Nor Eka Noviani, S.Gz., M.PH
Dosen Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Tradisi Lebaran merupakan pola turun temurun yang menjadi ciri khas di Indonesia. Ritual mudik, silaturahim dan makan bersama menjadi acara yang dinantikan. Tak luput pula berkunjung ke sanak saudara sambil membawa buah tangan. Meskipun di tempat tuan rumah tersaji berbagai hidangan aneka rasa dan warna yang menggoda selera.
Oleh karena itu, keinginan masyarakat dalam membeli makanan yang praktis menjadi salah satu pilihan. Di supermarket, pasar tradisional atau warung kelontong akan menyediakan berbagi makanan dan minuman kemasan. Berbagai jenis merek tersedia dan bervariasi dalam rasa dan warna. Semuanya memberikan tampilan menarik.
Sebelum menjatuhkan pilihan, konsumen harus jeli melihat keamanan pangan dalam makanan kemasan. Definisi kemanan pangan menurut Undang-Undang Nomor 7/ 1996 tentang Pangan, adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.


Menjelang Lebaran, daya beli masyarakat cenderung naik. Hal ini karena permintaan makanan akan naik seperti biskuit, makanan ringan atau sembako yang semuanya dikemas baik dalam botol, plastic, atau kaleng. Sebagai calon konsumen, sebelum memilih makanan yang akan dibeli, alangkah baiknya memperhatikan dua aspek.
Hal pertama sebelum membeli makanan kemasan adalah kondisi kemasannya. Selain meningkatkan nilai estetika, kemasan pangan akan melindungi isi di dalamnya. Kemasan dapat dipengaruhi oleh bahan makanan atau makanan di dalamnya. Bahan pangan tersusun atas zat-zat organik yang mudah terurai atas penyusun-penyusunnya. Umumnya, bahan pangan memiliki sifat mudah rusak (perishable materials). Bahkan beberapa bahan pangan seperti susu, daging, telur, santan dan ikan memiliki sifat sangat mudah rusak (highly perishable food). Berabagai cemaran dapat menurunkan kualitas makanan.

Sebagai contoh, cemaran mikroorganisme dalam makanan memegang peranan dalam pembentukan senyawa yang memproduksi bau tidak enak, lembek yang tidak layak makan. Salah satu contoh racun (toksin) dari bakteri Clostridium botulinum yang ada pada makanan kaleng. Makanan kaleng yang sudah mulai mengalami kerusakan atau kebusukan dapat dilihat dari kondisi fisik yang menggelembung. Karusakan kaleng dapat dilihat dari tanda bau yang asam (flat sour) dan mengalami kondisi menggelembung pada salah satu ujung atau kedua ujung permukaan.

Cara lainnya adalah menekan salah satu ujung permukaan kaleng yang terlihat datar. Bila ujung lainnya cembung, ada kemungkinan bakteri ada di dalamnya. Selain makanan kaleng, makanan kemasan snack juga diwaspadai misalnya sobek, rusak atau warna pudar.
Aspek kedua dalam membeli makanan kemasan adalam membaca label pada kemasan. Daya beli masyarakat yang tinggi menjelang hari raya, akan membuat bisnis parsel Lebaran memanfaatkan kelengahan konsumen untuk cuci gudang. Produk parsel yang dijual memanfaatkan produk makanan yang hampir kedaluarsa atau bahkan melewati masa kedaluwarsa. Sebagai konsumen, membaca label makanan sangat penting dalam hal ini adalah makanan yang habis masa kadaluarsanya. Membaca label, selain melihat batas kedaluwarsa, label juga memberikan berbagai informasi seperti nama produk, berat bersih, komposisi, dan nilai gizinya.

Membaca label makanan juga penting bagi mereka yang memiliki penyakit berisiko. Para penyandang penyakit diabetes mellitus tipe 2 hendaknya mewaspadai zat pemanis yang digunakan. Apakah memakai pemanis yang mengandung energi atau pemanis nol kalori. Bagi penyandang hipertensi, makanan kemasan sebaiknya dihindari karena mengandung zat pengawet natrium benzoat atau zat penguat rasa monosodium glutamate (MSG).
Mengecek izin edar dari Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) juga penting. Produk makanan yang berada di pasaran sebaiknya memiliki Nomor Registrasi dari BPOM pada makanan dalam negeri (MD) maupun makanan luar negeri (ML) atau nomor Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi penyuluhan (SP) yang dikeluarkan oleh dinas kabupaten setempat.

Meningkatkan kewaspadaan terhadap makanan atau bahan makanan yang akan dibeli menjelang hari raya sangat penting. Kejelian dan kehati-hatian konsumen memberikan manfaat dari segi kesehatan.(*/din/mg1)