GERAKAN ini telah tiga tahun berjalan. Lapak Shodaqoh dibentuk pada Ramadan 2016. Animo masyarakat untuk saling berbagi lewat gerakan ini pun kian tinggi. Setidaknya setiap Ramadan. Selama bulan puasa Lapak Shodaqoh di Masjid Nurul Yaqin, Dusun Bandut Lor, Argorejo, Sedayu, Bantul tak pernah sepi dari makanan.

Ada beras, sayuran, lauk-pauk, bumbu dapur, hingga peralatan mandi. Bisa dibilang hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia. Selain bahan mentah, banyak juga makanan siap santap dan snack.

Lapak Shodaqoh tak bisa dilepaskan dari sosok Lungsi. Perempuan 50 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang daging ayam di Pasar Semampir, Sedayu. Dia salah seorang penggerak jamaah masjid setempat yang tak pernah henti menyosialisasikan keberadaan Lapak Shodaqoh.

“Sedekah itu sangat banyak manfaatnya,” ungkap Lungsi kepada Radar Jogja, Jumat (25/5).

Selain memperluas rezeki, lanjut Lungsi, dengan bersedekah masyarakat belajar ikhlas membantu sesama.

Lapak Shodaqoh menerapkan konsep dari jamaah untuk jamaah. Jadi, setiap jamaah bebas mengambil barang-barang yang tersedia sesuka hati secara gratis. “Jamaah yang sudah menyumbang juga boleh mengambil barang yang diperlukan,” jelasnya.

Sejauh ini Lapak Shodaqoh mampu menjadi sarana pemenuhan kebutuhan warga kurang mampu. Warga miskin pun bisa menikmati makanan enak.

“Yang tidak mampu beli sayur, bisa ambil sayur di Lapak Shodaqoh. Kalau yang mau ambil makanan ya tinggal ambil saja,” tutur Lungsi.

Semua komiditas di Lapak Shodaqoh dikumpulkan setelah asar. Remaja masjid bertugas merapikan barang-barang di meja yang sudah disediakan. Pengambilan barang atau makanan bisa dilakukan setelah Asar atau selepas salat Magrib. Ada juga jamaah yang mengambil kebutuhan di Lapak Shodaqoh usai tarawih. “Jika ada barang sisa disimpan dulu di almari, besoknya dikeluarkan lagi,” jelasnya.(yog/mg1)