TAMBAH NILAI: Seorang hafiz (penghafal Alquran) sedang dilakukan uji petik (dites) di Kantor Kemebag Kota Magelang terhadap sertifikasi atas kemampuan hafalannya Selasa (5/6) (FOTO: FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA)

MAGELANG – Dampak luar biasa dirasakan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Magelang dengan adanya kebijakan pemkot yang memberikan tambahan nilai non-akademis pada calon siswa baru tingkat SLTP. Para siswa yang sudah mempunyai sertifikat atau keterangan mampu menghafal Alquran (hafiz) minimal satu juz, mendatangi kantor yang berada di Jalan Urip Sumoharjo. Mereka meminta kantor yang dipimpin Anif Solikihin itu untuk melakuan uji petik atas kemampuan tahfiz.
“Iya, ini menghantar Reza, uji petik sertifikat hafiz dari SD Mutual (Muhammadiyah 1 Alternatif) Kota Magelang. Mau buat ndaftar di SMP favorit,” kata Nur Cahyo M di Kantor Kemenang, Selasa (5/6).

Tidak hanya pria yang saat ini tinggal di Perum Depkes Kota Magelang itu. Banyak orang tua lainnya yang juga mengantar anaknya melakukan uji petik agar dapat nilai tambahan mulai 0,75 untuk penghafal 1-2 juz hingga setara juara lomba level nasional, yang artinya dapat langsung lolos atau diterima di sekolah negeri karena hafal tujuh juz lebih.
“Bagus ada sistem seperti ini. Selain peluang diterimanya besar, juga dapat memacu semangat anak untuk terus menghafal Alquran. Ini saya menghantar anak saya Syihab, lulusan SD IT untuk uji petik satu juz, yakni juz 30,” kata Ining, warga Kelurahan Kramat Selatan, Kota Magelang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pemkot Magelang Taufik Nurbakin membenarkan pihaknya menunjuk Kemenag sebagai pihak yang membuat standar soal kemampuad hafiz siswa. Para orang tua dipersilakan melakukan tes ulang kemampuan menghafal Alquran anaknya di Kemenag jika menggunakan mekanisme tersebut saat mendaftar dalam PPDB SMP.
“Intinya kami ingin membuat standar soal menghafal Alquran. Kami menunjuk Kemenag sebagai lembaga pengujinya. Silakan yang punya sertifikat atau surat keterangan hafiz dari pondok pesantren, sekolah, ustad atau apa, silakan diuji ulang di Kemenag,” tuturnya.
Anif Solikhin sendiri mengaku terkejut dengan antusias tersebut, karena di luar perkiraan. Pihaknya hanya memperkirakan antara 5-10 orang saja yang akan mengurus sertifikat hafiz. Faktanya, kemarin saja sudah lebih dari 35 orang yang mengurus. Rata-rata hafal 1-4 juz.
“Belum ada yang lebih dari tujuh juz. Hari ini kami batasi 35 siswa dulu yang dites, karena keterbatasan tim penguji. Tetapi kami akan membuka tes hingga penutupan PPBD dan kemungkinan menambah tim pengujinya hingga dua atau tiga tim,” jelasnya.

Dalam uji petik itu, intinya para siswa harus menunjukkan sertifikat atau surat keterangan hafiz dulu. Kemudian mereka diuji di hadapan panitera dan penguji yang kemarin dilakukan oleh H Salamun dan KH Mislam Qowiij. Para hafiz diminta melantunkan surat dan ayat tertentu, tergantung juz berapa yang dia hafal.
“Semula kami ingin tes dilakukan di hadapan publik, di aula atau masjid kemenag. Tetapi karena pertimbangan ini, tes menyangkut hafalan yang butuh konsentrasi dan tempat tenang, maka diputuskan untuk maju satu-satu di ruang yang tertutup. Tetapi kami jamin, pengujinya amanah,” tegas Kasi Agama dan Keagaamaan Islam Kemenag Kota Magelang Mustofa Muhroji LC. (dem/laz/mg1)