TUBAN menjadi kota persinggahan Haji Nekat lewat Jalur Darat setelah Surabaya dan Gresik. Penulis ziarah di makam Sunan Bonang yang berada di pusat kota Tuban. Tepatnya di belakang Masjid Agung di Alun-Alun Kota Tuban. Saat itu, awal Agustus 2011, makam Sunan Bonang sedang direnovasi.

Di seputar kuncup tempat makam kini berdiri tiang besi pancang untuk atap penaung makam, tapi tidak mengubah bangunan yang ada. “Diperkirakan bulan puasa atapnya sudah terpasang,’’ kata Masruri, salah seorang juru kunci makam.

Dari berbagai sumber disebutkan, nama asli Sunan Bonang adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Dia merupakan putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila.

Dewi Condrowati adalah putri Raja Majapahit Prabu Brawijaya Kertabumi. Dengan demikian, Raden Makdum seorang pangeran Majapahit karena ibunya putri Raja Majapahit.

Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku (Sunan Giri) saat remaja memperdalam agama Islam di Negeri Pasai. Keduanya berguru kepada Syekh Maulana Ishaq yang tak lain ayah kandung Sunan Giri. Juga belajar dari ulama tasawuf dari Bagdad, Mesir, Arab, dan Iran.

Sesudah belajar di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri, sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.

Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel berdakwah di Lasem, Rembang, Tuban, dan sekitarnya.

Setiap berdakwah Raden Makdum Ibrahim menggunakan kesenian untuk menarik simpati rakyat. Berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila benjolan dipukul dengan kayu lunak timbulah suara merdu.

Saat Raden Makdum Ibrahim menabuh gamelan banyak penduduk datang ingin mendengar dan belajar membunyikan Bonang. Sekaligus melafalkan tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Setelah rakyat bersimpati tinggal mengisi ajaran agama Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diciptakan Raden Makdum Ibrahim berisikan ajaran agama Islam. Tanpa terasa penduduk mempelajari agama Islam dengan senang hati.

Tembang Tamba Ati
Salah satu tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim yang sangat terkenal sampai sekarang berjudul Tamba Ati. Syairnya berbunyi, “Tamba ati iku lima ing wernane. Kaping pisan maca Quran angen-angen sak maknane. Kaping pindho salat wengi lakonana. Kaping telu wong kang saleh kancanana. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe. Kaping lima zikir wengi ingkang suwe. Sapa wonge bisa ngelakoni. Insya Allah Gusti Allah nyembadani”

Arti tembang adalah obat sakit jiwa (hati) itu ada lima jenisnya. Pertama, membaca Alquran direnungkan artinya. Kedua, mengerjakan salat malam (sunah Tahajud). Ketiga, bersahabat dengan orang salih (berilmu). Keempat, harus sering prihatin (berpuasa). Kelima, sering berzikir mengingat Allah di waktu malam. Siapa saja mampu mengerjakannya. Insya Allah permohonannya akan dikabulkan.

Sunan Bonang berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal saat berdakwah di Pulau Bawean. Ketika itu para murid dari penjuru kota datang ke Bawean.

Murid-murid di Pulau Bawean hendak memakamkan beliau di Pulau Bawean. Tetapi murid dari Madura dan Surabaya juga menginginkan jenazah Sunan Bonang dimakamkan di dekat ayahnya, Sunan Ampel, di Surabaya. Bahkan mereka saling berebut memberikan kain kafan pembungkus jenazah. Jenazah Sunan Bonang yang sudah dibungkus kain kafan milik orang Bawean dirangkap kain kafan muridnya dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Jenazah Sunan Bonang lantas diangkut ke kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tergesa-gesa kain kafan jenazah tertinggal satu.

Kapal berlayar ke Surabaya, tetapi saat berada diperairan Tuban mendadak kapal ngadat. Akhirnya jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban, sebelah barat Mesjid Jami’ Tuban.

Sementara kain kafan yang tertinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan khidmat. Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepada beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya. Sunan Bonang wafat pada 1525 Masehi. Makam yang dianggap asli di Tuban. (yog/ bersambung)