BERTOLAK dari gedung Jawa Pos di Graha Pena, Surabaya, penulis mengawali perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat dengan ziarah di makam Sunan Ampel. Perjalanan selanjutnya menuju Gresik, ziarah di kompleks makam Syech Maulana Malik Ibrahim.

Pagi itu, Jumat (5/8/2011) sekitar pukul 06.15, suasana kompleks lengang. Hanya ada dua peziarah berdoa di depan makam. Beberapa orang tampak tiduran di teras halaman tak jauh dari makam. ‘’Kalau bulan puasa memang sepi. Apalagi pagi hari.’’ ujar Subkhan warga Gresik usai berdoa di depan makam .

Syekh Malik Ibrahim biasa disebut Kakek Bantal. Sebab, sosok sangat sederhana itu selalu menggunakan alas bantal untuk menopang Alquran setiap mengajar atau mengaji.

Di bawah kuncup hanya ada tiga makam. Selain kuburan Syekh Maulana Malik Ibrahim juga ada makam istrinya, Siti Aminah, dan kerabatnya, Syekh Maulana Macfur.

Siapa sosok Syek Maulana Malik Ibrahim sebagai Mufti atau pimpinan Wali Sanga itu. Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan wali tertua dari sembilan wali atau Wali Sanga. Nama aslinya Makdum Ibrahim As-Samarkandy. Dia lahir di Samarkand, Asia Tengah pada awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.

Maulana Malik Ibrahim juga dikenal dengan sebutan Syekh Magribi. Dia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak seorang ulama Persia bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Champa (sekarang Kamboja, Red) selama tiga belas tahun sejak 1379. Dia menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya pada 1392 M.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah ditujunya kali pertama Desa Sembalo, masuk wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, daerah Leran, Kecamatan Manyar, sekitar sembilan kilometer utara Kota Gresik.

Aktivitas pertamanya membuka warung yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim menyediakan obat-obatan dan mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, dia pernah diundang mengobati istri raja Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Dia merangkul masyarakat bawah kasta dalam Hindu yang tersisihkan. Maka sempurnalah misi pertamanya, mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu sedang dilanda krisis dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M. Makamnya kini terdapat di Kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
Anak Buangan Pimpin Kerajaan Giri Kedaton

Ziarah dilanjutkan ke makam Sunan Giri yang masih berada . di Kota Gresik. Tepatnya di Desa Giri, Kebomas, Gresik. Lokasi makam Mochamad Ainoel Jakin Kanjeng Soenan Giri seperti tertulis di pintu makam berada di ketinggian bukit. Dikelilingi pohon besar seperti beringin berumur ratusan tahun.

Suasana sekitar makam cukup teduh. Untuk menuju lokasi makam pengunjung harus menapaki 75 anak tangga berundak.. Di sisi kiri kanan jalan berundak deretan kios berdiri.

Lokasi makam berada di perbukitan ditambah jalan menanjak membuat banyak peziarah memilih naik angkot atau ojek dari terminal. Apalagi, rombongan peziarah bus parkirnya jauh dari lokasi makam. ‘’Ongkosnya tidak mahal. Sekali naik ojek hanya Rp 4 ribu dari terminal menuju pelataran makam. Kalau sampai puncaknya tambah lagi Rp 5 ribu,’’ ujar Malikin, tukang ojek yang mangkal di depan makam.

Kata Malikin, sepekan sebelum bulan puasa peziarah membeludak mencapai ribuan. ‘’Kami panen saat itu. Sehari pengojek bisa mengantongi Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu ,’’ tambah pengojek yang sudah 10 tahun mangkal di situ. Padahal, tukang ojek yang beroperasi di sekitar makam Suna Giri ada 196 orang. Mereka berbagi tugas shift malam dan siang.

Siapakah Sunan Giri, salah seorang wali yang begitu kesohor sebagai pemimpin Islam saat itu? Dari berbagai sumber menyebutkan, Raden ‘Ainul Yaqin atau Raden Paku atau Sunan Giri merupakan putra Maulana Ishaq, seorang mubalig dari Asia Tengah yang menikah dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyung, sang penguasa wilayah Blambangan.

Kelahiran Raden Paku dianggap membawa petaka berupa wabah penyakit di wilayah Blambangan. Belakangan diketahui bahwa hal itu merupakan hasutan patih Blambangan kepada raja. Sebab, patih merasa terancam kehadiran Maulana Ishak, suami Sekardadu, karena banyak rakyat Blambangan masuk Islam.

Sehingga Dewi Sekardadu dipaksa ayahnya, Prabu Menak Sembuyung, membuang Raden Paku yang masih bayi. Dewi Sekardadu akhirnya membuang putranya ke Selat Bali.

Kemudian Raden Paku ditemukan awak kapal, yaitu Sabar dan Sobir. Bayi dibawa ke Gresik. Saat sampai di Gresik, Raden Paku diangkat menjadi anak saudagar kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, Sunan Giri saat itu dinamakan Joko Samudra, yang kini namanya diabadikan di Stadion milik Pemkab Gresik.

Ketika masa remaja, Joko Samudra diperintahkan ibunya berguru ke Sunan Ampel. Setelah lama mengajar Raden Paku, Sunan Ampel mengetahui siapa Joko Samudra sesungguhnya.

Joko Samudra bersama Sunan Bonang lantas dikirim ke Pasai untuk mendalami ajaran Islam. Setelah di Pasai, mereka diterima oleh Maulana Ishaq, yang tak lain ayah Joko sendiri. Di sinilah Joko Samudra mengetahui nama aslinya Raden Paku. Raden Paku juga mengetahui asal mula kenapa dia dibuang dari Blambangan.

Setelah tinggal di Pasai tiga tahun, Raden Paku dan Sunan Bonang diminta balik ke Jawa. Ayahnya memberikan bungkusan kain kecil berisi tanah. Ayah Raden Paku berpesan kepada anaknya agar membangun pesantren di Gresik dengan mencari tanah yang sama persis dengan tanah yang ada di bungkusan itu.

Akhirnya mereka berdua kembali ke tanah Jawa dan melaporkan semua pembelajaran kepada Sunan Ampel. Lalu Sunan Ampel memerintahkan Sunan Bonang berdakwah di Tuban, sedangkan Raden Paku diperintahkan pulang ke Gresik.

Sesampainya di Gresik, Raden Paku mendirikan sebuah pesantren. Raden Paku memulai perjalanannya mencari tempat cocok membangun pesantren sesuai pesan ayahnya. Setelah berjalan jauh, Raden Paku sampai di daerah sejuk yang membuat hatinya damai. Dia mencocokkan tanah yang dibawa dengan tanah di tempat itu. Ternyata cocok, sama persis. Kemudian Raden Paku mendirikan pesantren di Desa Sidomukti. Karena pesantren terletak di dataran tinggi, maka pesantren diberi nama Pesantren Giri. Giri sendiri bermakna sebagai gunung (dataran tinggi).

Berkat dukungan istri-istri Raden Paku dan ibunya, Pesantren Giri bisa terkenal sampai ke seluruh Nusantara hanya dalam waktu tiga tahun. Raden Paku memiliki dua orang istri, yaitu Dewi Murtasiha (putri Sunan Ampel) dan Dewi Wardah (putri Ki Ageng Bungkul).

Saking terkenalnya, Pesantren Giri memiliki banyak santri. Hal ini memudahkan Sunan Giri untuk berdakwah.

Sunan Giri berpengaruh besar bagi kerajaan Islam di Jawa maupun luar Jawa. Sunan Giri juga mendirikan kerajaan yang diberi nama Giri Kedaton. Giri Kedaton atau Kerajaan Giri bertahan selama 200 tahun. Setelah Sunan Giri meninggal, beliau digantikan keturunannya, yaitu :
Sunan Dalem
Sunan Sedomargi
Sunan Giri Prapen
Sunan Kawis Guwa
Panembahan Ageng Giri
Panembahan Mas Witana Sideng Rana
Pangeran Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri)
Pangeran Singosari

Pangeran Singosari ini berjuang keras mempertahankan Giri Kedaton dari serangan Sunan Amangkurat II yang dibantu VOC dan Kapten Jonker. Akhirnya perjuangan Pangeran Singosari membuahkan hasil. Sesudah pangeran Singosari wafat pada 1679 Masehi, kekuasaan Giri Kedaton berangsur kecil dan akhirnya hilang. Namun Sunan Giri tetap dikenang sebagai ulama besar Wali Sanga sepanjang masa.

Sunan Giri berdakwah melalui ceramah-ceramah di masyarakat dan Pesantren Giri. Beliau juga menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam melalui permainan tradisional anak-anak, seperti jelungan dan cublak suweng. (yog/bersambung)