Jumat pagi (1/6) tidak ada hal yang mencurigakan saat Cut Awlyina memulai harinya. Pagi-pagi buta selepas sahur dia mengantarkan temannya ke arah Lempuyangan, Jogja. Tak menyangka mendekati kosnya di Sinduadi, Mlati, Sleman, tepatnya barat RSKIA Sakina Idaman, dia justru menjadi korban penjambretan.

Geram menjadi korban, perempuan kelahiran Tanjungpandan, Bangka Belitung, ini menekatkan diri untuk mengejar. Bersenjatakan Yamaha Jupiter dia mengejar kedua pelaku, Eko Widiyanto, 25, dan JJ, 17, melalui jalan perkampungan.

Bak seorang pebalap, Awlyina mengejar Honda Vario yang dikendarai kedua pelaku. Saking gregetannya, dia menghiraukan helm yang dikenakannya terlepas. Hingga akhirnya jarak semakin dekat di kawasan Ringroad Utara dan memasuki wilayah perkampungan Trini, Trihanggo, Gamping.

“Begitu dekat, langsung saya tabrak pakai motor saya. Sempat terjatuh, tapi akan lari lagi hingga akhirnya saya teriak maling. Untungnya saat itu ada bapak-bapak yang sedang mencuci motor membantu saya meringkus kedua pelaku,” kisahnya.

Mahasiswa salah satu akademi di Jogjakarta ini tidak bisa mengingat jarak yang dia tempuh. Hanya saja dia mengingat pengejaran berlangsung selama 20 menit. Baginya, waktu ini adalah waktu paling berdebar sejak menginjakan kaki di Jogjakarta.

Usut punya usut, Awlyina memiliki alasan kuat kenapa dirinya bertekad mengejar kedua pelaku. Salah satunya adalah ada tiket pesawat yang akan dia gunakan untuk mudik Lebaran 2018 ini. Tiket itu akan digunakan pulang kampung 11 Juni mendatang.

Baginya, selembar tiket itu sangatlah berarti bagi hidupnya. Memanfaatkan momentum tahunan untuk pulang kampung dan bertemu keluarga. Belum lagi perjuangan keluarganya menyisihkan rupiah agar anaknya bisa membeli tiket pesawat.

“Waktu itu kepikirannya adalah tiket pesawat. Orang tua susah payah menyisihkan uang agar saya bisa beli tiket pesawat. Akhirnya, bagaimana caranya tiket itu bisa kembali, akhirnya saya kejar apa pun risikonya,” katanya.

Kegeraman Awlyina cukup beralasan, terlebih statusnya sebagai perantau di Jogjakarta. Selain tiket, dalam dompet itu juga terdapat beberapa kartu identitas penting. Ada juga uang tunai Rp 370 ribu.

Di satu sisi Awlyina justru merasa kasihan saat kedua pelaku tertangkap. Sejatinya dia bisa saja melumpuhkan dengan tangan kosong. Apalagi, saat ini dia memiliki bekal ilmu bela diri yakni karate. Delapan tahun Awlyina mempelajari bela diri ini sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Bukan hanya sekadar hobi dan menyalurkan kemampuan, Awlyina juga mencatat prestasi. Tercatat dia pernah meraih Juara Karate Cup tingkat Provinsi Medan 2014. Saat itu dia masih duduk di bangku SMP kelas tiga.

“Saat ini sudah sabuk coklat, satu tingkat di bawah sabuk hitam. Waktu itu saya justru kasihan dengan kedua pelaku. Apalagi sempat jadi bulan-bulanan warga yang mengamankan. Saya sama sekali tidak memukul, hanya menabrak dengan motor saja,” jelasnya.

Atas keberanian ini Polsek Mlati melalui Kapolsek Kompol Yugi Bayu memberikan penghargaan. Menurutnya, keberanian Awlyina bisa menjadi inspirasi korban kejahatan lainnya. Meski di satu sisi dia juga berpesan agar tetap menghitung risikonya.

Berkat keberanian ini Awlyina berhasil menggagalkan aksi kejahatan. Bahkan tidak menutup kemungkingan mencegah pelaku beraksi di kemudian hari. Terlebih saat ini kedua pelaku telah menjadi tersangka di Polsek Mlati.

“Korban justru tidak pasrah dan bertekad untuk mengejar pelaku. Ini satu hal yang tidak biasa atas kasus seperti ini yang pernah kami tangani. Penghargaan yang kami berikan ini, sebagai bentuk apresiasi dan bangga kepada Awlyina,” kata Yugi Bayu. (laz/fn)