JOGJA – Penambahan waktu libur Lebaran tahun ini ditengarai turut memicu lonjakan penumpang pesawat terbang dan kereta api.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Sapto Raharjo memprediksi, jumlah pemudik tujuan Jogjakarta dengan pesawat terbang meningkat hingga 11 persen dibanding Lebaran tahun lalu. Atau dari 666.075 penumpang menjadi 739.343. Para penumpang dilayani dengan 79 penerbangan reguler di Bandara Adisutjipto. Terdiri atas 73 penerbangan domestik dan enam internasional.

“Mudik dengan pesawat sekarang lebih terjangkau,” ujarnya Selasa (29/5).

Sedangkan pemudik dengan kereta api diperkirakan mencapai 491.590 penumpang. Atau naik 10 persen dibanding tahun lalu sebanyak 446.900 penumpang. Dikatakan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menyiapkan 14 armada tambahan. Yakni Argo Lawu 2 rangkaian, Argo Dwipangga (2), Taksaka (4), Lodaya (4), dan Mataram Premium jurusan Lempuyangan-Pasar Senen (2). Sementara kereta harian yang juga dioperasikan untuk angkutan Lebaran terdiri atas 19 KA reguler, 31 KA lokal, dan 7 KA barang.

Jumlah penumpang bus justru diperkirakan turun sekitar satu persen dari tahun lalu yang mencapai 667 ribu orang. “Ini karena pemudik banyak yang memilih pakai kendaraan pribadi,” paparnya.

Menurut Sigit, bus hanya jadi moda transportasi alternatif. Jika masyarakat kehabisantiket pesawat atau kereta api.

Terpisah, General Manager PT Angkasa Pura (AP) I Bandara Adisutjipto Agus Pandu Purnama mengatakan, sejauh ini ada 44 pengajuan extra flight dari tujuh maskapai untuk melayani arus mudik maupun balik. Dari jumlah tersebut 33 permohonan telah disetujui Kementerian Perhubungan.

Adapun extra flight Ramadan dijadwalkan pada 1-30 Juni. Dengan adanya penambahan penerbangan, jam operasional bandara juga diperpanjang. Mulai pukul 05.00 hingga 24.00.

Terkait Gunung Merapi yang masih berstatus waspada, menurut Agus, cukup berdampak pada lalu lintas udara. Apalagi dengan adanya extra flight yang membuat jadwal penerbangan semakin padat. Karena itu PT AP I rutin melakukan aorodrome observation di landasan udara, berkoordinasi dengan AirNav, dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.

“Abu vulkanik letusan Merapi harus dihindari karena berbahaya untuk mesin pesawat,” jelasnya.

Sementara itu, demi kenyamanan calon penumpang pesawat PT AP I telah meningkatkan kapasitas ruang tunggu terminal A dengan tambahan 250 kursi. Kendati demikian, Agus mengakui jumlah penumpang dan kapasitas gedung saat ini belum seimbang. (bhn/dwi/yog/mg1)