MENEMPUH perjalanan darat dari Surabaya menuju Makkah bukan hal mudah. Penulis bahkan pernah dicurigai sebagai mata-mata atau kurir narkoba saat berusaha mencari visa negara-negara muslim. Seperti saat penulis mengurus visa negara Iran di Kedubes Iran di Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), New Delhi (India), sampai Islamabad (Pakistan). Semua ditolak.

Mengurus lewat agen atau travel? Sama saja. Mereka menyerah kalau berhadapan dengan negara muslim. Penulis coba mengurus lewat agen atau travel sejak di Bangkok, Hanoi, Nepal, India, dan Pakistan. Mereka angkat tangan, tidak bisa menembus ketatnya pengurusan visa negara muslim tadi.

Ditambah waktu kedatangan jamaah haji di Arab kian mepet karena Jeddah segera ditutup dalam beberapa pekan ke depan seiring masuknya waktu berhaji. Maka, redaksi JP Surabaya dan penulis sepakat membelokkan rute haji darat dari Pakistan ke Oman, lalu masuk Saudi Arabia. Terbukti, itu bisa mengejar deadline yang ditetapkan Pemerintah Saudi Arabia terkait batas masuknya jamaah haji.

Alhamdulillah, penulis mendarat di Jeddah dari Muscat, Oman selang beberapa jam sebelum Bandara Jeddah ditutup untuk jamaah haji pada dini hari, 1 Nopember 2011.

Kembali ke persiapan Haji Nekat Lewat Jalur Darat, penulis juga dibekali telepon satelit yang ukurannya super jumbo dan berat. Karena tidak praktis dan tak terpakai, telepon satelit dibawa pulang kembali fotografer JP Mohamad Ali ke Indonesia dari Bangkok.

Penulis sendiri hanya melakukan persiapan seperlunya. Seperti liputan-liputan sebelumnya. Meski liputan hampir empat bulan lamanya, penulis hanya pamitan istri, anak, dan keluarga terdekat. Soal mental, sebagai wartawan harus siap liputan apa pun, di medan mana pun.

Tapi, sifat ‘’bonek’’ manajemen JP yang menganggap enteng soal kepengurusan visa dan menyerahkan kepada penulis mengurus sendiri sambil jalan di negara yang dilalui terbukti kemudian hari itu sangat merepotkan, menguras tenaga, pikiran, melelahkan. Bahkan membuat stres berat penulis. Penulis harus bolak balik mendatangi Kedubes Myanmar, India, Bangladesh, Pakistan, dan Iran.

Ada yang berhasil, namun sebagian gagal total. Bayangkan melewati 12 negara hanya visa Syria yang bisa diurus travel yang ditunjuk JP. Itu pun akhirnya tidak terpakai. Selain Syria saat itu bergejolak, rute harus diubah karena penulis harus mengejar mepetnya waktu masuk Makkah.

Hikmahnya, penulis jadi tahu liku-liku mengurus visa di negara lain. Meski sangat menguras tenaga, pikiran, dan membuat stres. Semua pikiran dan tenaga tercurah mengurus selembar tempelan visa mirip materai. Izin masuk ke negara lain alias visa sangat vital. Kalau tidak ada visa, perjalanan haji darat akan mandek. Masuk negara lain secara ilegal lewat jalan tikus mungkin bisa. Seperti dilakukan penulis saat masuk Afghanistan dari Pakistan 2001 silam. Tapi, untuk Haji Nekat Lewat Jalur Darat jelas tidak mungkin karena akan bermasalah di kemudian hari. Stempel keluar masuk imigrasi negara yang dilalui mutlak diperlukan. Kalau tidak, dianggap ilegal, bisa dideportasi, bahkan ditahan. Kalau itu terjadi, haji lewat jalur darat bisa runyam, bubar sebelum masuk Makkah. (*/yog/bersambung)