(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)aksi damai

Peringatan di JOGJA – Peringatan hari lahir Pancasila di Titik Nol Kilometer Jogja besok (1/6) dikhawatirkan bakal memanas. Sebab, ada dua kubu yang berbeda pandangan tentang pemerintah pusat bakal menggelar aksi serupa di tempat sama dengan waktu saling beririsan. Kedua kelompok tersebut sama-sama bakal mengerahkan massa dalam jumlah besar.

Adapun kelompok aksi bela bangsa yang mendorong adanya perubahan politik nasional berencana menggelar aksi bela bangsa sekitar pukul 15.30. Acara tersebut diperkirakan menyedot massa hingga lima ribu orang yang datang dari DIJ dan Jawa Tengah. Sementara kelompok lain yang mengatasnamakan aliansi masyarakat Yogyakarta bakal menggelar aksi Jogja banteng Pancasila pada pukul 14.00-16.00. Melibatkan elemen petani, akademisi, praktisi, rohaniawan, ulama, seniman, dan tokoh-tokoh masyarakat Jogjakarta yang jumlahnya diklaim mencapai puluhan ribu orang.

Guna mencegah gesekan antarkelompok, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mewanti-wanti agar peringatan hari lahir Pancasila dilaksanakan secara damai. “Ya saya kira nggak usah dikatakan. Damai ya pasti damai lha wong memperingati Pancasila kok. Tinggal bagaimana nanti karena aksi di jalan umum, saya minta hati-hati,” tutur HB X Rabu (30/5).

HB X meyakini, aksi tersebut tidak dituggangi kepentingan politik apa pun. Melainkan untuk kebersamaan, demi mempertahankan Pancasila. Kendati demikian, HB X meyatakan tidak akan hadir dalam perayaan hari lahir Pancasila di Titik Nol Kilometer. “Saya akan datang di acara yang di UGM (Universitas Gadjah Mada) saja,” katanya.

Terpisah, ketua panitia aksi bela bangsa Dwi Kuswantoro menjamin kondusivitas dan keamanan pelaksanaan aksi yang akan dipusatkan di Jalan Trikora (selatan Titik Nol Kilometer). Dia juga menggaransi pelaksanaan aksi secara damai. Bahkan, untuk menjaga ketertiban massa sudah disiapkan tenaga keamanan sebanyak 700 personel dan petugas kebersihan 300 orang. Dwi mengaku telah mengajukan pemberitahuan pelaksanaan aksi ke pihak berwajib. “Aksi kami berangkat dari religiusitas untuk melakukan perubahan melalui politik nasional,” ujarnya.

Dwi mengklaim, aksi bela bangsa murni dilakukan oleh masyarakat Jogjakarta yang mengingkan perubahan. Dia menampik tudingan jika aksi tersebut merupakan inisiatif tokoh-tokoh yang selama ini kontra pemerintah pusat, seperti Amies Rais dan Syukri Fadholi.

Menurut Dwi, Amien Rais justru tidak akan hadir dalam aksi tersebut. Dia menyebut, ketidakhadiran mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu bukan karena adanya perpecahan kelompok. “Pak Amien izin tidak bisa hadir karena yang bersangkutan sedang umrah,” katanya.

Sementara itu, ketua pelaksana aksi Jogja benteng Pancasila Imam Priyono mengatakan, gerakan yang digawanginya merupakan keinginan anggota aliansi masyarakat Yogyakarta untuk menjadikan Kota Jogja sebagai benteng Pancasila. Yakni dengan kebudayaan dan gotong royong yang menjadi karakter masyarakat. Makanya, aksi yang akan digelar bakal dimeriahkan pentas kesenian, seperti tari-tarian, salawatan oleh para santri, dan orasi kebangsaan.

“Yang namanya Pancasila itu petunjuk pelaksana teknisnya ada dalam Trisakti. Salah satunya, kita itu berkebudayaan,” jelasnya.

Menurut Imam, Jogja adalah kota yang mencerminkan miniatur Indonesia. Salah satunya ditunjukkan dengan datangnya banyak mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia, yang kemudian menetap di Jogja. Karena itu, Imam berharap, masyarakat tidak mudah terprovokasi gerakan yang mengatasnamakan kebangsaan, namun melemahkan arti Pancasila dan memecah belah bangsa. Sebagaimana aksi Bela Bangsa, Imam juga telah melayangkan surat pemberitahuan aksi ke pihak kepolisian. (bhn/cr3/yog/mg1)