JOGJA – Setelah terakhir mengeluarkan erupsi freatik 1 Juni lalu, kondisi Gunung Merapi berdasarkan pantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih landai. Tapi, BPPTKG sudah membuat rencana kontijensi atau cadangan erupsi Merapi.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kemungkinan runtuhnya dinding kawah yang berada di sisi barat hingga utara. Rencana itu melihat kondisi dinding kawah di sana yang rawan runtuh. “Dinding kawah 48 itu sudah rapuh dan rawan runtuh, sehingga sudah kami masukkan dalam skenario erupsi Merapi,” ujar Kepala BPPTKG Hanik Humaidah kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (6/6).

Dalam skenario kontijensi yang dibuat BPPTKG, akan tumbuh kubah lava yang mendesak dinding kawah hingga rapuh. Hal itu bisa membuat erupsi yang diperkirakan akan terjadi secara efusif atau lelehan. Selain mengarah ke Kali Gendol di sisi selatan, juga bisa mengarah ke barat dan barat laut. “Kami sudah sosialisasikan skenario tersebut ke pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santosa menambahkan, rencana kontijensi itu sudah disosialisasokan melalui BPBD di tiga kabupaten di Jawa Tengah. Sedang untuk di wilayah DIJ, Agus mengaku belum mengetahui.

Terkait kondisi dinding kawah yang rawan itu, Agus mengaku terus melakukan pemantauan. Termasuk dengan analisis morfologi. “Juga dengan kamera beresolusi tinggi. Harapanya ada informasi terkait kondisi dinding,” ujarnya.

Menurut Agus, jika dinding kawah runtuh kemungkinan karena desakan dari kubah lava. Sedang untuk kekuatan letusan freatik yang aktif terjadi sejak 11 Mei lalu, dikatakan tidak cukup kuat untuk mendorong dinding kawah. Hal itu juga dibuktikan dengan deformasi atau perubahan bentuk. “Bisa juga karena getaran-getaran yang terjadi,” tuturnya. (pra/laz/fn)