RADARJOGJA.CO.ID – Jajaran Ditresnarkoba Pol-da DIJ berhasil membongkar jaringan tembakau gorila. Setidaknya dalam operasi kali ini berhasil menyita 1,45 kilogram tembakau gorila. Per kilogram narkotika golongan I ini memiliki no-minal hingga Rp 25 juta per kilogram.

Dirresnarkoba Polda DIJ Kombes Pol Wisnu Widarto mengungkapkan penang-kapan dilakukan di Pondok Helmoni Ringinsari Maguwoharjo Depok Sleman, 26 Mei. Ada tiga tersangka utama, Annas Kautsar, 27, selaku pemilik, sementara Ade Nugraha Wiradenata, 27, dan Dani Satya Prawira, 26, selaku kurir.

“Pemilik atas nama Annas ini meru-pakan kandidat S2 Psikolog sebuah PTS di Jogjakarta. Transaksi melalui sosial media yaitu instagram, termasuk mendapatkan barang. Barang dipesan dari seseorang di Jakarta,” kata Wisnu di Mapolda DIJ, kemarin (31/5).

Metode penjualan dengan menya-markan jenis produk. Tembakau go-rila berganti nama jadi Tembakau Ar juna saat dipasarkan. Begitu pula saat pengiriman, pelaku menyamarkan narkotika jenis baru ini menjadi suku cadang komputer.

Pengiriman tetap melalui agen pengi-riman formal. Tujuannya mengelabui jejak pemasaran terutama oleh kepo-lisian. Selanjutnya tembakau gorila dijual dalam kemasan 2,5 gram hing-ga 100 gram.

Dalam penangkapan ini disita pula sejumlah barang bukti lain. Di anta-ranya dua timbangan digital, satu gawai merk Xiaomi, alat penyemprot aroma dan satu alat pres plastik. Sementara tembakau gorila telah dibungkus da-lam berbagai ukuran sesuai pesanan.

“Harga per 100 gram Rp 5 juta kepa-da konsumen. Tersangka pemilik membeli dua kilogram sebelum dipe-cah jadi kemasan kecil. Sebagian sudah terjual ke pengguna. Ini yang masih kami lacak, pembeli dan penyuplai utamanya,” ujar Wisnu.

Ketiga tersangka juga memiliki mo-dus lainnya. Pondok Helmoni hanya sebagai tempat penyimpanan dan peracikan. Sementara pemilik Annas Kautsar justru menetap di Puri Niten Asri, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Para pelaku akan bergerak saat ada pesanan. Di sinilah peran tersangka Ade dan Dani sebagai kurir. Keduanya juga memiliki peran meracik dan menge-mas tembakau gorila. Pesanan diantar menggunakan agen kurir sesuai berat pesanan.

“Namanya jadi tembakau Arjuna, ini sekaligus sebagai merk. Pengakuan pelaku sudah berjualan sejak Febru-ari 2018. Selain di Jogjakarta juga di-edarkan di Malang, Semarang dan Bandung,” kata Wisnu.

Adanya alat semprot bukanlah untuk menyemprotkan cairan tembakui go-rila. Alat ini hanya digunakan sebagai pemberi rasa. Untuk cairan tembakau gorila, Wisnu memastikan belum ter-deteksi di Jogjakarta. Hanya saja timnya terus menyelidiki cairan narkotika ini.

“Sebenarnya hanya tembakau biasa tapi disemprot dengan cairan sehingga menimbulkan efek seperti memakai narkotika. Dijerat Pasal 114 ayat 2 atau pasal 112 ayat 2 UU RI 35/2009 tentang Narkotika jo Permenkes RI 42/2017 tentang Perubahan Penggolongan Nar-kotika,” ujar Wisnu. (dwi/iwa/ong)