IDE itu muncul awal Mei lalu. Erika mencetuskan gagasannya bersama Ardedika dan Anis Damayanti. Dua sejawat Erika ini mempunyai misi yang sama. Mereka bertakad nguri-uri budaya Jawa lewat tari klasik tradisional. Maka lahirnya komunitas tari kayon wirasamaga.

“Kami berlatih biasanya dua jam,” ungkap Erika saat disambangi Radar Jogja Kamis (31/5).

Setelah basa-basi tak berapa lama, Erika lantas bercerita awal mula berdirinya komunitas wirasamaga. Istilah ini mungkin agak asing bagi masyarakat. Terutama bagi mereka yang tak bergelut dengan dunia seni tari. Wirasamaga terdiri atas unsur wirasa, wirama, dan wiraga. Wirasa adalah hati atau perasan. Menari harus dengan sepenuh hati supaya semua gerakan tampak indah. Selanjutnya wirama. Artinya alunan gendhing (irama) gamelan. Sedangkan wiraga adalah perpaduan olah rasa dan irama.

“Implementasi kehidupan itu berpacu pada wirasamaga” jelas Erika yang didapuk sebagai ketua komunitas.

Sejak lama Erika punya keinginan membuat sanggar tari. Niat itu mulai terwujud ketika Erika didaulat menjadi duta Museum Wayang Kekayon. Predikat yang disandang itu membuat Erika lebih leluasa mengenalkan museum tersebut kepada masyarakat. Promosi museum ternyata lebih bernilai saat dikemas dengan tari-tarian. “Dengan tarian lebih ada daya tariknya bagi masyarakat,” ungkapnya.

Bagi Erika, komunitas yang dibentuknya itu bukan sekadar untuk menyatukan misi dan cita-cita bersama. Tapi menjadi wadah persaudaraan. “Semoga bisa berjalan dan bertahan lama,” harapnya.

Saat ini tak kurang 17 orang bergabung dalam komunitas kayon wirasamaga. Mereka berasal dari berbagai elemen. Ada mahasiswa, seniman, hingga ibu rumah tangga. Anis Damayanti, salah seorang di antaranya. Ibu empat anak itu mengaku mendapatkan pengelaman unik dengan menari. Bagi Anis menari ibarat menjalani terapi untuk melatih kesabaran. “Tari tradisional gerakannya lembut, sehingga saya bisa mengatur emosional diri,” ucapnya. (yog/mg1)