SLEMAN – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) Jogjakarta harus kerja ekstra keras terkait fluktuatifnya Gunung Merapi. Sempat menutup sejumlah kawasan wisata dari 22 Mei, Kamis (31/5) sempat dibuka kembali. Belum ada 24 jam TNGM kembali menutup pasca erupsi Jumat pagi tepatnya pukul 08.20.
Hal ini berdampak aktivitas perekonomian di kawasan Tlogo Putri. Sempat beroperasi karena kondisi semakin kondusif akhirnya terpaksa tutup lagi. Bahkan para pedagang sempat mengungsi ke Posko SAR Kaliurang saat terjadi erupsi.
“Tadi saya baru pulang dari pasar, baru sampai kios tahu-tahu dengar suara menggelegar. Suaranya mirip truk yang sedang bongkar muatan batu. Sempat lari sampai posko SAR Kaliurang tapi balik lagi karena langsung cerah,” jelas salah seorang pedagang kios Tlogo Muncar Susi Murniati, 36, Jumat (1/6).
Perempuan yang berjualan kaus dan makanan tradisional ini tidak menyangka Merapi erupsi lagi. Terlebih sepekan sempat tenang karena tidak ada aktivitas erupsi. Begitupula aktivitas di kawasan Tlogo Putri sempat pulih meski tidak seramai hari normal.
Malam hari sebelumnya (31/5) Susi mengaku sempat mendengar suara menggelegar. Setidaknya ada empat kali terdengar suara yang berasal dari puncak Gunung Merapi. Namun dia dan suaminya tak menyangka suara tersebut bagian dari aktivitas Gunung Merapi.
Sekembalinya dari posko, Susi dan suaminya langsung menata dagangan. Hal ini terpaksa dia lakukan karena telah mengolah sejumlag makanan. Susi juga sempat membantu kios tetangganya yang berjualan jadah tempe.
“Tidak ada hujan abu, hanya terbawa angin saja sampai sini. Kalau petugas TNGM tadi pagi ada yang berjaga. Tapi begitu terdengar dentuman langsung menyuruh untuk turun,” ujarnya.
Terkait penutupan objek wisata, ibu satu anak ini tidak bisa menolak. Terlebih alasan utama untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Meski begitu dia akan tetap berjualan walau tetap dengan kondisi waspada.
“Mau bagaimana lagi, sebentar lagi juga lebaran. Jadi ya tetap berjualan disini meski sepi,” katanya.
Uniknya meski terjadi aktivitas, beberapa pengunjung tetap nekat berkunjung. Salah satunya Muhammad Satari, 42, asal Blabag Magelang Jawa Tengah. Dia datang bersama dua anak dan istrinya menggunakan motor Honda Supra lawas.
Setibanya di Tlogo Muncar, dia tidak menyangka objek wisata tutup. Meski begitu Satari bersama anak-anaknya sempat naik hingga gerbang Tlogo Muncar. Untuk mengobati rasa kecewa dia sempat membeli jadah tempe sebagai buah tangan.
“Penasaran, tahu kalau erupsi tapi tidak tahu kalau ternyata objek wisatanya tutup. Berangkat dari rumah sekitar jam 13.15 langsung kesini. Setelah ini langsung pulang lewat Turi,” katanya. (dwi/ila/mg1)