Makam Sunan Muria atau Raden Mas Said terletak di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Lokasinya cukup elok nan eksotis. Dari ketinggian Makam Muria terlihat nun jauh Kota Kudus dan Pati. Tempat ini menjadi persinggahan kedua Haji Nekat Lewat Jalur Darat di wilayah Jawa Tengah.

Tata letak bangunan kompleks makam Sunan Muria tertata rapi mengikuti kontur tanah hingga tampak artistik. Selain bersih arsitekturnya dibangun dengan sentuhan modern berlantai mengkilat dan bersih. Ditambah ukiran kayu jati hampir memenuhi sekitar makam. Karena itu makam itu biasa disebut griya atau rumah ukir.

Di beberpa sudut makam tampak kamera CCTV. Tempat wudu pun bersih dengan keramik mengkilat. Tidak ada bau pesing seperti banyak dijumpai tempat wudu bersebelahan dengan tempat kencing.

Begitu kran dibuka airnya mengalir joss. Air yang diambil dari sumber Gunung Muria sangat bersih.

Itu karena hutan sekitar Gunung Muria masih terlihat lebat dengan udara cukup sejuk. Tak heran kini banyak bermunculan vila di sekitar wilayah kompleks makam.

‘’Warga sekitar dilarang menebang pohon. Kalau bercocok tanam harus disela-sela pohon,’’ ujar Heri, seorang pengojek lokal.

Sampai di Desa Colo pengujung tidak harus naik anak tangga mencapai 500 lebih itu. Ada ratusan tukang ojek melayani 24 jam peziarah. ‘’Tukang ojek dibagi shift siang dan malam,’’ kata Heri, salah seorang tukang ojek. ’’Sekali naik ongkosnya hanya Rp 7 ribu,’’ tambahnya.

Tak kurang 600 kios berderet-deret mengikuti kontur tanah menjual aneka suvenir juga bisa menjadi tempat rehat para pengunjung.

Seperti apa sosok Sunan Muria yang memilih dakwah di daerah ketinggian Desa Colo? Dari berbagai sumber menyebutkan, Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah caranya menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.

Tempat tinggal beliau di Gunung Muria, yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara Kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut, dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah dalam menyampaikan syiar Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

Sunan Muria itu wali sakti, kuat fisiknya. Menuju ke makam Sunan Muria pun perlu tenaga ekstra karena berada diatas bukit tinggi.

Bayangkanlah, Sunan Muria dan istrinya, serta para muridnya setiap hari harus naik turun bukit guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Atau, berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Jangan bayangkan jalannya mulus seperti sekarang. Dulu hanya jalan setapak. Kalau hujan jelas sangat licin.

Sunan Muria juga dikenal guru sakti mandraguna seperti termaktub dalam kisah perkawinan dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Sunan Ngerang, seorang ulama disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya. Tempat tinggalnya di Juana.

Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus pun berguru kepada beliau.

Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia putrinya Dewi Roroyono genap 20 tahun. Murid-muridnya diundang semua. Seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, Kapa, dan adiknya, Gentiri.
Setelah tamu berkumpul, Dewi Roroyono dan adiknya, Dewi Roro Pujiwati, keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya cantik jelita. Terutama Dewi Roroyono. Ibarat bunga sedang mekar-mekarnya.

Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang berbekal ilmu agama dapat menahan pandangan matanya, sehingga tak terseret godaan Iblis. Tapi murid Sunan Ngerang lainnya, Adipati Pathak Warak, memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip. Dia takjub kemolekan gadis itu.

Saat jadi cantrik Sunan Ngerang, ketika Pathak Warak belum menjadi adipati, Roroyono masih kecil, belum tampak kecantikannya. Sekarang gadis itu membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu.

Dibakar nafsu setan, Pathak Warak tak tahan lagi. Dia menggoda Roroyono ucapan-ucapan tidak pantas, bahkan bertindak kurang ajar memegangi tubuh Roroyono yang tak pantas disentuh.

Tentu saja Roroyono malu dan naik pitam. Nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang adipati. Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah diperlakukan seperti itu. Apalagi para tamu undangan menertawakan kekonyolan itu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat gadis itu putri gurunya.

Roroyono masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan Pathak Warak.

Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah pulang. Tamu dari jauh menginap di rumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak tak bisa tidur memikirkan kemolekan tubuh Roroyono.

Pathak Warak pun mengendap-ngendap ke kamar Roroyono. Gadis itu diserepnya sehingga tak sadarkan diri. Lewat genting Pathak Warak masuk dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri.

Setelah Sunan Ngerang mengetahui putrinya diculik Pathak Warak, beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya kembali ke Ngerang akan dijodohkan dengan Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua maklum kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.

‘’Saya akan berusaha mengambil Diajeng Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, ‘’ kata Sunan Muria.

Tetapi di tengah perjalanan Sunan Muria bertemu Kapa dan Gentiri, adik seperguruannya lebih dulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu heran. “Mengapa kakang tampak tergesa-gesa ke Keling?” tanya Kapa. Sunan Muria menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak.

Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan. Keduanya menyatakan diri membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.

Sunan Muria lantas dianjurkan pulang ke Padepokan Gunung Muria karena murid-muridnya sangat membutuhkan bimbingan. ‘’Biarlah kami berusaha merebut diajeng Dewi Roroyono kembali. Kalau berhasil Sunan Muria tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar membantu,’’ kata Kapa.

‘’Aku masih sanggup untuk merebutnya sendiri,’’ ujar Sunan Muria. ‘’Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali, ‘’kata Kapa ngotot.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata minta bantuan seorang Wiku Lodhang Datuk di Pulau Sprapat yang dikenal tokoh sakti. Usaha itu berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.

Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang. Ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Di tengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak. ‘’Hai Pathak Warak berhenti kau!’’ bentak Sunan Muria.
Pathak Warak yang naik kuda berhenti karena Sunan Muria menghadang di depannya. ‘’Minggir!! Jangan menghalangi Jalanku,’’ hardik Pathak Warak.

‘’Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono,’’ balas Sunan Muria sengit.
‘’Goblok!! Dewi Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri!! Kini aku hendak mengejar mereka,’’ umpat Pathak Warak yang ingin merebut kembali Dewi Roroyono.

Suna Muria pun berujar, ‘’Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Dewi Roroyono telah dijodohkan denganku,’’ ujar Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.
Tanpa basa basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Dia merangkak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian.

Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak roboh di tanah. Seluruh kesaktiannya lenyap dan dia menjadi lumpuh. Dia tak mampu bangkit berdiri, apalagi berjalan.

Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut gembira Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita jujur bahwa mereka yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Dewi Roroyono. Maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria. Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan.

Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah tanah di Desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang hidupnya serba berkecukupan.

Sedangkan Sunan Muria memboyong istrinya ke Padepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia sebagai pasangan yang ideal.

Entah bisikan setan apa hingga membuat Kapa dan Gentiri ingin merebut Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka berdua kepincut kemolekan Dewi Roroyono.

Saat Sunan Muria berdakwah ke luar Colo, Kapa dan Gentiri menyelinap ke Colo dan menculik Dewi Roroyono. Begitu mendengar istrinya diculik, Sunan Muria mencari Kapa dan Gentiri.

Dalam perang tanding kedua kakak beradik tadi dapat dikalahkan Sunan Muria. Dewi Roroyono pun diboyong kembali Sunan Muria ke Desa Colo. Mereka hidup rukun, damai dan bahagia. (yog/bersambung)