JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyatakan Pancasila merupakan Rumah Kita.
Sebagai Rumah Kita, Pancasila bagai tempat berteduh.

“Seperti lirik lagu Franky Sahilatua, ‘Untuk cinta sesama’. Rumah berbagi gagasan, membangun asa, guna merajut masa depan,” kata HB X dalam orasi kebangsaan pada konser #PANCASILARUMAHKITA di Lapangan Pancasila UGM Jogjakarta (1/6).

Menurut HB X, tepat 1 Juni 1945 atau 73 tahun lalu Ir Soekarno membidani lahirnya Pancasila. Saat itu, bangsa Indonesia dalam proses “menjadi Indonesia.”

Dikatakan HB X, pada 18 Agustus 1945 Pancasila menjadi Rumah Kita. Itu sejak dikukuhkan dalam UUD 1945 sebagai dasar negara.

“Tapi kini, Rumah Kita lagi diterjang petaka dari manca, paham yang tak kita kenal. Terus digoyang agar lima tiang utamanya roboh menimpa kita semua,” ujarnya

Harmoni kehidupan, ujar HB X, bak warna-warninya bunga di tamansari dunia, diinjak-semena demi selfie bagi egoisme diri. Sungguh, tandasnya, awal sebuah kesedihan menuju perpecahan!

“Ia menggores jiwa, meretakkan sayap-sayap Garuda Pancasila,” tegasnya.

Figur yang menjadi raja Keraton Jogja tersebut juga menyinggung saat ini dimana rakyat bertanya mengapa bumi Nusantara ini terus diusik oleh mereka yang mendua hati. Kenapa Pancasila selalu disulut ancaman radikalisasi dan intoleransi.

“Bukankah kita dambakan harmoni, bukan antipati? Damai, bukannya bertikai?
Andaikan sejarah cermin rujukan, bukankah setiap kita, satu hati bagi NKRI?”

Kini, lanjut HB X, Ibu Pertiwi tercenung, merana, dan menangis seraya berdoa. Sebab, anak-anaknya larut dalam debat tak sehat. Terjebak pada greget-saut, bukannya suluk Ki Dalang yang menenteramkan hati dan menyejukkan nurani.

“Boedi Oetomo penyemai cita-cita, Soempah Pemoeda penegas bingkainya, Proklamasi tonggak perwujudannya, dan Pancasila pengikat yang menyatukan kita,” ungkapnya.

HB X juga menyatakan benar kata Bung Karno bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. “Dan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah bangsa kita,” tandasnya. (ila/amd/mg1)