SEMANGAT PEREMPUAN: Pendampingan Desa Prima Seloharjo dilakukan BPPM DIY. Dalam pendampingan itu warga mendapatkan dorongan menjadi wirausaha. Desa Prima adalah desa percontohan dalam rangka menanggulangi kemiskinan. (FOTO: MEITIKA LANTIVA/RADAR JOGJA)

Desa Seloharjo, Pundong, Bantul menjadi salah satu lokasi yang diinisiasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dibentuk Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Prima).
Inisiasi Desa Prima Seloharjo dilakukan pada 10 April 2018. Dalam inisiasi itu 25 orang perempuan desa tersebut mendapatkan pelatihan membuat kue dan makanan ringan. Diharapkan 25 orang peserta inisiasi Desa Prima itu segera membentuk kelompok usaha bersama. Mereka diharapkan membentuk struktur organisasi Desa Prima Seloharjo.

Setelah melakukan inisiasi dan diikuti pelatihan, BPPM DIY juga mengadakan monitoring ke Desa Prima Seloharjo. Monitoring itu diwujudkan dengan pemberian pendampingan. Di antaranya dengan memberikan wawasan dan dorongan semangat menjadi wirausaha.
“Menjadi wirausaha itu banyak dinamikanya. Mulai dari tantangan hingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi,” kata M. Soni Cahyono dari SMEDC Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta saat memberikan pendampingan bagi Desa Prima Seloharjo di balai desa setempat pada Selasa (15/5) lalu.
SMEDC merupakan lembaga formal UGM yang didesain secara spesifik untuk memberdayakan UKM. SMEDC lahir sebagai manifestasi dari tanggung jawab sosial UGM berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi kerakyatan.
Dalam kesempatan itu, Soni memberikan kiat-kiat menjadi pelaku usaha kepada anggota dan pengurus Desa Prima Seloharjo. Mereka rata-rata berlatar belakang ibu rumah tangga. Beberapa masalah dikupas. Misalnya terkait mempersiapkan usaha dagang, struktur organisasi Desa Prima dan pembagian tugas antara anggota dan pengurus.
Sedangkan Kepala Sub Bidang Pengembangan Kelembagaan Organisasi Perempuan BPPM DIY Endah Wahyuni kembali mengingatkan, Desa Prima adalah desa percontohan dalam rangka menanggulangi kemiskinan. Kegiatannya melalui pemberdyaan ekonomi terhadap kaum perempuan dari lintas sektor dan organisasi.

Menurut, awal mulanya program Desa Prima dibentuk melalui SK Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI No. 58/SK/MENEG.PP/XII/2004 tentang Kebijakan Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP). “Salah satu tindak nyata dari kebijakan ini dengan dikembangkannya model Desa Prima,” terang Endah.
Berbicara soal kemiskinan, Endah mengungkapkan dampak paling besar yang merasakan adalah perempuan dan anak-anak. Diingatkan, perempuan menjadi kunci mengelola keuangan rumah tangga. Keberadaan Desa Prima menjadi para perempuan, khususnya ibu-ibu rumah tangga menjadi subjek ekonomi. “Dengan menjadi subjek diharapkan mampu meningkatkan perekonomian keluarga” harap Endah.
Suryani, salah satu warga menilai program Desa Prima memberikan banyak manfaat. Ibu rumah tangga yang membuka usaha bakpia itu bercerita awal-awal menekuni usaha. “Semua diawali dari usaha kecil-kecilan,” tuturnya.
Dia berharap kehadiran Desa Prima bisa membuka akses modal dan pemasaran bagi produk usahanya. Pelatihan dan pendampingan Desa Prima diharapkan memberikan inspirasi bagi warga Seloharjo membangun usaha makanan olahan.
Suryani juga bercerita kendala menekuni usaha kuliner tersebut. Misalnya saat tetangga satu dusunnya punya hajatan. Mau tidak mau dia harus membantu. Di pihak lain, saat bersamaan, ada pesanan dari pelanggan. “Seiring berjalannya waktu sekarang ada solusi. Saya cari pekerja dari desa tetangga untuk membantu,” kenangnya. (cr6/kus/mg1)