SEMANGAT: Suasana ujian sekolah berstandar nasional (USBN) Paket A jenjang SMA di SMAN 1 Kretek, kemarin. Peserta ujian didominasi siswa homeschooling. (SUKARNI MEGAWATI/RADAR JOGJA)

JOGJA- Jenis soal High Order Thinking Skill (HOTS) yang juga diterapkan pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tingkat SD dinilai sebagai salah satu penyebab turunnya rerata nilai USBN Kota Jogja.

BERPRESTASI : Peraih nilai tertinggi dalam Pra USBN SD 2017 Kota Magelang, Ahmad Zidan Ghaitsa. (ADI DAYA/RADAR JOGJA)

Tahun ini rerata nilai USBN SD di Kota Jogja 212,76. Padahal tahun sebelumnya 219. “Sebenarnya soal HOTS bukan soal sulit. Tapi soal yang butuh penalaran agak panjang,”ujar Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Rohmat Senin (4/6).

Data yang didapat Disdik Kota Jogja rerata nilai yang turun adalah Matematika. “Untuk nilai Bahasa Indonesia dan IPA masih relatif sama dengan tahun lalu,” tambahnya.
Rohmat mengaku Disdik Kota Jogja sudah mempersiapkan pengenalan soal kategori HOTS pada USBN ke guru dan siswa. Guru menjadi sasaran pengenalan soal HOTS dahulu agar bisa mempersiapkan siswa menghadapi soal itu. Terutama terkait pemahaman soal kategori HOTS. “Soal jenis HOTS ini memang butuh sedikit waktu sebelum menjawabnya,” jelas dia.

Meskipun begitu Rohmat mengaku soal jenis HOTS tersebut masih layak dipertahankan dengan mempersiapkan pengenalan ke guru dan siswa. Rohmat juga mengatakan meski rerata nilai USBN di Kota Jogja turun, tapi masih menjadi yang terbaik di DIJ. Untuk peraih nilai terbaik,Disdik Kota JOgja juga masih menunggu hasil dari empat UPT Pendidikan Dasar yang membawahi 165 SD di Kota Jogja.
Sebelumnya Kepala Disdik Kota Jogja Edy Heri Suasana mengatakan nilai USBN SD tersebut dipakai sebagai salah satu syarat pendaftaran peserta didik baru (PPDB) tingkat SMP.Pada tahun pelajaran 2018/2019 nanti PPDB di Kota Jogja menggunakan sistem zonasi yang 15 persen di antaranya untuk jalur prestasi peraih nilai USBN tertinggi.(pra/din/mg1)