Setelah berziarah makam Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, penulis melanjutkan perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat menuju Lamongan. Tepatnya di makam Raden Qosim atau Sunan Drajat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran.

“Wenehono teken marang wong wuto, wenehono pangan marang wong kang keluwen. Wenehono payung marang wong kang kaudanan lan wenehono sandang marang wong kang kawudan”.

Wenehono teken marang wong wuto = Berikan tongkat kepada yang terpeleset dan buta.
Maknanya  : Berilah ilmu agar orang menjadi pandai dan tidak melakukan kesalahan

wenehono pangan marang wong kang keluwen = Berikan makanan kepada yang kelaparan.
Bermakna : Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin

lan wenehono sandang marang wong kang kawudan = Berikan pakaian kepada yang telanjang.
Bermakna : Ajari kesusilaan pada orang yang tidak punya malu

Wenehono payung marang wong kang kaudanan = Berikan payung kepada yang kehujanan.
Bermakna : Beri perlindungan pada orang yang menderita.

Itulah empat ajaran Sunan Drajat yang tertera di makamnya, untuk diamalkan para santrinya. Ajaran hidup  saling tolong menolong dalam kehidupan  bermasyarakat itu juga sangat terkenal bagi umat muslim setempat.

Lokasi makam hanya seratusan meter dari Jalur Pantura, Paciran. Seiring dibangunnya wahana hiburan Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang lokasinya tak jauh dari makam, daerah itu terus berkembang. ‘’ Peziarah ramai sejak ada WBL,’’ tutur Muratno, salah seorang juru kunci makam.

Kondisi makam Sunan Drajat  cukup asri. Banyak pohon besar di areal makam. Udara semilir membuat peziarah betah berlama di sini.

Di sini ada bayang gambang berukuran 3 x 8 meter terbuat dari kayu jati cukup tebal. Barang peninggalan Sunan Drajat  yang dibuat abad XVI itu tampak bagus  meski ada lapuk dan bolong di sana sini.

Siapa sebenarnya Sunan Drajat? Dari berbagai sumber menyebutkan, Sunan Drajat adalah salah seorang Wali Sanga penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang lahir sekitar 1470 Masehi. Nama kecilnya Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Beliau punya banyak nama, antara lain, Masaikh Munat, Pangeran Kadrajat, Pangeran Syarifudin, Syekh Masakeh, Maulana Hasyim, Raden Imam, Sunan Muryapada, dan Sunan Mahmud.

Sunan Drajat merupakan putra Sunan Ampel dari pernikahannya denan Nyi Ageng Manila alias Dewi Condrowati. Raden Qasim memiliki empat saudara. Mereka adalah Sunan Bonang, Siti Muntisiyah (istri Sunan Giri), Nyi Ageng Maloka (istri Raden Patah), dan seorang putri yang merupakan istri Sunan Kalijaga.

Seetelah menguasai pelajaran Islam beliau menyebarkannya di Desa Drajat, tanah perdikan di Kecamatan Paciran. Tempat ini pemberian Kerajaan Demak. Dia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun Saka 1442/1520 Masehi.

Sunan Drajat menghabiskan masa kanak-kanak di Ampel Denta, Surabaya. Setelah dewasa dia diperintahkan ayahandanya, Sunan Ampel, berdakwah ke pesisir barat Gresik. Saat menumpang biduk nelayan perahu yang ditumpanginya pecah dihantam ombak di Lamongan, sebelah barat Gresik. Sunan Drajat selamat dengan berpegangan dayung perahu. Selanjutnya beliau ditolong ikan cucut dan ikan talang (ada juga yang menyebut ikan cakalang). Menunggang dua ikan tersebut Sunan Drajat mendarat di suatu tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Sunan Drajat disambut baik tetua kampung, Mbah Mayang Madu.

Raden Qasim lantas menetap di Jelak dan menikahi Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak Sunan Drajat mendirikan surau dan pesantren yang menjadi tempat mengaji ratusan penduduk. Jelak menjadi ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Tiga tahun kemudian Sunan Drajat pindah sekitar satu kilometer dari Jelak, yakni di Desa Drajat. Dari sinilah beliau mulai mendapatkan gelar Sunan Drajat. (yog/bersambung)