BERAGAM cara dilakukan Wali Sanga dalam syiar Islam untuk menarik simpati warga yang saat itu umumnya beragama Hindu dan Buddha. Tujuannya, agar mereka mau menerima ajaran Islam. Seperti dilakukan Sunan Kudus. Dia menggunakan media sapi untuk mendekati masyarakat beragama Hindu. Binatang ini sangat dihormati pemeluk Hindu. Dan, terbukti sukses.

Dari Tuban ziarah Wali Sanga berlanjut ke Jawa Tengah, tepatnya kota Kudus. Perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat di Jawa Tengah diawali di kompleks makam Sunan Kudus.

Sore itu, suasana kompleks makam Kanjeng Sosohunan Koedoes Djakfar Sodik, begitu seperti tertulis di depan makam, cukup ramai.

Selain banyak jamaah menunggu buka puasa, ada juga kelompok menggelar pengajian di salah satu sudut komplek makam.

Arsitektur masjid di kompleks makam Sunan Kudus sangat khas. Yakni, mulai pagar sampai menara dibangun menggunakan tumpukan batu bata tanpa semen. Hanya ditumpuk. Ajaibnya bisa bertahan ratusan tahun. Memang ada sedikit bagian rusak lalu disemen. Tapi, umumnya masih terjaga baik. Bahkan Menara Kudus masih berfungsi hingga sekarang.

Menariknya, bentuk menara menyerupai candi. Itu tak lepas dari cara dakwah Sunan Kudus yang tidak begitu frontal menentang adat istiadat warga yang saat itu memeluk agama Hindu. Taman depan halaman masjid juga terlihat cantik dengan aneka tanaman yang terawat rapi.

Dirangkum berbagai sumber menyebutkan, Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji (Sunan Ngudung dari Jipang Panolan, utara kota Blora). Di dalam Babad Tanah Jawa, disebutkan Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Kerajaan Demak melawan prajurit Majapahit. Sunan Ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran sengit Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan syahid. Kedudukannya sebagai Senopati Demak digantikan Sunan Kudus, putranya sendiri, yang bernama asli Ja’far Sodiq.

Pasukan Demak hampir kalah, berkat siasat Sunan Kalijaga, dan bantuan pusaka Raden Patah yang dibawa dari Palembang, kedudukan Demak dan Majapahit berimbang.

Melalui diplomasi Patih Wanasalam dan Sunan Kalijaga, peperangan dapat dihentikan. Adipati Terung memimpin laskar Majapahit diajak damai dan akhirnya bergabung dengan Raden Patah, yang ternyata kakaknya sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati Terung dan pengikutnya bergabung Demak untuk bersama sama menggempur Majapahit hingga ke belahan timur. Perang dimenangkan oleh pasukan Demak.

Disamping belajar agama kepada ayahnya, Ja’far Sodiq juga belajar kepada beberapa ulama terkenal. Diantaranya Kiai Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan Sunan Ampel.

Di Kudus pada waktu itu penduduknya banyak beragama Hindu dan Budha. Pada suatu hari Sunan Kudus atau Ja’far Sodiq membeli seekor sapi (dalam riwayat lain disebut Kebo Gumarang). Sapi dari Hindia, dibawa pedagang asing dari kapal besar.

Sapi ditambatkan di halaman rumah Sunan Kudus. Rakyat tergerak ingin tahu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus terhadap sapi itu. Sapi dalam pandangan Hindu hewan suci dan menjadi kendaraan para dewa. Menyembelih sapi perbuatan dosa dikutuk para dewa.

Dalam tempo singkat rumah Sunan Kudus dibanjiri rakyat, baik yang beragama Islam maupun Budha. Setelah jumlah penduduk banyak, Sunan Kudus pun berceramah.

“Sedulur-sedulur yang saya hormati, Saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab diwaktu kecil, saya hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.” ujar Suan Kudus membuka tausiahnya.

Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum-kagum. Mereka menyangka Ja’far Sodiq itu titisan Dewa Wisnu, maka mereka bersedia mendengarkan ceramahnya. “Demi rasa hormat saya kepada jenis hewan pernah menolongnya saya, maka Sunan Kudus penduduk menyakiti atau menyembelih sapi,” pintanya.

Penduduk yang umumnya beragama Hindu terpesona atas kisah itu. Sunan Kudus melanjutkan, diantara surah-surah Alquran yaitu surat yang kedua dinamakan Surah Sapi Betina atau dalam bahasa Arabnya Al-Baqarah.

Masyarakat semakin tertarik. Kok ada sapi di dalam Alquran. Mereka menjadi ingin tahu lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan keterangan Sunan Kudus.

Demikianlah, sesudah simpati itu berhasil diraih akan lapanglah jalan untuk mengajak masyarakat berduyun-duyun masuk agama Islam.

Bentuk masjid yang dibuat Sunan Kudus pun tak jauh bedanya dengan candi-candi milik orang Hindu. Lihatlah menara Kudus yang antik itu, mirip candi itu membuat orang Hindu merasa akrab dan tidak segan masuk ke masjid guna mendengarkan ceramah Sunan Kudus.

Kini Sunan Kudus mendekati umat Buddha. Caranya? Sunan Kudus membuat padasan atau tempat wudu dengan pancuran berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca kepala kebo gumarang di atasnya. Hal ini disesuaikan dengan ajaran Buddha, “Jalan Berlipat Delapan, atau Sanghika Marga.

Usahanya pun membuahkan hasil. Banyak umat Buddha penasaran. Untuk itu Sunan Kudus memasang lambang wasiat Buddha itu di padasan atau tempat berwudu, sehingga mereka berdatangan ke masjid untuk mendengarkan tausiahnya. (yog/bersambung)