BEBERAPA hari ini suasana Jogja sempat sedikit memanas. Gara-garanya ada dua kelompok massa yang berniat menggelar aksi peringatan hari lahir Pancasila di Titik Nol Kilometer. Karena dikhwatirkan menimbulkan gesekan antarelemen, Polda DIJ merekomendasikan aksi digeser di tempat lain. Lepas dari persoalan itu, sebagian masyarakat Jogja memanfaatkan momentum Hari Pancasila dengan menggelar kegiatan budaya. “Kami gelar tirakatan karena ini sesuai tradisi di Jogja,” ungkap coordinator acara malam tirakatan Hari Lahir Pancasila Sigit Sugito Jumat (1/6).

Sudah jamak di wilayah Jogja acara budaya menjadi bagian peringatan hari-hari nasional tertentu. Seperti peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI atau Hari Jadi Kota Jogja, dan sejenisnya.

Acara budaya di malam tirakatan justru bisa menjadi sarana membumikan ajaran Pancasila. Kegiatan itu sekaligus untuk menghindarkan adanya kepentingan politik yang menunggani peringatan hari lahir Pancasila. “Di Jogja, Pancasila sejati masih berlaku. Yang jualan komoditas politik memanfaatkan Pancasila tidak laku,” tegasnya.

Lewat kegiatan budaya, yang diselipi orasi kebangsaan budayawan Jogja, Sigit berharap, Pancasila bisa lebih dikenal oleh generasi milenial. Sigit menilai, saat ini banyak generasi milenial gagap dengan Pancasila. Hal itu tak luput sebagai dampak perkembangan teknologi. Terlebih media sosial yang kerap mem-viral-kan ujaran kebencian. “Karena mereka tidak mengamalkan Pancasila,” ungkap Sigit.

Bagi Sigit, amalan Pancasila sangat tepat untuk upaya deradikalisasi. Jika seseorang berjiwa Pancasila, kata Sigit, tidak akan berbuat kerusakan. Tapi selalu menjaga hubungan baik dengan sesama.

“Makanya kami berharap malam tirakatan Hari Pancasila bisa dijadikan agenda rutin layaknya malam tirakatan 17 Agustus. Syukur bisa digelar serentak di kampung-kampung sebagai bentuk pengenalan Pancasila secara lebih luas,” tuturnya.

Di tempat lain, aliansi masyarakat Yogyakarta menggelar aksi peringatan hari lahir Pancasila di lapangan parkir barat Stadion Mandala Krida kemarin siang. Kegiatan itu sebagai respons sterilisasi kawasan Titik Nol Kilometer. Ribuan peserta aksi berikrar menjadikan Jogajakarta sebagai benteng Pancasila.

Menjelang sore aksi lebih semarak dengan berbagai kegiatan, seperti pembacaan teks Pancasila dan UUD 45, pentas tari budaya, orasi kebangsaan, serta pembacaan ikrar Jogja Benteng Pancasila.

“Jogjakarta merupakan representasi dari nilai-nilai Pancasila atas keberagaman yang ada,” ujar koordinator aliansi masyarakat Yogyakarta Imam Priyono.

“Keberagaman di DIJ tidak menimbulkan perpecahan. Itulah nilai-nilai Pancasila,” sambung mantan wakil Wali Kota Jogja itu.

Dalam aksi tersebut, para peserta aksi berikrar untuk setia menjaga, melestarikan, dan membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Serta berani melawan segala bentuk intoleransi, radikalisme, penyebaran hoax, dan fitnah yang menimbulkan perpecahan. (yog/mg1)