JOGJA – Pemerintah Srilanka akan melakukan kajian sejarah di Indonesia mengenai hubungan kedua negara di masa lampau. Nantinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ diminta terlibat dalam riset sejarah kerjasama antara dua negara tersebut.

Duta Besar Srilanka untuk Indonesia dan ASEAN Dharshana Perera mengatakan selain hubungan dengan Indonesia, negaranya memiliki hubungan erat di masa lalu dengan Jogjakarta. Hubungan erat terjalin dari masa Sriwijaya hingga Mataram.

“Ada koneksi yang tercipta antara Jogja dan Srilanka, khususnya pada masa Ratu Boko (Wangsa Sailendra),” kata Dharshana usai bertemu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X di Bangsal Kepatihan Rabu (30/5).

Dikatakan, antara Srilanka dan Indonesia memang ada kesepakatan melakukan riset bersama mengenai sejarah tersebut. Pihaknya meminta DIJ bisa bergabung menjalankan riset tersebut.

Pemilihan DIJ untuk bergabung dalam riset tersebut didasari kebudayaan dan intelektualitas di bidang sejarah yang cukup tinggi. Apalagi DIJ selama ini memiliki kampus UGM yang memiliki kajian dan riset sejarah mumpuni.

“Terkait hubungan di masa lalu tersebut, bisa juga kami kerjasama pendidikan dengan UGM,” kata Dharshana.

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Srilanka, juga disinggung terkait kebudayaan. Salah satunya mengenai Jogjakarta. Dharshana menilai Jogjakarta menjadi elemen penting dalam hubungan kedua negara.

HB X menyambut baik ajakan tersebut. Namun peran Jogjakarta dalam kerjasama tersebut seperti apa, HB X belum mengetahui secara detail.

“Manuskripnya seperti apa, saya belum tahu. Srilanka meminta Pemprov DIJ ikut mem-backup,” katanya.

Orang-orang Jawa yang tinggal di Srilanka masih membawa kebudayaan Jawa. Namun HB X tidak mengetahui jumlah masyarakat Jawa yang saat ini di negara Asia Selatan tersebut.

“Saya belum ke sana jadi ya nggak tahu,” kata HB X. (bhn/iwa/mg1)