PENERIMA ZAKAT: Sebanyak 1.000 mustahik (penerima zakat) menerima pengarahan di Bangsal Kepatihan, Selasa (5/6). (BAHANA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Potensi zakat di DIJ masih belum dioptimalkan dengan baik. Dari potensi zakat mencapai Rp 150 miliar, sampai dengan hari ini pengelolaannya belum sampai 10 persen.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) DIJ Bambang Sutiyoso menjelaskan, pendistribusian zakat tahun 2018 mencapai Rp 8,147 miliar. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya Rp 2 miliar.

“Jumlah yang disalurkan baru sebagian karena ada Baznas dan Laz Kabupaten yang belum bergabung,” kata Bambang di sela-sela pembinaan 1.000 mustahik (penerima zakat) di Bangsal Kepatihan, Selasa (5/6).

Dia mengatakan, saat ini ada beberapa lembaga yang memobillisasi pengelolaan zakat di DIJ. Namun lembaga yang mengelola diakui oleh pemerintah yakni Baznas, Laz, dan Unit Pengumpul zakat.
Ketua Forum Zakat DIJ Suripto mengatakan, saat ini terdapat 57 ribu mustahik di DIJ. Sehingga keberadaan zakat yang ada diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan yang besarnya mencapai 13 persen. “Zakat bisa bersinergi dengan program pemerintah,” katanya.

Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X mengatakan, fenomena kemiskinan adalah masalah serius. Oleh karena itu, melalui konsep zakat mampu menjadi pilar membangun perekonomian masyarakat.

“Tidak sekadar ibadah tetapi tetapi juga sosial melalui pemberdayaan demi kesejahteraan,” katanya. (bhn/ila/mg1)