Penulis terobsesi menulis ulang buku Haji Nekat Lewat Jalur Darat yakni, kumpulan tulisan berseri perjalanan Haji Lewat Darat yang pernah dimuat di Jawa Pos. Yang kemudian dibukukan JP Books Grup Maret 2012. Sebab, banyak informasi belum ditulis. Ditambah emosi, perasaan, pandangan penulis, terhadap berbagai hal dilalui selama perjalanan Haji Darat belum terungkap semua di buku. Penulis benar benar menulis pyur dari sisi jurnalistik-nya.

Yakni, fakta, kejadian apa saja selama perjalanan. Itu yang ditulis. Tanpa memasukan emosi, perasaan, opini, apalagi suasana batin penulis.

Kisah perjalanan haji nekat lewat jalur darat saya awali dari Surabaya pada 5 Agustus 2011. Masuk Makkah 1 Nopember 2011. Mengikuti prosesi haji sambil liputan selama di tanah suci hingga kembali ke Surabaya 26 Nopember 2011. Atau selama tiga bulan, 23 hari melintasi belasan negara. Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos , Kamboja, Vietnam, Tiongkok, Tibet, Nepal, India, Pakistan, Oman, kemudian masuk Saudi Arabia.

Penulis perlu membaca kembali klipingan koran Jawa Pos (JP) yang sudah dijilid, dibundel yang cukup tebal dalam tiga edisi: September, Oktober dan Nopember 2011. Secara berturut tutur sejak 5 September 2011, JP menerbitkan tulisan Haji Nekat Lewat Jalur Darat secara bersambung tanpa putus sampai 79 seri hingga 26 Nopember 2011. Oleh JPNN (Jawa Pos New Network) jaringan berita aneka perusahaan Jawa Pos Grup (JPG) tulisan Haji Nekat Lewat Jalur Darat dinilai sebagai tulisan terpanjang dalam sejarah JP. Penulis pun berhak mendapat hadiah Rp 25 juta.

Ide Haji Lewat Darat terlontar saat awak redaksi kongkow, ngobrol ringan saat dini hari usai deadline. Saat itu daftar tunggu haji atau waiting list dari Kemenag cukup panjang. Masing masing daerah berbeda. Jatim sendiri antara 9 sampai 10 tahun. Sangat lama. Adalah Agus Muttaqin (Agm) redaktur yang melontarkan gagasan perlunya JP memberangkatkan wartawan haji lewat jalur darat untuk menuliskan liku-likunya. Ide brilian disambut para redaktur termasuk Pimred JP saat itu, Leak Kustiya, kini ganti Kustiyo. Ide dibawa, dikonkretkan dalam rapat Kamisan berisi para kepala kompartemen JP. Ide Agm disetujui. Tulisan perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat setidaknya jadi oase bacaan calon haji yang harus menunggu bertahun-tahun.

Karena perjalanan haji darat tergolong berat, melintasi wilayah konflik Pakistan, Syria dan negara di Timur Tengah lainnya dibutuhkan wartawan berpengalaman. Konon Azrul Ananda saat itu menunjuk langsung penulis yang pernah liputan perang di Afghanistan 2001. Penulis dinilai cocok mengajak pembaca JP berkelana berbulan bulan karena tulisan diskripsinya cukup kuat.

Begitu Leak memberitahukan penulis mendapat tugas Haji Lewat Jalur Darat, tanpa ragu saya langsung mengiyakan. ‘’Ini tugas menantang. Sudah lama tidak liputan beginian (berat),’’ batin penulis. Liputan model beginian seperti halnya liputan di medan konflik. Selain berat secara fisik juga sangat beresiko. Tapi, itu yang membuat ketagihan. Makin berat, makin beresiko kian memicu andrenalin. Itu seninya jadi wartawan yang suka meliput di wilayah konflik.

Harus diakui, Leak saat itu paling semangat dalam persiapan. Sampai sampai membuat peta ASIA super besar. Dimana rute perjalanan haji darat dilakukan, lewat negara mana saja, kota mana saja yang dilalui. Semua tertera detail dalam grafis rute Haji Darat yang dipajang di foto di halaman depan JP. Meski akhirnya penulis tidak seluruhnya melewati rute yang direncanakan. Pertama, karena kesulitan mendapat visa Iran, ditambah mepetnya waktu maka rute dibelokan. Semula dijadwalkan dari Pakistan ke Iran terus ke Turki lalu disambung ke Syria lalu ke Yordania baru masuk Saudi Arabia.

Mencari visa di negara Islam atau muslim di luar Jakarta sulitnya minta ampun. Seperti visa negara Iran. Padahal, penulis sudah mengurus di Kedubes Iran di Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), New Delhi (India) sampai Islamabad (Pakistan). Semua ditolak. Mereka mempertanyakan mengapa tak diurus di Kedubes Iran di Jakarta. Tak hanya bisa Iran yang sulit didapat, visa negara muslim lainya Bangladesh juga sama sulitnya kalau mengurus di luar Jakarta. Begitu juga visa Pakistan meski akhirnya juga didapat Kedubes Pakistan di New Delhi, di India.

Sepertinya para staf Kedubes asing makin curiga begitu tahu penulis melakukan haji lewat jalur darat yang melintasi negara mereka. Itu hal tidak umum di mata mereka karena terlalu beresiko. ‘’Mengapa tidak naik pesawat?’’ begitu rata-rata tanya mereka.

Dari ungkapan, gestur staf Kedubes negara muslim tadi tebersit kecurigaan mereka pada penulis melakukan kegiatan mata mata atau dicurigai sebagai kurir narkoba. Dua profesi yang kerap dilakukan pelintas batas saat melewati negara lain lewat perbatasan darat. Bahkan seorang ibu wakil Dubes India semula tidak percaya kalau penulis wartawan. Sebab, katanya, dari potongan tubuh dan gesture penulis yang saat itu masih gemuk dan besar mirip petugas. ‘’Anda kalau masuk negaraku ya jelas saya curiga kalau Anda akan melakukan mata mata. Wong badan sampeyan begitu (kaya petugas) ,’’ kata Ibu wakil Dubes India tadi. Entah serius atau guyonan. Tapi mimiknya terlihat serius.

Padahal, penulis selama perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat sekali pun tidak pernah mengaku wartawan. Mengaku apa saja, pengusaha, pekerja seni, turis sampai memenuhi nazar haji darat. Bahkan status jurnalis dalam paspor sengaja dihapus. Makanya, penulis harus memperbaharui paspor lagi. Sebab, status jurnalis di negara tertentu seperti, negara junta militer maupun muslim kian menyulitkan. (*/yog/bersambung)