JOGJA- Pemkot Jogja mengusulkan pembangunan jembatan layang baru. Desakan ini menyusul polemik terkait rencana penutupan jalan perlintasan sebidang di bawah Jembatan Layang Lempuyangan. Langkah ini sebagai upaya mengurangi dampak kemacetan jika jalan di bawah jembatan layang ditutup.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengakui, usulan tersebut sudah disampaikan ke Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Usulan tersebut dapat direalisasikan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan rekomendasi dariKemenhub.

Jembatan layang yang dibangun juga harus didesain agar bisa memberikan akses bagi kendaraan ke seluruh arah. “Jika perlintasan sebidang tetap ditutup tanpa ada pengaturan manajemen lalu lintas atau jembatan layang baru, arus lalu lintas di Lempuyangan akan macet,” katanya, Selasa (29/5).

Mantan wartawan itu mengisahkan pda 1980-an, Jembatan Layang Lempuyangan ini dibangun untuk mengatasi kemacetan di wilayah tersebut. “Bukan untuk menggantikan jalan di bawahnya,” jelas dia.

Bagi Kota Jogja, ruas jalan di Lempuyangan baik di perlintasan sebidang maupun jembatan layang merupakan titik penting bagi arus lalu lintas di Kota Jogja bagian tengah yang menghubungkan Kota Jogja bagian dari utara dan selatan serta ke arah timur.

Hal itu sudah disampaikkan ke Kemenhub dan HP mengklaim Kemenhub bisa memahaminya. Termasuk dengan menunda realisasi rencana penutupan perlintasan sebidang di Lempuyangan tahun depan. “Saya kira pemerintah pusat memahami dan belum (ditutup) dalam waktu dekat,” terangnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Emanuel Ardi Prasetyo menjelaskan, permintaan Kemenhub untuk menutup semua pintu perlintasan, tidak hanya yang ada di bawahjembatanlayang. Di Kota Jogja saat ini terdapat tujuh perlintasan kereta yaitu di Jalan Ipda Tut Harsono, Jalan Mojo,Lempuyangan, Jalan Tukangan, Kleringan, Jlagran, dan Jalan HOS Tjokroaminoto.

Dua di antaranya di Kleringan dan Jlagran, sudah dibuatkan jalan underpass. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Jogja 2017-2022sudah disebutkan rencana pembangunanjembatanlayang di perlintasan kereta di Jalan HOS Tjokroaminoto dan Jalan Ipda Tut Harsono.

Dibanding rencana pembangunanjembatanlayang, politikus PDIP itu menyebut akan lebih baik membangun jalan underpass di bawah rel kereta api, seperti di Kleringan dan Jlagran. “Di Jlagran itu dulu dibuatkan jalan baru di bawah rel kereta api sekitar 1980-an,jalan yang lama masih ada di belakang kantor kecamatan Gedongtengen,” tuturnya.

Menurut dia, pembuatan jalan underpass dinilai lebih hemat, baik dalam anggaran pembiayaan maupun ongkos sosialnya. “Seperti di Jalan Ipda Tut Harsono jalanya maish bisa diperlebar,” tambahnya.(pra/din/mg1)