OLAHRAGA EKSTREM: Tak hanya digemari oleh laki-laki saja, kaum hawa di Magelang juga menggandrungi olahraga asal Thailand ini.(JEREMIA EKA/RADARJOGJA)

Puasa Ramadan merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Rukun Islam yang ke 3 ini selalu dikerjakan ketika masuk bulan ke 9 dari kalender Islam atau Hijriyah. Di seluruh dunia, jutaan umat muslim melakukan ibadah puasa selama bulan Ramadan untuk memenuhi kewajiban agama demi menegakkan pilar Islam. Puasa Ramadan adalah wajib bagi orang dewasa yang sehat jasmani dan rohani.

Ketika puasa mungkin secara signifikan mempengaruhi kesehatan orang yang berpuasa atau ketika seseorang benar-benar dalam keadaan sakit, maka Islam membebaskan dia dari puasa sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 183-185, secara tegas Allah SWT berfirman jika seluruh umat muslim yang beriman yang menjumpai bulan Ramadan, maka Allah SWT mewajibkan berpuasa kecuali beberapa orang yang diperbolehkan tidak karena alasan syar’i yang dibenarkan.

Allah SWT menghendaki kemudahan bagi seluruh umat muslim yang beriman dan tidak menghendaki kesulitan bagi mereka, semua ibadah puasa kita dan ibadah yang lain di bulan Ramadan menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang terus belajar dalam mencapai Takwa (perbuatan baik dan kesadaran terhadap Allah SWT). Bulan Ramadan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun dan dengan demikian seiring waktu dapat terjadi di salah satu dari empat musim.

Maka dengan demikian panjang durasi puasa harian selama Ramadan bervariasi dari 11-18 jam di negara-negara tropis. Selama bulan yang suci ini, umat muslim diperbolehkan untuk makan dan minum hanya antara saat matahari terbenam (waktu maghrib) dan fajar (waktu fajar). Sehingga konsekuensi logis dari kondisi ini adalah tidak hanya pola makan yang akan berubah selama periode Ramadan, namun juga jumlah dan jenis makanan yang dimakan pada malam hari akan sangat berbeda dengan yang biasanya dikonsumsi selama menjalankan ibadah tersebut.

Perubahan pola makan ini dapat mempengaruhi ketersediaan substrat dan pemanfaatan di dalam tubuh dan situasi ini dapat menginduksi perubahan parameter hematologi dan biokimia.

Rutinitas pola makan dan tidur akan berubah selama bulan suci Ramadan tidak seperti bulan lainnya. Periode 29 atau 30 hari adalah kesempatan yang paling baik atau cukup sempurna bagi siapa saja yang mencoba untuk menurunkan berat badan melalui program diet dan olahraga yang sehat.

Beberapa orang mungkin telah membuat rencana terlebih dahulu untuk melakukan latihan atau exercise saat berpuasa, dari mereka beberapa orang lebih suka berolahraga sebelum buka puasa, dan yang lain biasa setelahnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa puasa selama 30 hari berturut-turut tanpa melakukan latihan atau aktivitas fisik dapat mengurangi kekuatan otot dan kebugaran fisik.

Oleh karena itu maka umat muslim harus tetap aktif selama bulan Ramadan agar kesehatan tetap terjaga. Namun jika Ramadan jatuh di musim panas, melakukan latihan atau aktivitas fisik akan mengalami hambatan yang lebih karena adanya tekanan tambahan pada proses menjaga keseimbangan elektrolit dan juga metabolism dalam tubuh.

Tahun ini, Ramadan terjadi selama musim panas, maka suhu tinggi harus diperhitungkan ketika melakukan aktivitas fisik. Studi tentang latihan telah dilakukan pada saat puasa Ramadan. Menurut sebuah penelitian pada sport science journal tentang puasa Ramadan, latihan intensitas tinggi harus dilakukan setelah matahari terbenam. Ini ditentukan untuk melihat pengaruh puasa terhadap kinerja gerak fisik. Uji yang dilakukan adalah pada tiga waktu yang berbeda (8 AM, 6 PM, dan 9 PM) saat melakukan latihan yang intens. Tampaknya dari hasil uji tersebut tubuh membutuhkan waktu untuk mengisi energi secara otomatis sebelum latihan berat dilakukan.

Namun, penelitian lain justru menyimpulkan sebaliknya bahwa tubuh tidak membutuhkan waktu khusus untuk persiapan latihan dengan aman. Studi lain yang dilakukan terhadap elite dan olahragawan profesional memberikan kesimpulan bahwa mereka tetap dapat melanjutkan program latihan selama bulan Ramadan tanpa efek buruk pada fungsi ginjal dan sistem kekebalan tubuh.

Dengan demikian, kelanjutan program latihan selama bulan Ramadan dapat dilakukan dengan aman.

Maka, bukti saat ini dari hasil penelitian pada subjek yang terkontrol dengan baik memberikan rekomendasi dalam mendukung kesimpulan bahwa atlet yang mempertahankan asupan energi dan makronutrien total, latihan beban, komposisi tubuh, durasi dan kualitas tidur mereka, maka kemungkinan mereka tidak akan mengalami penurunan substansial dalam kinerja gerak fisik selama bulan Ramadan.

Hal ini menjadi berita yang menggembirakan bagi mereka yang ingin tetap berolahraga dan melakukan aktivitas fisik selama puasa Ramadan. Saat ini kita dapat menyimpulkan bahwa olahraga dapat tetap dilakukan bebas kapan saja sepanjang hari selama puasa dengan catatan selama proses tersebut nutrisi yang dimiliki (yaitu kalori dan makronutrien), serta asupan air tercukupi.

Namun, jika selama puasa membatasi asupan kalori hanya dengan dua kali makan secara normal, maka melakukan latihan setelah matahari terbenam menjadi pilihan yang tepat. Melakukan latihan aerobik selama bulan Ramadan dapat digunakan sebagai strategi jitu non-farmasi (tanpa obat) untuk mengurangi lemak dalam tubuh serta meningkatkan profil lipid.

Namun, keadaan dehidrasi dapat dihindari dengan senantiasa menjaga asupan cairan yang cukup pada malam hari dan dengan meminimalkan kehilangan air dalam tubuh.

Urgensi dalam melakukan aktivitas fisik selama bulan Ramadan didasarkan pada bukti ilmiah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa berpuasa selama 30 hari berturut-turut tanpa melakukan olahraga dapat menyebabkan kemunduran kekuatan otot dan kebugaran fisik.

Seorang individu yang rutin berlatih minimal tiga kali dalam seminggu selama 11 bulan, tetapi mereka menghindari latihan selama bulan Ramadan, maka mereka akan mengalami penurunan daya tahan dalam adaptasi kardiovaskular dan daya tahan otot terhadap pembebanan.

Maka menjaga aktivitas fisik selama bulan Ramadan sangat penting karena umat Islam harus mempertahankan rutinitas ibadah mereka yang membutuhkan stamina dan tenaga ekstra karena lebih banyak terjaga dalam beribadah, maka latihan mereka selama bulan Ramadan menjadi keharusan untuk mendukung mereka mencapai keberhasilan sampai di akhir bulan Ramadan menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Namun masih banyak umat muslim merasa sulit berolahraga selama bulan Ramadan, tetapi penting untuk dicatat bahwa ini juga merupakan bulan kesabaran, bulan pengorbanan dan berolahraga selama bulan Ramadan adalah murni untuk mendukung mencapai pribadi takwa sesuai dengan tujuan puasa sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah 183. (laz/bersambung)