DALAM kehidupan ini selalu ada orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Orang yang berada dalam keadaan itu biasanya akan kehilangan rasa takut, tidak gelisah, dan cenderung nekat, serta sulit untuk berkompromi. Kondisi itu tentu sangat disayangkan.

Ibarat sebuah truk dengan beban 25 ton hendak melintas di jembatan yang kapasitasnya hanya 1 ton, hasil akhirnya sangat mudah ditebak, yakni njeblos alias terpersok. Namun ketika truk itu bertahan dengan sikap tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka truk itu akan hilang rasa gelisahnya. Yang ada hanya keberanian untuk nekat melintasi jembatan.

Fenomena truk nekat ini bisa menjadi ilustrasi kondisi warga terdampak bandara yang sampai saat ini masih bertahan dan menolak direlokasi. Upaya pemerintah mengajak berdialog sejatinya hanya ingin menggeser sedikit pemahaman atas keputusan yang diambil dalam kondisi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu menjadi tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Orang mengambil keputusan dalam kondisi tahu bahwa dirinya tidak tahu tentu lebih mudah untuk diajak berbagi pendapat. Hati dan pikiannya bisa lebih jernih, karena terbuka dan mau menerima saran yang terbaik.

Kondisi tahu bahwa dirinya tidak tahu biasanya akan diikuti rasa gelisah, mau berpikir ulang atas keputusan yang telah diambil, laiknya truk yang mau menimbang keputusan ketika hendak melintasi jembatan dengan risiko terperosok ke dalam jurang. Dia masih mau menimbang, apakah bertahan dengan sikap pokoke itu bisa menyelesaikan masalah. Atau apakah dengan menerima masukan itu ada sisi baiknya. Lantas langkah apa yang harus ditempuh ketika menerima masukan, saran, dan program pemerintah. “Apa iya begitu?” masih muncul kegelisahan, yang larut ke belakang sebetulnya justru baik dan menjernihkan.

Saya hanya mendapat uang ganti rugi sedikit, anak saya dua dan tidak punya tanah lagi untuk ditempati, dia gelisah. Saat seseorang berada di titik itu, coba mencerna situasi secara jernih adalah langkah yang paling tepat. Karena tetap bertahan dengan sikap tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu dan tahunya adalah pokoke itu ruwet.

Orang yang terhijab hatinya untuk urusan dunia membuat harapan mandek (berhenti pada satu titik). Jangankan berhitung untuk kepentingan dan kemaslahatan orang banyak. Untuk kemaslahatan diri sendiri saja sudah sulit dan ruwet. Terhijab hatinya untuk urusan dunia (habluminanas) itu tidak pas. Terhijab hatinya itu untuk urusan keyakinan atau hubungan dengan Tuhan (habluminallah).

Sementara bertahan dalam posisi tidak tahu bawah dirinya tidak tahu membuat seseorang seperti katak dalam tempurung. Mentah dengan segala masukan. Mudah dipolitisasi oleh orang lain alias gampang dikompori. Maka, seperti truk nekat tadi, persetan dengan kelebihan beban. Maju terus meski dasar jurang telah menanti.

Dalam dunia perjudian ada istilah dolop (orang yang bertugas membersamai). Orang yang dalam kondisi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu rentan dengan fenomena dollop. Dia justru sangat senang dibersamai dolop. Sementara dolop memang tugasnya memprovokasi lawan untuk mau menjatuhkan taruhan sebanyak-banyaknya.

Dolop biasanya juga ikut pasang taruhan, namun hanya untuk memanas-manasi situasi. Tujuan akhir dolop hanyalah memantik keberanian lawan, sehingga hilang ragu dan gelisah untuk menjatuhkan taruhan di meja perjudian. Ironsinya, ketika mangsa justru senang dibersamai dan tidak tahu bahwa yang membersamainya adalah dolop, seperti truk kelebihan beban yang nekat saja melintasi jembatan tanpa tahu risiko masuk jurang itu tadi.

Dalam teori konspirasi, warga sebagai inti akan mudah dipengaruhi plasma (dolop) ketika terkungkung dengan pembenaran-pembenaran yang dibenarkan. Pertanyaannya, ketika dolop hanya berperan sebagai dolop, maka alangkah kasihan yang didolopi. Terebih yang didolopi memiliki kemampuan yang beragam. Ada yang mampu, ada juga yang tidak mampu secara mental dan finansial.

Fenomena truk nekat dan dolop inilah yang perlu dipahami. Bulan Ramadan tentu sangat pas untuk merefleksikan diri, bagaimana toh sejatinya. Adapun tugas pemerintah adalah mengulurkan tangan, menawarkan solusi yang terbaik. Nilai-nilai kemanusiaan juga ditempatkan dalam posisi yang sebaik-baiknya.

Legitimasi pemerintah adalah berjuang dan memikirkan warganya. Mencoba memenuhi semua hak-hak warga adalah keharusan. Ketika warga ini bertahan menjadi petani, pemerintah juga mendukung dan bahkan membantu melalui mekanisme yang benar. Untuk membeli lahan pertanian pengganti, uang ganti rugi yang cukup tinggi telah diberikan. Semua itu juga dilakukan dalam rangka menyelamatkan warganya.

Pemerintah juga tidak asal menggusur. Meskipun, secara regulasi, lahan sudah beralih hak menjadi milik negara untuk dibangun bandara. Dalam titik itu pun pemerintah tetap mengulurkan tangan, mencarikan alternatif relokasi magersari bagi warga yang memang kekurangan. Pemerintah juga menyewakan rumah. Serta melakukan upaya lain yang terbaik bagi warga.

Karena tugas pemerintah mengayomi warganya, maka sewajarnya jika warga dengan terbuka menyambut uluran tangan pemerintah serta mau diangkat dan dibantu untuk bangkit menatap masa depan yang lebih baik.(*/yog/mg1)