang-barang peninggalan Putri Ong Tien yang dibawa dari Negeri Cina itu sampai sekarang masih ada dan tersimpan di Istana Cirebon dan Masjid Cirebon, kemudian dipercantik lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari Negeri Cina.

Masjid Agung Sang Ciptarasa itu dibangun atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati, istri lain Sunan Gunung Jati. Pembangunan masjid itu melibatkan banyak pihak. Di antaranya, Wali Sanga dan beberapa tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah.

Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan mendirikan Saka Tatal sebagai lambang persatuan umat. Selesai membangun masjid, diteruskan pembangunan jalan raya yang menghubungkan Cirebon dengan daerah-daerah kadipaten lainnya. Upaya ini untuk memperluas pengembangan Islam di seluruh Tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Padjadjaran justru semakin terhimpit. (yog/bersambung)