Inset, relawan bencana mengevakuasi lansia di Balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. (JAUH HARI WS/RADAR JOGJA)

JOGJA – Setelah mengalami masa istirahat seminggu, Gunung Merapi kembali bergejolak. Gunung paling aktif di Indonesia itu terdeteksi mengalami erupsi freatik sebanyak tiga kali Jumat (1/6).

Getaran tanah dan suara gemuruh yang menyertai erupsi terjadi pukul 08.20 selama dua menit. Kejadian ini menimbulkan kolom asap setinggi enam ribu meter.

Kondisi ini hampir sama dengan erupsi pada Jumat (11/5) lalu yang terjadi pukul 07.40. Getaran tanah dan suara gemuruh terasa hingga sejauh lebih 20 kilometer dari puncak Merapi. Sedangkan erupsi kedua selama 1,5 menit terjadi pukul 20.24, dengan kolom asap setinggi 2.500 meter mengarah ke timur laut. Sementara erupsi ketiga berselang 36 menit kemudian. Terjadi selama 56 detik dan menimbulkan kolom asap setinggi seribu meter.

Berbeda dengan kejadian awal Mei lalu, erupsi freatik kemarin ditandai dengan gempa vulkanotektonik (VT) sehari sebelumnya. Gejala lainnya berupa gempa guguran 11 kali dan sekali gempa tektonik.

“Gempa VT terpantau lima kali. Ini menjadi indikasi proses magmatik berpengaruh pada letusan pagi ini (kemarin),” ujar Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta kemarin.

Meski ada indikasi magmatik, aktivitas ekstrusi (keluarnya magma ke permukaan) masih membutuhkan waktu cukup lama. “Karena posisi magma masih di bawah tiga kilometer,” lanjutnya.

Melihat kondisi tersebut, menurut Rudy, pemerintah masih punya cukup waktu untuk melakukan peringatan dini bagi masyarakat. Untuk status Merapi tetap di level waspada.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso menambahkan, dari berbagai literature kegunungapian, magma Merapi memiliki kekuatan naik 17-40 meter per hari. Kendati demikian, Agus menolak teori itu sebagai acuan menghitung ekstrusi magma. “Ekstruksi magma memang lebih lambat karena sifatnya yang kental,” jelasnya. Ekstruksi magma berbeda dengan kecepatan naiknya gas vulkanik yang menyebabkan letusan freatik. Atas dasar anaslisis tersebut BPPTKG memperkirakan letusan magmatik Merapi secara efusif atau lelehan.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) di Jrakah dan Babadan ada indikasi erupsi freatik kemarin menyebabkan terbakarnya vegetasi. Asap putih mengepul terpantau di area hutan sektor barat laut yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari puncak. “Namun soal kepastian penyebabnya (vegetasi terbakar, Red) masih kami lakukan verifikasi,” kata Agus.

Jika dilihat berdasarkan kesesuaian waktu, Agus menduga, terbakarnya vegetasi disebabkan material vulkanik yang terlontar. Hal ini merujuk erupsi freatik pada 2013. Ketika itu ada lontaran material sejauh 1 kilometer mengenai kawasan Pasar Bubar. Makanya, demi keamanan, radius tiga kilometer dari puncak dilarang untuk aktivitas masyarakat.

Sementara itu, tak kurang 148 warga Desa Glagaharjo, Cangkringan mengungsi di balai desa setempat tak seberapa lama setelah erupsi Merapi. Mereka berasal dari lima dusun, yakni Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Srunen, Singlar, dan Glagahmalang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang lantaran jarak permukiman masih dalam radius aman. Adapun desa terdekat dengan Merapi itu berjarak sekitar lima kilometer dari puncak. Joko meminta warga Glagaharjo untuk mengungsi jika setelah ada instruksi dari pemerintah. “Kasihan warga kalau harus bolak balik mengungsi,” katanya.

Dalam kesempatan itu Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun berpesan agar masyarakat lereng Merapi tetap beraktivitas seperti hari-hari biasa.

“Erupsi yang terjadi adalah freatik. Yang keluar bukan awan panas, melainkan debu vulkanik,” tuturnya kepada para pengungsi. “Yang penting waspada, prayitno, setiti, dan ati-ati,” imbuhnya.

Ibu hamil, lansia, dan anak-anak menjadi perhatian utama Muslimatun. Dia mewanti-wanti warga yang rentan terserang penyakit untuk selalu mengenakan masker untuk menangkal dampak abu vulkanik.

Tak lebih dua jam setelah mendapat pengarahan di Balai Desa Glagaharjo para pengungsi balik lagi ke rumah masing-masing pada pukul 10.39. “Sudah boleh pulang, nanti mengungsi kalau ada instruksi,” ungkap Karti, warga Kalitengah Kidul.

Meski beberapa warga kembali ke rumah, Sekdes Glagaharjo Agralno menyatakan tetap menerima siapa pun yang memilih bertahan di balai desa. Namun, Kades Glagaharjo Suroto memastikan hingga kemarin petang tak ada lagi warga yang bertahan dib alai desa. (pra/cr4/yog/mg1)

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)