(FOTO:SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Para penarik becak motor (betor) akhirnya dapat sedikit bernapas lega. Hal itu menyusul hasil pertemuan antara pemprov dan Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY), Senin (4/6). Rapat yang digelar di ruang rapat sekprov tersebut memutuskan becak bermesin boleh beroperasi kembali. Namun, kebijakan humanis ini dengan batasan. Maksimal hingga H+7 Lebaran.
“Ngarso Dalem sudah meminta kepada Kapolda DIJ agar untuk sementara memperbolehkan betor beroperasi,” jelas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Sapto Raharjo usai rapat.

MENUNGGU PENUMPANG: Pengemudi betor saat mangkal di jalan Panembahan Senopati, Kota Jogja Senin (4/6).(Foto:Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

Ya, kebijakan ini tak muncul serta-merta. Semula pertemuan ini berjalan cukup alot. Kedua belah pihak tetap bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing. Bahkan, ratusan penarik betor juga berunjuk rasa di pintu masuk Kompleks Kepatihan. Namun, suasana mereda setelah Sigit bersama Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekprov DIJ Budi Wibowo menghadap Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono X di sela rapat.
Seolah mempertegas, Budi mengingatkan, kebijakan lunak ini didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Tidak sedikit penarik betor yang butuh pendapatan untuk mencukupi kebutuhan Lebaran. Karena itu, keberadaan betor bakal dikaji kembali setelah Lebaran. Termasuk penegakan hukumnya.
“Sebab keberadaan betor jelas-jelas menyalahi aturan,” tegasnya.

Kendati bakal melarang total, pemprov telah mempersiapkan sejumlah solusi bagi penarik betor. Di antaranya dengan memberikan pelatihan kewirausahaan. Di mana hal tersebut telah dikoordinasikan sejumlah organisasi perangkat daerah. Sedangkan solusi lain yang dipersiapkan adalah menyediakan becak listrik khas Jogja. Prototipe becak listrik yang didesain Pemkot Jogja ini masih dikonsultasikan ke Kementerian Perhubungan. Bila disetujui, pemprov siap menyalurkannya kepada penarik betor. Dengan syarat pengemudi merupakan warga Jogja.
“Nanti sistem penyalurannya hibah atau seperti apa belum bisa diputuskan,” katanya.

Terkait kebijakan ini, Ketua PBMY Parmin tetap bersikukuh betor masih tetap bisa beroperasi setelah lebaran. Alasannya, lapangan kerja di Jogjakarta selama ini semakin sempit. Di sisi lain, ada sekitar dua ribu anggota PBMY yang menggantungkan hidupnya sebagai penarik betor.
“Kalau ada tawaran pelatihan keterampilan kita lihat nanti. Tapi yang terpenting kita diperbolehkan beroperasi,” pintanya.
Sementara itu, Kasubid Penegakkan Hukum Polda DIJ AKBP Heru Setiawan menegaskan, kelonggaran yang diberikan kepada pengemudi betor dengan catatan khusus.
“Tetap taati aturan lalu lintas. Apabila melanggar akan tetap ditindak,” tegasnya. (bhn/zam/mg1)