(FOTO: HUGI KAHYADI FOR RADAR JOGJA)

Jogjakarta merupakan wilayah yang termasuk rawan bencana. Setidaknya, terdapat dua jenis bencana yang dapat sewakitu-waktu terjadi yakni bencana yang dipicu aktivitas Gunung Merapi dan gempa tektonik. Untuk itu, bangunan rumah wajib didirikan sebagai bangunan yang tahan terhadap bencana.
—–

Menilik hakikatnya, rumah merupakan tempat untuk tinggal dan berkumpul keluarga. Bangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal dan berkumpul keluarga maka layak disebut rumah.
Oleh karena difungsikan untuk keluarga, faktor kenyamanan, keamanan dan keselamatan bagi penghuni harus menjadi hal utama. Pelaku usaha properti sudah sadar dengan faktor-faktor tersebut.
Saat ini banyak pengusaha yang berlomba memasarkan produk rumah dengan berbagai cara. Mulai dari menawarkan produk dengan desain menarik, lokasi strategis, harga bersaing, dan spesifikasi bahan yang ditawarkan. Namun, tak jarang terdapat pengusaha yang “bermain” pada penggunaan bahan. Hal ini dilakukan guna menekan biaya produksi. Akibatnya, kualitas bahan untuk membangun rumah pun diturunkan.
Salah satu pelaku bisnis properti yang memegang teguh prinsip kualitas bangunan yakni PT Cahyo Griya Inti Santoso. Pengembang kompleks hunian Pesona Residence ini berkomitmen untuk selalu menjaga kualitas bahan bangunan. Maka dari itu, mereka tidak pernah mengganti material utama bangunan.

“Konsumen dapat mengganti barang lain seperti keran air, lantai granit jadi keramik standard. Tapi, untuk struktur bangunan tetap tidak boleh diotak-atik,” jelas Manajer PT Cahyo Griya Inti Santoso Hugi Kahyadi di kantornya pekan lalu.
Menurut dia, setiap bangunan Pesona Residence yang sedang dikembangkan selalu berusaha menerjemahkan kebutuhan konsumen. Dia menyatakan sering didatangi konsumen yang membawa gambar desain sendiri.

“Desain luar tampak sama namun jika sudah masuk ke dalam pasti tidak ada yang sama dari tiap rumah,” kata Hugi.
Lebih lanjut Hugi mengatakan, kepastian untuk tetap menjaga struktur bangunan yang tahan gempa telah melalui proses hitungan matematis yang panjang. Hal itu didasari dengan letak geografis Indonesia yang berada di lempeng teraktif. Fakta ini membuka kemungkinan terjadi gempa sangat besar.
“Hunian kami bukan bangunan antigempa tapi tahan gempa,” tegasnya.
Dia menjelaskan, selama ini telah terjadi banyak salah persepsi terhadap bangunan tahan gempa. Menurutnya, masyarakat luas mengartikan bangunan tahan gempa sebagai bangunan yang tidak akan roboh atau rusak ketika terjadi situasi gempa.
Hugi menegaskan, bangunan tahan gempa merupakan bangunan yang dapat memberikan waktu kepada penghuni untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana gempa. Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan jika nantinya terdapat tembok yang retak, kaca pecah, atau genteng yang berjatuhan.
“Sekali lagi, memberikan waktu penghuni untuk menyelamatkan diri,” tegasnya. (har/mg1)