JOGJA – Tembakau menjadi musuh bersama para pegiat kesehatan. Banyak ruang publik dijadikan lokasi yang steril dari asap rokok karena menjadi biang penyakit.

Namun, bertolak belakang, Kementerian Pertanian (Kementan) telah merilis manfaat tembakau sebagai obat. Demikian salah satu poin yang diangkat dalam unjuk rasa sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Kretek kemarin.

Aksi bertagar #terimakasihkretek tersebut digelar di Tugu Pal Putih Jogja. “Seharusnya pemerintah memerhatikan juga hak perokok,” kata koordinator aksi Jibal Windiaz.

Dia prihatin minimnya ruang merokok di ruang publik. “Di ruang publik juga ada hak perokok,” kilah Jibal.

Selain itu, kata dia, cukai hasil tembakau (CHT) juga dapat digunakan menambal defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Pemerintah mendapat pendapatan dari cukai rokok pada APBN 2017 sebesar Rp 149,9 triliun.

“Kontribusi tembakau yang sangat besar tersebut sering dipandang negatif. Bahkan diskriminasi terhadap tembakau semakin banyak,” kata Jibal.

Aksi tersebut, kata Jibal, sebagai bentuk penolakan Hari Anti Tembakau Sedunia. Ketua Komunitas Kretek Aditia Purnomo mengatakan selama ini perokok hanya dilihat dari sudut pandang konsumen yang konsumtif.

“Padahal cukai rokok yang berjumlah ratusan triliun tersebut merupakan sumbangan dari para perokok. “Cukai rokok sebesar Rp 5 triliun dipakai untuk menambal defisit angaran BPJS Kesehatan disumbang para perokok,” kata Aditia.

Dia pun berharap penyelenggara BPJS Kesehatan tidak mengambinghitamkan perokok. Dia ingin pemerintah membuat regulasi yang mengakomodir kepentingan kedua pihak. (cr4/iwa/mg1)