Suciati

MASJID Suciati terus menjadi pembicaraan publik saat ini. Desainnya megah dan unik. Letaknya juga sangat strategis. Di Simpang Empat Jalan Gito Gati dan tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sleman. Berjarak tak lebih 500 meter ke arah timur dari Simpang Empat Denggung di Jalan Raya Magelang-Jogja. berdiri di tengah dekat dengan jantung kota Kabupaten Sleman.

Mendirikan sebuah masjid menjadi impian Suciati sejak puluhan tahun lalu. “Keinginan (mendirikan masjid, Red) muncul sejak 1995, sepulang ibadah haji. Wujud syukur atas berkah hidup yang saya dapatkan selama ini,” tutur perempuan 66 tahun itu.

Pelan tapi pasti Suciati mengumpulkan setiap rezeki yang dia peroleh. Masjid itu berdiri di atas tanah seluas 1.600 meter persegi. Konsep bangunannya mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi. Suciati juga memadukan ornamen khas Timur Tengah dan Jawa. Akulturasi indah ini tercermin dari seluruh ornamen yang melekat di bangunan masjid.

Memasuki serambi masjid tampak ornamen emas di pintu. Total ada sembilan pintu. Ini dimaknai sebagai simbol Wali Sanga yang memiliki andil dalam syiar Islam di Nusantara.

Empat menara menjulang tinggi mengelilingi kubah masjid. Dan satu menara utama berdiri di sisi selatan masjid. Lima menara ini simbol jumlah salat wajib bagi umat muslim.

“Kalau bangunan masjidnya mengadaptasi desain limasan khas Jawa. Karena saya lahir dan besar di Jawa,” ungkapnya.

Satu lagi ciri khas yang sangat lekat dengan Masjid Suciati adalah bedug. Alat yang biasa ditabuh sebagai tanda datangnya waktu salat itu terpasang di sisi selatan masjid, di samping kiri pintu masuk utama. Itu bukan bedug sembarangan karena dibuat dari kayu trembesi berusia 127 tahun yang didatangkan dari Majalengka. Dibuat oleh pengrajin asal Cirebon. Memiliki panjang 1,7 meter dan diameter 1,3 meter.

“Saat ini pembangunan masjid memang belum selesai, masih 80 persen. Targetnya Agustus tahun ini sudah selesai 100 persen,” kata perempuan kelahiran Jogjakarta, 20 Mei 1952 ini.

Suciati merupakan sosok pengusaha sukses yang benar-benar mengawali karir dari nol. Awalnya dia hanyalah seorang pedagang ayam di Pasar Terban, Jogja.

Semasa sekolah dia sudah bergelut dengan pengapnya pasar. Teringat awal mula membuka usaha hanya bermodalkan Rp 175. Uang ini dia dapatkan dari orang tuanya sebagai modal awal. Uang itu dibelikannya lima ekor ayam untuk dijual lagi.

“Saya ingat waktu itu masih duduk di bangku setara dengan kelas 2 SMP. Hanya lima ekor ayam yang saya bawa ke Pasar Terban. Dari keuntungan tersebut lalu dibelikan ayam lainnya dan mulai menabung,” kenang istri Saliman Riyanto Raharjo itu.

Saat itu Suciati sangat beruntung karena tak memiliki pesaing. Usahanya terus menunjukkan hasil positif. Selang waktu berjalan, hingga lulus SMP Suciati mampu menjual 15 ekor ayam per hari. Jumlah ini terus bertambah saat dia masuk bangku Sekolah Tinggi Menengah Kimia, Jetis, Jogja.

“Ayam sudah diembelih dan dibersihkan oleh bapak saya. Kalau berangkat ke pasar saya diantar ibu naik sepeda ontel,” tuturnya. Suciati biasa berangkat ke pasar pukul 06.00. Dia jualan selama satu jam. Selanjutnya berangkat ke sekolah. “Habis atau tidak habis saya berangkat ke sekolah. Kalau tidak habis saya jual ke ibu-ibu dosen UGM (Universitas Gadjah Mada),” lanjutnya.

Dari usaha jual ayam ini pula dia mengenal sang suami, Saliman. Alumnus UGM itu pun lantas memilih terjun di dunia perayaman bersama istri tercinta. Bersama sang suami, bisnis Suciati terus merangkak naik. Tidak hanya jumlah ayam yang dijual, namun juga teknik dan manajemen marketingnya.

Salah satunya adalah teknik promosi dengan selebaran. Suciati diajari oleh suaminya untuk membuat selebaran dan kartu nama. Selanjutnya dia sebarkan, atau diselipkan di dalam lembaran koran yang beredar di rumah-rumah.

“Juga berpegangan nasihat nenek saya, urip iku urup. Artinya memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama. Rezeki yang kita terima itu juga ada titipan kepada sesama yang membutuhkan,” tuturnya.

Pesan sang nenek benar-benar diterapkan oleh Suciati hingga saat ini. Setidaknya kini dia memiliki 1.300 karyawan dan dua pabrik pemotongan ayam. Satu pabrik berdekatan dengan masjid. Tepatnya di sisi timur seberang jalan. Pabrik lainnya berada di Jombang, Jawa Timur.

Kedua pabrik tersebut kini mampu memproduksi hingga 100 ton ayam potong setiap harinya. Dari ayam potong, Suciati pun merambah produk ayam olahan, separti nugget dan sosis.

“Alhamdulilah dari rezeki ini bisa mendirikan rumah ibadah. Bisa digunakan ibadah oleh umat semua daerah. Ke depan masih ada impian mendirikan rumah hafiz, pondok pesantren, sekolah muslim, dan taman religi,” katanya.(yog/mg1)