Masih segar dalam ingatan kita peristiwa bom gereja di Surabaya, empat hari menjelang Ramadan. Peristiwa itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan rasa duka yang mendalam, namun juga berpotensi mengguncang bingkai persaudaraan antarumat beragama yang selama ini senantiasa dijaga bersama.

Sebagai masyarakat yang dilahirkan melalui rahim keberagaman yang tidak mudah digoyahkan oleh isu-isu negatif dan senantiasa diajarkan untuk terus membina rasa persatuan dan kesatuan, sudah selayaknya kita semua kembali merekatkan serta memperkokoh kerukunan antarumat beragama.

Allah SWT berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)”.

Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa sebagai muslim yang baik dan taat, kita wajib membina tali persaudaraan, persatuan, dan kesatuan. Ramadhan kali ini dapat dijadikan momentum yang sangat tepat untuk terus memupuk persatuan dan kesatuan baik sesama umat Islam maupun antarumat beragama.

Dalam sejarah Islam pun, banyak momentum persatuan yang terjadi saat Ramadan. Sebut saja di antaranya pembebasan kota Makkah, pembebasan Andalusia, hingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia terjadi saat Ramadan.

persatuan dan kesatuan sesama umat muslim dapat senantiasa diwujudkan dalam kegiatan saling berbagi dan memberi kepada kelompok masyarakat muslim lain yang dirasa masih dalam keadaan kekurangan. Sedekah, buka bersama, sahur bersama, hingga zakat fitrah sudah sewajarnya menjadi bagian intensif dari rangkaian ibadah umat Islam selama Ramadan.

Upaya tersebut sejalan dengan landasan dalam Alquran yang berbunyi “Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, wa la ta’awaunu alal itsmi wal ‘udwan'” (Tolong menolonglah dalam hal kebajikan dan taqwa dan jangan tolong – menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran) (Al Maidah:2).

Memupuk rasa persatuan dan kesatuan pun tidak semata-mata hanya dilakukan kepada sesama umat muslim. Sebagai bangsa besar yang memiliki keberagaman etnis, suku, budaya, dan agama, sudah selayaknya umat Islam mampu bersinergi mewujudkan ukhuwah antar umat beragama. Sebagaimana disebut dalam Al Quran, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat/49:13)”.

Berdasarkan ayat tersebut jelas bagi kita umat Islam untuk senantiasa menjaga tali persaudaraan dan rasa persatuan antar umat beragama. Kegiatan dengan spirit toleransi yang senantiasa dilakukan, semisal aksi positif warga keturunan Tionghoa di Bojonegoro yang menyediakan makanan buka puasa gratis bagi umat muslim sekitar Klenteng Hok Swie Bio maupun aksi Jemaat GKJ Bekasi yang rutin membagikan ribuan paket makanan/takjil pada pengguna jalan maupun warga di sekitar.

Spirit toleransi dan sikap menghargai yang dilakuan oleh masyarakat non muslim, ditambah sikap terbuka dan respektif yang ditunjukkan oleh umat Islam menjadi pertanda positif bahwa semangat persatuan antar umat beragama di Indonesia masih dapat terjaga dengan sangat baik dan tidak mudah digoyahkan oleh siapa pun. (*/din/mg1)